Cinta di Jantung Istana

Bloody Sheesh
Chapter #34

Bab 33

BAB 34

“Wangi sekali anak Mommy.”

Sudah berulang kali Avanthe mengendus ceruk leher Hope yang nyaris tak terlihat dan dia tidak akan pernah merasa bosan, sekalipun suara tawa putri kecilnya berujung pada nada putus asa. Hanya sesekali jemari mungil nan gemuk itu berusaha menangkap helai rambut yang pada akhirnya terlepas setelah Avanthe mendorong tubuh montok si bayi tinggi ke udara. 

Hope menatap, ke wajahnya. Senyum lebar, hingga pipi yang terlihat maju terlihat benar-benar ketat.

“Mengapa kau sangat menggemaskan sekali?” tanya Avanthe nyaris kepada diri sendiri. Hope tidak punya jawaban untuknya, selain tawa kecil ketika dia sekali lagi menghirup aroma tubuh si bayi.

“Apa Hope-Hope merindukan Shilom? Kita akan pegi menemuinya nanti setelah semua urusan ini selesai. Kakak Aceli juga akan senang jika diajak bertemu dengannya.”

Mengenai putri kecilnya yang lain. Tidak perlu ada yang Avanthe khawatirkan. Aceli sedang bermain bersama Ankrostera di taman istana. Gadis itu dengan mudah akrab, mungkin juga akan terjadi jika bertemu Shilom.

Sudut bibir Avanthe melekuk tipis. Mulai berpikir akan menyusul Aceli, membiarkan Hope ikut bermain dan dia akan mengawasi. Itu ide yang bagus. Segera membuatnya mendekap Hope, maka mereka siap melakukan perjalanan.

Hanya ... sesuatu yang tidak Avanthe sadari bahwa tiba-tiba Hores akan muncul dari balik pintu kamar. Penampilan pria tersebut tidak berbeda dari terakhir kali mereka berpisah. Mungkin sedikit perlu digambarkan kalau-kalau sudah tidak ada senjata apa pun di sana atau setidaknya perangkat tambahan yang merekat pada kain di tubuh Hores.

Sebelah alis Avanthe terangkat tidak mengerti. Hores kembali sendiri tanpa pasukan dan yang lain? Dia terus bertanya-tanya tetapi tidak akan dapat menahan diri lebih lama. Segera mendekat sambil membawa Hope dalam dekapannya.

Belum terungkap akan adanya percakapan. Mereka hanya melakukan kontak mata. Avanthe sedikit merasakan perbedaan. Atmosfer persis meningkat terjal. Namun, tidak ada petunjuk signifikan mengenai apa yang akan mereka hadapi atau penyampaian seperti apa yang kemungkinan menjadi gambaran, mengapa tiba-tiba Hores sudah berada di sini. 

“Kenapa kau kembali?” tanya Avanthe setelah mendeteksi pria itu tidak akan pernah memulai percakapan. Dia dengan hati-hati menyentuh lengan atas Hores. Spontanitas yang dilakukan pria di hadapannya meninggalkan kesan ganjil—sesuatu yang nyaris tak pernah Hores tunjukkan dan pria itu baru saja memperlihatkan suatu peringatan di antara mereka. Cukup membuat Avanthe melakukan kilas balik tentang pembicaraan bersama Ankrostera.

“Ada yang ingin beritahu kepadamu.” Dia melanjutkan dengan hati-hati. Melirik ke sekitar meski Hores tampaknya tidak tertarik terhadap apa pun saat ini, selain kebutuhan menatap si bayi dalam-dalam.

“Pinjam Hope sebentar.”

“Aku akan berikan Hope kepadamu, tapi—“

“Sebentar saja.”

Tak dimungkiri bahwa perbedaan Hores yang terlalu mencolok mulai mengusik perasaan Avanthe. Dia hanya tidak melakukan sesuatu lebih serius saat pria itu mengambil si bayi—tidak biasanya Hope menolak ayahnya, tetapi gadis kecil tersebut juga tak melulu berusaha ingin menyingkir. 

Sekarang, sebuah pemandangan yang membuat Hope selalu tampak kecil sudah semakin jelas. Avanthe tidak bisa mengatakan apa-apa selain terus menyaksikan Hores membawa Hope berjalan ke arah ranjang. Pria itu memilih duduk di pinggir kasur sembari memangku putri kecil mereka.

“Di mana Aceli?”

Lihat selengkapnya