Angin sejuk menyapu kulit Amara sesampainya di atas atap. Zidan sedikit membereskan barang-barang yang ada di sana. Terlihat ini bukan kali pertama ia naik ke tempat itu. Ada sofa usang di sudut—sepertinya ini tempat Zidan bersembunyi ketika dunianya sedang tidak baik-baik saja.
Amara melangkah mendekat pada Zidan yang masih merapikan, lalu Zidan berbalik. Keduanya saling berhadapan.
“Sering ke sini?” Amara melihat-lihat sekitar.
“Kalau lagi ingin sendiri… duduk.” Zidan menggenggam tangan Amara, mengajaknya duduk di sofa itu, tapi Amara masih berdiri. “Dingin? Aku hidupkan perapian?”
Ada tong besi kecil di sana.
“Nggak usah, matahari cukup.”
Zidan mengangguk. Dalam hatinya tersenyum—ini kali pertama ada perempuan yang tahu tempat persembunyiannya. Bahkan Gema tidak diizinkan datang jika bukan atas kehendaknya.
Zidan ikut duduk di sampingnya.
Keduanya masih diam beberapa saat, hanya menikmati hangatnya matahari.
Perlahan, tangan Zidan menggapai tangan Amara, pandangannya tetap lurus ke depan. Amara tersenyum tipis, membiarkan tangannya diraih, lalu diletakkan di paha Zidan. Ia bersandar ke sofa, kemudian sedikit menarik Amara agar ikut bersandar.
Amara ikut bersandar, sedikit memiringkan tubuhnya ke bahu Zidan. Atap yang melindungi keduanya semakin membuat nyaman, hingga tanpa sadar Amara semakin mendekat, merapatkan tubuhnya.
“Kalau aku tidur bagaimana?” tanyanya pelan.
Sambil membelai kepalanya, Zidan berkata, “Tidurlah.”
“Ada yang ingin kamu tanyakan padaku?”
Keduanya saling berhadapan.
“Mmh… kamu tahu aku bukan lagi anak gadis yang suka berkencan.”
Amara bingung menjelaskan maksudnya. Ia takut Zidan akan berpikir ia meminta untuk dinikahi.
“Aku serius padamu, dan aku tidak punya kekasih.”
Amara tersenyum kecil, lalu menunduk.
“Tidak usah terburu-buru. Kapan kamu siap, katakan padaku waktunya.”
“Hah?” Amara menatap Zidan dengan alis berkerut. “Maksudnya?”
“Kapan kamu ingin menikah?” kata Zidan.
“Zidan, tidak secepat itu. Kita belum saling mengenal.”
“Aku sudah cukup mengenal.” Tangannya merapikan rambut Amara yang tersapu angin.
Amara kembali tersenyum. “Bukankah cara melamar itu bertanya ‘apa kamu mau menikah denganku’?” Ia tersenyum kecil atas cara berpikir Zidan.
“Aku tidak akan bertanya. Aku menunggu kamu siap.”
Tatapan pria itu membius mata Amara. Ia terpaku, tersentuh oleh kejujuran itu.
“Aku anak satu-satunya. Seperti yang kamu tahu, ayahku terlibat kasus, sedangkan ibu sudah tiada sejak aku kecil. Di Jakarta hanya ada ibu tiri bersama adik tiriku. Katakan padaku apa yang ingin kamu tahu.” Zidan bergeser, duduk semakin menghadap Amara.
“Tidak banyak hal yang menarik dalam kehidupanku. Aku pernah mencari masalah di mana-mana dulu karena kesepian. Setelah semuanya habis, tidak ada satu orang pun di sampingku. Aku datang ke sini, bekerja paruh waktu sambil kuliah, sampai akhirnya mendapat pekerjaan yang sekarang. Tapi jangan takut, aku bisa membiayai kalian di sini.”
Amara membelai pipi lelaki itu. “Sekarang ada aku.”
Zidan terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu dalam—seolah menambal sesuatu yang sudah lama kosong di dalam dirinya. Tatapannya perlahan beralih pada Amara, mencoba memastikan… apakah ini nyata.
Jarak di antara mereka semakin dekat tanpa disadari.
Detik itu terasa lebih lambat.
Zidan mengangkat tangannya, ragu sesaat sebelum akhirnya menyentuh sisi wajah Amara, menggantikan jemari yang tadi membelai. Hangat.