Rasanya hari ini sudah cukup menenangkan. Amara bergerak perlahan dari bahu Zidan.
“Kita turun.”
Zidan mengangguk kecil, lalu berjalan menuju pintu besi dan membukanya. Kali ini ia yang lebih dulu turun, barulah ia menunggu Amara yang turun perlahan. Sebelum sampai ke anak tangga paling bawah, tangan Zidan sudah berada di pinggang Amara untuk membantunya.
Keduanya kembali berhadapan, sangat dekat dan rapat.
Gema keluar dari kamar membuat Amara langsung menjauh. Terlihat jelas Zidan kesal pada Gema. Sementara Gema hanya tersenyum tipis, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
“Kenapa harus di dalam rumah…” gumamnya pelan dari balik pintu.
Amara merasa tidak enak dipergoki sedekat itu.
“Aku ke kamar dulu.” Ia langsung berlari kecil masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Zidan menggaruk tengkuknya pelan.
Ia juga masuk ke dalam kamar, tapi hanya untuk mengambil laptop, setelah itu duduk di pantry.
“Apa sudah mau tidur?” tanyanya lewat pesan.
“Belum, aku mau mencuci baju,” jawab Amara.
Zidan melirik mesin cuci di depannya. “Mesin cuci kosong.”
Amara tersenyum, sempat menempelkan ponselnya ke bibir sebelum mengetik balasan. “Kebetulan.”
Ia segera berdiri dan membereskan semua baju yang akan dicuci.
Begitu membuka pintu, Zidan sudah ada di sana. Amara sedikit tersentak, lalu memukul lengannya pelan.
“Kamu suka banget di pintu.”
Zidan tersenyum, langsung meraih keranjang itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik lengan Amara menuju dapur.
Senyum kecil tidak lepas dari wajah Amara sampai mereka berada di depan mesin cuci.
Zidan berdiri di belakang Amara saat perempuan itu memasukkan bajunya. Setelah itu, Zidan menggenggam tangan Amara dan menekan tombol mesin cuci.
Keduanya diam.
Zidan masih di belakang Amara, hampir memeluk pinggangnya.
Ponsel Amara kembali berdering dari dalam kamar.
“Sebentar.”
Namun tangan Zidan tidak dilepaskan. Jadilah pria itu ikut masuk saat Amara menariknya.
Begitu melihat nomor yang tertera, meski tanpa nama, Amara tahu itu dari Hendra. Ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Zidan.
Perubahan wajahnya terlihat jelas. Dari santai, menjadi tegang.
Amara tidak ingin mengangkat panggilan itu. Ia hanya menatap layar ponselnya.
“Angkat,” kata Zidan.
“Nggak penting.”
Amara sudah ingin meletakkan ponselnya di meja, tapi Zidan menahannya. Ia menekan ikon hijau dan mengaktifkan pengeras suara.
“Susah sekali nelpon kamu, Bun.”
Suara itu terdengar jelas.
“Bunda, kita bicara. Tolong dijawab. Ibu ingin kita rujuk. Aku kasihan sama ibu dan anak-anak. Aku sudah jelaskan berkali-kali, aku nggak pernah macam-macam. Buktinya nggak ada sampai sekarang. Itu cuma perasaan bunda saja.”
Zidan menatap Amara. Ia bisa melihat kesedihan di mata perempuan itu—luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Kamu bilang aku harus gimana sekarang? Aku nggak pernah ngapain-ngapain. Mana suaranya… aku kangen.”
Nada suara Hendra justru terdengar menggoda.
Sekilas, mata Zidan berubah kesal.
Amara hendak mematikan panggilan. Namun seketika Zidan menariknya dan menciumnya.
Dalam.
“Halo?” suara di seberang terdengar bingung.