[Anak ini akan selalu aman, asal kalian tidak mencariku. Tidak usah repot-repot. Aku yang akan datang nanti.]
Setelah pencarian cukup panjang, pada akhirnya mereka hanya menemukan selembar surat menyedihkan. Tidak ada yang dapat mereka lakukan jika ingin memastikan Hope baik-baik saja di tangan Margarheta Bell. Celakalah, wanita itu tidak akan pernah mau mengerti jika bayi yang murni tidak seharusnya terlibat dalam urusan penuh ambisi seperti ini.
Avanthe menatap lamat, nyaris mengepalkan tangan pada lembar surat berbahankan kulit lembu.
Nanti.
Dia akan menghadapi saat-saat di mana keadilan untuk putri kecilnya akan dibayar tunai. Desis kepercayaan diri Margarheta Bell harus dilenyapkan supaya wanita itu tidak lagi berpikir dapat menguasai Istana Bawah Tanah. Hal tersebut tidak akan pernah terjadi setelah pelbagai kejahatan, bahkan sikap licik dari masa lalu pun tidak akan bisa diampuni.
“Kaubilang ada yang ingin dibicarakan, Ava?”
Sambil mengerjap. Avanthe sedikit tersentak oleh kedatangan Hores secara mendadak. Pria di hadapannya tidak meninggalkan kesan apa pun. Dia bahkan tidak menyadari kapan Hores membuka pintu kamar dan sudah begitu dekat. Tubuh jangkung itu menjulang tinggi, tidak berusaha mengambil tindakan yang tersisa, seolah mengerti apa yang sebenarnya sedang Avanthe pikirkan.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk pinggir kasur agar Hores mengambil posisi duduk di sana. Mereka akan bersebelahan. Ini waktu yang tepat. Hores harus tahu saat kebetulan Ankrostera sedang diadili di ruang sidang istana.
Tidak ada satu pun hal buruk yang akan terjadi kepada wanita itu. Avanthe sudah memastikan bahwa setiap apa pun—keluar dari mulut Ankrostera akan memberi Raja Vanderox pengetahuan baru. Wanita itu sudah dia pilih untuk selalu mendampangi Aceli. Sang raja tentu tidak akan berusaha membuat cucunya merasa keberatan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Suara berat dan dalam Hores kembali mencuak ke permukaan, diliputi mata gelap yang menatap serius. Avanthe hampir tanpa sadar menipiskan bibir, tetapi memutuskan untuk menunduk sebentar sampai dia merasa yakin sekadar memulai.
“Tentang ibumu.”
Avanthe dapat mendengar sendiri bagaimana dia bicara nyaris terlalu getir. Geraman Hores juga tersirat cukup signifikan ketika pria itu—mungkin—membayangkan wajah Margarheta Bell sebagai bahan pembicaraan.