(Ekstra Part)
Cincin pernikahan baru saja tersemat di jari manis Avanthe. Rasanya hampir tak percaya jika pernahan ini adalah nyata, apalagi saat harus membayangkan bahwa hubungan bersama Hores nyaris benar-benar suatu bagian paling mustahil untuk diabadikan.
Mereka telah melewati pelbagai hal rumit, tetapi ini menjadi akhir paling mengesankan. Seperti berada pada taraf indah berbagi rasa dan sudah tidak ada lagi yang dipikirkan sekadar dihadapi. Mereka hanya perlu membesarkan anak-anak. Menikmati saat-aat ketika cinta masih begitu besar.
Sudah waktunya berciuman. Avanthe tahu bahwa dia dan Hores perlu menyiapkan diri ketika gemuruh tangan yang bertepuk penuh euforia, seakan mendorong mereka untuk menyelesaikan semua di sini.
Hores mulai mengusap lengan Avanthe secara perlahan. Pria itu tak pernah punya rasa malu-malu, tetapi segala sesuatu seolah hilang dalam sekejap. Seperti kemudian sayap semerah darah pekat itu mengepak dengan Hores segera menutupi separuh keberadaan mereka lewat rengkuhan hangat.
Sebuah ciuman manis langsung menyambut kebersamaan mereka. Avanthe merasakan setiap lumatan Hores selalu ditambahkan sentuhan lembut dan mendambakan. Pria itu mengerti untuk tidak bersikap rakus di tengah situasi seperti ini, sehingga mereka dengan cepat saling menatap.
Sudut bibir Avanthe berlekuk tipis sebelum akhirnya dia mengatakan sesuatu dengan nyaris berbisik, “Senang akhirnya kau bisa berdamai dengan dirimu sendiri, berdamai dari pengaruh wanita itu mengenai ketakutan terhadap ayahmu, dan ya ... kau juga berdamai bersama sayapmu. Ini cantik, Hores. Kau tidak seharusnya menyembunyikan dari siapa pun.”