PEJABAT TINGGI TERLIBAT KASUS KORUPSI, PUBLIK DIKEJUTKAN
Jakarta — Publik dikejutkan oleh terungkapnya kasus dugaan korupsi yang menyeret nama seorang pejabat tinggi di salah satu instansi pemerintah. Sosok yang selama ini dikenal berwibawa itu kini harus menghadapi proses hukum setelah terlibat dalam penyelidikan besar oleh aparat penegak hukum.
Kasus ini mencuat setelah ditemukan aliran dana mencurigakan yang diduga berasal dari proyek-proyek negara, dengan nilai mencapai puluhan miliar rupiah. Penyelidikan awal mengungkap adanya penyalahgunaan wewenang yang diduga telah berlangsung cukup lama.
Pihak berwenang menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan transparan dan tanpa pandang bulu.
“Kami memastikan semua pihak yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku,” ujar salah satu pejabat dalam konferensi pers.
“Ini… orang tua Zidan.” Suara itu terdengar pelan, namun cukup membuat Amara terdiam. “Kamu lupa? Ibumu pernah cerita… tentang mahasiswa yang semena-mena di kampus. Sampai ada satu siswa yang akhirnya keluar… dia itu Zidan.”
Ingatan Amara perlahan kembali.
Ibunya pernah bercerita—tentang seorang anak pejabat yang bersikap kasar hanya karena hal sepele. Tentang bagaimana ibunya mencoba menegur, tapi justru keadaan berbalik. Anak itu tetap menang… karena ia punya kuasa.
Dan sekarang, nama itu kembali hadir.
Zidan.
Amara menggeleng pelan. Hatinya menolak.
Tidak mungkin… bukan Zidan yang ia kenal sekarang.
Laki-laki dengan tatapan teduh, yang diam-diam selalu menjaga, yang penuh empati… tidak mungkin dulunya sekejam itu.
“Kalian harus segera pindah dari sini. Tante akan carikan rumah sewaan lain.”
“Tante…” Amara menahan langkah perempuan itu, suaranya melemah, penuh harap. “Tolong… jangan kasih tahu ibu dulu.”
Perempuan paruh baya itu menatapnya dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan.
“Kenapa? Memangnya ada apa?”
Amara terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
“Jangan bilang…” perempuan itu menghela napas panjang. “Kalian ada hubungan? Astaga, Amara…” Nada suaranya berubah, antara kaget dan kecewa. “Anak itu bukan anak baik-baik. Dia pembuli.”
Hati Amara terasa terhimpit.
Namun ia tetap menggeleng pelan.
“Dia sudah berubah, Tante.”
“Tidak ada orang jahat yang berubah begitu saja!” Suara itu meninggi, penuh emosi. “Kamu tahu? Tante anggap kamu seperti anak sendiri.”
“Aku tahu…” suara Amara hampir berbisik. “Tapi tolong… jangan bilang dulu ke ibu. Aku yakin… dia bukan Zidan yang dulu.”
“Kamu yakin dari mana?” tatapan perempuan itu kini penuh kekecewaan. Genggamannya perlahan terlepas dari tangan Amara.
Amara menarik napas dalam.
“Perusahaan di Finlandia tidak mungkin memperkerjakan orang yang tidak punya kualitas,” ucapnya pelan, tapi tegas.
Perempuan itu terdiam.
Ada jeda panjang yang menggantung di antara mereka.
“Tante tetap tidak percaya dia sudah berubah,” akhirnya ia berkata, lebih lirih, namun masih menyimpan keraguan. “Tante mau bicara langsung dengan dia.”
Sejenak, bayangan tadi kembali terlintas di benaknya—saat Zidan memberi salam.
Tatapannya… berbeda.
Lebih tenang. Lebih hangat.
Tidak ada lagi kesombongan yang dulu pernah ia lihat.
Seolah… waktu benar-benar telah mengubahnya.
Keduanya kembali keluar dari kamar.
Zidan masih di tempatnya. Tidak bergeming sedikit pun. Ia duduk santai di ruang tamu, gelas air putih di tangannya, seolah tidak ada apa-apa yang sedang terjadi.
Namun ketenangan itu hanya terlihat di permukaan.
Pikirannya tidak bisa dibohongi.
Jika Amara sudah tahu siapa dirinya dulu…
ia hanya tidak tahu, apakah tatapan itu masih akan sama.
Saat mata mereka bertemu, Zidan tetap menatapnya dengan tenang—tatapan teduh yang sama seperti biasanya.