“Sudah di rumah?” tanya Zidan lewat pesan. Ia tahu Amara sudah sampai. Ia hafal jadwal keberangkatan dan kepulangan keretanya—pertanyaan itu hanya pembuka percakapan.
“Sudah.”
“Video call.”
“Mm… sebentar, aku pakai kerudung dulu.”
“Nggak usah. Di sini tidak ada siapa-siapa.”
Amara terdiam sesaat. Sepertinya ini kali pertama Zidan melihatnya tanpa penutup kepala. Tak lama, panggilan masuk. Dengan sedikit ragu dan malu, Amara mengangkatnya.
“Aku mau menunjukkan sesuatu.” Zidan membalik kamera.
Seketika Amara terpukau. Langit dipenuhi cahaya aurora yang menari—indah, berwarna, seolah hidup.
“Wah… indahnya.”
“Iya, memang indah.”
Keduanya sedang melihat hal yang sama, tapi merasakan hal yang berbeda. Amara terpaku pada aurora, sementara Zidan terpaku pada wajah perempuan itu.
“Tapi masih kalah indah,” sambung Zidan.
“Dari?” tanya Amara.
Bibir Zidan terangkat tipis.
“Zidan…” Amara mulai menangkap arah pembicaraan. “Mana kamu?” Ia menahan senyum. “Zii…” panggilnya lagi, sedikit salah tingkah, sadar mungkin sejak tadi Zidan memperhatikannya diam-diam.
“Kalah indah dari aslinya,” jawab Zidan santai.
“Oh…” Amara nyaris salah paham. Ternyata yang dibandingkan tetap langit itu—bukan dirinya.
“Aku suka,” kata Zidan.
“Aku juga suka,” balas Amara, matanya masih pada aurora.
“Sama kamu,” lanjut Zidan.
Hati Amara benar-benar luluh. Tadi dipermainkan, sekarang justru dibuat berdebar. Senyum yang sejak tadi ditahan akhirnya lepas begitu saja—dan sialnya, Zidan menikmati setiap perubahan ekspresi itu.
“Kamu itu ya… bisa banget bikin hati orang naik turun,” protes Amara, setengah kesal, setengah malu. Tapi nada bicaranya kini jauh lebih santai, seakan jarak di antara mereka mulai hilang.
Zidan terkekeh pelan.
“Aku mau lihat kamu,” pinta Amara.
Zidan mengembalikan kamera ke wajahnya. Kini mereka benar-benar saling menatap.
“Sebentar lagi musim panas. Siang bakal panjang, hampir nggak ada gelap. Tutup tirai kalau tidur. Pelembapnya dipakai biar kulit nggak kering. Gema sudah kasih tahu barang-barang yang perlu dibeli waktu pergantian musim, kan?”