“Hores.”
Avanthe bergumam secara naluriah. Tidak tahu apakah Hores akan mendengar atau tidak. Dia sendiri merasa tegang. Berdebar. Semacam reaksi murni dari luapan cinta yang masih sama besar. Seburuk itu membayangkan mereka nyaris tak dapat bersama tetapi tidak ada yang dapat Avanthe lakukan atau sekadar benar-benar merangkak ke tepian untuk mendekati Hores.
Pria itulah yang perlahan, hampir tersaruk-saruk hingga melibatkan cipratan air ketika langkah lebarnya seperti tidak memiliki kesabaran sempurna. Tidak ada kesiapan di mana tiba-tiba Hores akan menarik tubuh Avanthe masuk ke dalam pelukan erat.
Tubuh pria itu bahkan terasa gemetar—sesuatu yang nyaris tak pernah terungkap begitu gamblang, tetapi tidak ada petunjuk mengapa semua itu berada dalam situasi berbeda. Avanthe tidak tahu mengapa semakin dia berusaha melepaskan diri, Hores justru bersikap tak bersedia mengurai sisa jarak di antara mereka, seakan-akan pria itu dapat melakukan secuil saja kesalahan dan tak ingin mengulangi hal tersebut lewat pelbagai macam alasan.
“Kau membuatku tidak bernapas, Hores.”
Hanya saat itu, secara ajaib Hores mengambil langkah mundur untuk menatap ke arahnya. Ada sekelebat ekspresi memuja. Namun, pada akhinya Hores selalu enggan menahan diri. Kembali menarik tubuh Avanthe ke dalam dekapan lembut, ya, kali ini sedikit lebih manusiawi. Sediki dengan pengendalian diri yang baik.
“Aku pikir kau akan pergi meninggalkan selama-lamanya.”
Hores bergumam terlalu getir. Terlalu sanggup membuat perasaan Avanthe tejerembab pada ulasan menyakitkan. Setakut itukah jika pria tersebut akan kembali kehilangan dirinya?
“Aku sudah di sini.”
Avanthe bicara dengan hati-hati. Berharap tidak meninggalkan kesan lebih buruk. Secara perlahan merambatkan ujung tangan pada helai rambut Hores yang gelap. Tekstur lembut segera menyambutnya. Dia tersenyum sambil menghirup aroma tubuh pria itu dalam-dalam. Perasaan lega datang melingkupi dan saat-saat tersebutlah mereka akhirnya mulai berjarak.
“Kau kembali ke tubuh asal-mu?” tanya Hores samar, seolah hal demikian adalah bagian paling sulit dipercaya.
Avanthe juga merasakan keajaiban serupa. Dia tak bisa mengomentari apa pun ketika tiba-tiba dunia seperti menjadi sesuatu yang baru. Terbangun dari tubuh yang diawetkan di dalam peti.
“Itu mungkin berkat kau. Darahmu tercium sangat pekat, dan juga darah Kingston. Aku menyayangi kalian berdua,” ucapnya, sedikit tak bisa menahan diri sekadar menangkup rahang kasar Hores.
“Di mana anak-anak?”
Avanthe menambahkan sambil melirik ke sekitar. Hanya mereka berdua. Kemudian, salah satu tangan Hores yang dingin segera menyentuh dan menggenggam erat di pergelangannya.
“Aku belum bertemu mereka sejak tadi.”
Sebelah alis Avanthe terangkat tinggi. Dia menelan ludah kasar, lalu bertanya, “Kenapa?”
“Aku tidak sanggup.”
“Tidak sanggup?”
“Ya. Aku tidak sanggup melihat mereka, karena itu akan membuatku mengingatmu.”
“Tapi aku sudah di sini.”
Lagi. Ibu jari Avanthe bergerak lembut sekadar mengusap sudut mulut Hores. Merasakan setiap tekstur yang selalu mengiurkan. Dia hampir terlalu memuja, hingga tak menyadari bahwa pria itu akan tiba-tiba merampas bibirnya. Memberi lumatan dalam; semacam luapan bentuk kepemilikan—ya, Hores sedang mengklaim properti. Melakukan penegasan sangat nyata untuk tidak menyelesaikannya dengan lembut, andai bukan Avanthe yang memilih beranjak.
“Kau mungkin akan melucuti seluruh pakaianku jika tidak kuhentikan.”