Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #12

Jejak Dari Kepergianmu.

Di dalam kamar, Amara tidak benar-benar berjalan—ia seperti terseret oleh kegelisahannya sendiri. Langkahnya bolak-balik tanpa arah, ponsel di tangannya terasa semakin berat setiap detik. Berkali-kali ia membuka layar, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi.

Ia ingin mengirim pesan.

Tapi pada siapa, ia sudah tahu.

Dan justru itu yang membuatnya ragu.

Ia duduk di tepian ranjang, namun tubuhnya tak pernah benar-benar diam. Jemarinya menggenggam ponsel lebih erat, seolah berharap benda itu mengerti siapa yang sedang ia tunggu.

Ting.

Notifikasi masuk.

Dengan cepat ia membuka.

Bukan.

Wajahnya meredup, secepat harapan yang tadi sempat menyala. Ia tetap membalas, sekadar menjaga kesopanan, lalu kembali pada sunyi yang terasa semakin sempit.

Matanya beralih ke pintu.

Lagi.

Dan lagi.

Ada keinginan untuk keluar. Untuk “kebetulan” bertemu. Untuk sekadar mengucap—hati-hati. Tapi kakinya seperti tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Ting.

Layar kembali menyala.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Dunia seakan berhenti satu detik.

Senyum Amara merekah tanpa izin, tulus dan hangat… sebelum akhirnya ia tekan kembali, dilipat rapi di balik bibirnya yang berusaha tenang.

“Sudah mau tidur,” balasnya singkat.

Balasan datang cepat datang.

“Mmh, ya sudah. Selamat malam.”

Dan seketika itu juga—jatuh.

Bukan tubuhnya, tapi perasaannya.

Amara menatap layar lebih lama dari seharusnya. Otaknya berputar, mencari alasan, mencari celah, mencari apa pun agar percakapan itu tidak berhenti di sana.

Saat tanda online itu hilang, ia buru-buru mengetik.

“Memangnya kenapa?”

Begitu saja.

Tanpa pikir panjang.

Tanpa rencana.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Lalu…

“Ayo bertemu di luar.”

Jantungnya berdegup keras—terlalu keras untuk sekadar ajakan biasa.

“Mmh… baiklah. Kemarin aku sempat lihat toko cokelat di ujung jalan.”

“Pergilah lebih dulu, aku menyusul.”

Amara berdiri cepat, meraih mantel.

Jantungnya belum juga tenang.

Ia tahu ia tidak seharusnya seperti ini.

Tertarik pada pria yang lebih muda.

Menunggu pesan darinya.

Bahkan… berdebar hanya karena satu kalimat sederhana.

Memalukan.

Tapi tetap ia lakukan.

Ia keluar kamar.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya Dina.

“Anak-anak minta cokelat lagi,” jawabnya, seolah itu alasan satu-satunya.

Lihat selengkapnya