Amara sedang mengangkat telpon ibunya di jam sebelum pulang kantor.
“Amara, teman ibu jadi datang?”
Amara masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Katanya jadi, Bu.”
“Ya sudah. Nanti gantian, kalau kamu ada waktu, berkunjung juga ke sana.”
“Iya, Bu. Paling nanti bawa teman, takut nyasar.”
“Iya, tidak apa-apa.”
“Bu, aku masih repot. Nanti kalau sudah di rumah aku telepon lagi ya.”
“Iya, hati-hati pulangnya.”
Panggilan berakhir.
Amara kembali fokus pada pekerjaannya, menyerahkan beberapa lembar berkas pada rekan kerjanya.
“Ini yang sudah selesai. Sisanya minta lagi pada Dina,” ucapnya pelan dalam bahasa Inggris.
“Baiklah. Kamu mau pulang sekarang?” tanya perempuan itu.
“Iya, aku sudah selesai.”
Ia berdiri. Tak lama, perempuan itu beralih pada Dina. Dian menyerahkan hal yang sama lantas berpamitan juga, lalu berjalan mendekati Amara.
Keduanya pun meninggalkan ruangan menuju stasiun.
Sepanjang perjalanan, Amara beberapa kali mengecek ponselnya. Tidak biasanya lelaki itu tidak mengirim pesan. Sedikit kecewa, ia berpikir mungkin Zidan sedang sibuk hari ini.
Ia masuk ke dalam stasiun, lalu naik ke kereta.
Jam pulang kantor membuat kereta cukup padat. Amara berdiri di dekat jendela. Kereta mulai bergerak.
Baru saja ia memikirkan Zidan, ponselnya berdering. Nama itu muncul di layar.
“Assalamualaikum,” salam Amara.
“Waalaikumsalam.”
“Sudah di kereta?” tanya Zidan.
“Sudah, tapi aku berdiri.”
Zidan tersenyum di seberang sana. Ia melirik ke arah kereta di sampingnya.
“Lihat ke kaca.”
“Mmhh…”
Amara mengalihkan pandangannya, menelusuri setiap jendela seolah mencari sesuatu.
“Sebelah sini.”
Amara menoleh ke depan. Dari seberang, di kereta lain, Zidan berdiri sambil menggenggam ponsel. Tatapan mereka bertemu.
“Ini belum dua minggu,” ucap Amara.
“Bos mengizinkan lebih cepat dari biasanya.”
Keduanya saling tersenyum. Ada rasa yang mengalir dalam diam, membuat mereka terpaku hingga kereta Zidan melaju lebih dulu.
Di halte depan rumah, Zidan sudah menunggu. Tak lama, Amara datang.
Dina yang melihat Zidan langsung mengerti.
“Aku duluan, Mbak,” kata Dina.
“Iya.”