Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #20

Mengenalmu Lebih Dalam

Pagi itu Zidan sudah berada di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Saat mendengar pintu kamar Amara terbuka, senyum kecil terlukis di wajahnya. Amara berjalan menuju kamar mandi. Di sana ia menggosok gigi, mencuci wajah, lalu merapikan sedikit kerudungnya sebelum keluar.

“Sarapan?” tawar Zidan lembut.

Dengan malu-malu, Amara mendekat dan berdiri di depan meja pantry. Tangan Zidan terulur, menggenggam tangannya dengan hangat. Amara membalas dengan senyuman, keduanya saling menatap dengan tangan yang masih terjalin.

“Aku buatkan sarapan dulu,” ujar Zidan pelan. Ia mengecup ringan sisi tangan Amara sebelum melepaskannya, lalu kembali ke kompor.

Amara berdiri, memperhatikan setiap gerakan pria itu.

Zidan memanaskan wajan, menuangkan sedikit minyak dan mentega, lalu memecahkan telur. Api dikecilkan. Ia mengiris bawang putih, bawang merah, dan daun bawang, lalu menumisnya di sisi telur mata sapi. Aroma harum langsung memenuhi dapur.

Amara tersenyum melihat kepiawaian Zidan, meski hanya membuat telur sederhana.

Zidan menambahkan sedikit garam dan lada, menggerakkan wajan perlahan agar bawang matang merata. Tak lama, ia mengangkatnya dan meletakkannya di piring, bawang tumis disusun rapi di samping telur.

“Aku ambil nasi,” kata Amara, bangkit dari duduknya. Ia menyiapkan dua piring, masing-masing dengan nasi hangat.

Zidan lalu memindahkan telur ke atas nasi, menambahkan bawang di sampingnya. Wangi mentega dan bawang terasa begitu menggoda.

Amara tersenyum melihat hidangan itu. “Aku cicip ya.”

Zidan mengangguk.

Amara memotong telur perlahan, lalu menyuapnya. “Eh… enak,” ujarnya, matanya berbinar. Ia kembali mengambil suapan, kali ini dengan nasi dan bawang. Kepalanya sedikit bergoyang, menikmati rasa.

Zidan hanya memperhatikan, tersenyum kecil sambil ikut menyantap sarapannya.

Sederhana memang, tapi ketulusan yang terpancar dari setiap proses membuatnya terasa istimewa.

“Aku ada urusan hari ini… sampai besok,” kata Zidan kemudian.

“Mmh…” Amara mengangguk pelan, sedikit kecewa.

Zidan memutar sendoknya, tampak ragu. “Mau ikut?”

Amara mengangkat wajah. “Ikut?”

“Kita mungkin menginap di luar.”

Amara terdiam. Ia menunduk, seperti sedang menimbang sesuatu. Ada rasa ragu, tapi juga kepercayaan yang perlahan tumbuh.

Zidan menggaruk alisnya. “Gimana?”

Amara akhirnya mengangguk pelan. Kepercayaan itu ia serahkan sepenuhnya.

Zidan tersenyum, lalu mengusap belakang kepala Amara dengan lembut. “Setelah ini siap-siap, nggak usah bawa banyak barang.”

Amara mengangguk lagi, lalu segera menghabiskan sarapannya. Setelah itu, ia masuk ke kamar, mengambil beberapa pakaian dan alat rias. Ia sempat ragu, lalu mengintip keluar.

“Zi, perlu bawa sabun mandi?” tanyanya.

“Nggak usah. Baju sama riasan aja.”

“Mmm.” Amara mengangguk, lalu kembali ke dalam.

Tak lama kemudian, ia sudah siap. Ia keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Kerudung pashmina cokelat senada dengan baju dan mantel tipisnya membuatnya terlihat anggun.

“Cantik?” tanyanya, sedikit berputar.

Zidan tersenyum. “Cantik.” Ia mendekat dan memeluknya hangat. “Mau ditunjukin ke siapa sih?”

Dalam pelukannya, Amara menjawab pelan, “Kamu lah.”

Zidan mengeratkan pelukannya, menarik napas panjang seolah menemukan ketenangan. “Buat aku, kamu cantik setiap hari.”

Lihat selengkapnya