Amara membuka pintu rumah. Gema dan Dina masih duduk di ruang tamu. Gema yang baru saja membaca pesan di ponselnya langsung meletakkannya begitu saja.
“Jaga dia untukku.”
Ia tidak berminat membalasnya.
“Ada yang mau cokelat?” tanya Amara sambil ikut bergabung.
“Cewek suka banget sama cokelat, ya?” Gema membuka percakapan, meraih satu butir.
“Aku nggak, bikin jerawatan,” sahut Dina santai.
“Es krim suka?” Gema kembali bertanya.
“Suka dong,” jawab Dina cepat.
Gema sempat menghentikan gerakannya. “Besok aku ajak ke tempat es krim paling enak di sini.”
“Cuaca kayak gini?” timpal Amara.
“Kenapa? Di sini kami terbiasa, mau bersalju atau panas tetap jalan,” jawab Gema ringan, lalu menghela napas kecil. “Baiklah, kapan-kapan saja.”
Ia harus mengingat pesan sahabatnya tadi.
“Aku masuk ya,” ucap Amara.
Entah mengapa, kalimat pamit itu terdengar berbeda. Ditambah senyum malu-malu yang terlukis di wajah Amara, membuat Gema dan Dina saling pandang.
“Iya, Mbak,” jawab Dina.
Amara pun masuk ke dalam kamarnya.
Mulut Gema terasa gatal untuk bertanya. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Zidan.
“Apa yang kalian lakukan sampai dia tersipu begitu?”
Zidan tidak membalas. Hanya sebuah senyum tipis yang terlukis di wajahnya.
Di dalam kamar, Amara duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponselnya. Kali ini, ia tidak ragu.
“Kalau sudah sampai, kabari aku.”
Ia berguling di atas ranjang, seolah ribuan bunga bermekaran di dalam dadanya. Perasaan yang lama terkubur kini hadir tanpa permisi, mengisi setiap relung hati.
Tak lama, balasan datang.
“Iya.”
Disusul stiker seseorang yang terbaring di bawah selimut.
Amara tersenyum. Ia mengerti—Zidan memintanya beristirahat. Seperti anak kecil, ia menurut, menarik selimut hingga ke dada. Namun pikirannya terus berputar.
Apa lagi yang harus ia katakan?
Ah… ternyata ia lupa bagaimana caranya mendekati seseorang.
Ponselnya kembali berbunyi.
“Kenapa berhenti mengirim pesan?”
Senyumnya mengembang.