Yang dimaksud menginap di luar bukan yang seperti Amara bayangkan. Zidan membawanya ke tepian danau bersama pengunjung lain menikmati malam dengan cahaya lentera yang temaram. Angin berembus pelan, membawa dingin yang lembut. Zidan masih sibuk merapikan kursi penumpang, menyusunnya menjadi tempat berbaring sederhana.
“Kalau sudah ngantuk, bilang ya.”
Amara masih mengamati. “Kita tidur di sini?”
Zidan menoleh menatapnya lekat. “Mau di penginapan?” tanyanya, tangannya sudah hampir meraih ponsel untuk mencari penginapan yang kosong.
“Nggak, nggak, bukan gitu maksudnya…”
Zidan masih menunggu penjelasan Amara.
Amara justru kebingungan sendiri menjelaskan, lalu tersenyum malu.
Zidan mendekat, kedua tangannya menangkup lembut sisi wajah Amara yang mulai merona. “Apa yang kamu pikirkan?” suaranya rendah, ada nada gemas di dalamnya.
Amara tak mampu lagi menyembunyikan pikirannya.
Keheningan singkat menggantung di antara mereka, sebelum Zidan kembali menyelesaikan tempat tidurnya.
Amara memilih keluar lebih dulu. Malam di Finlandia tidak sepenuhnya gelap—seolah terang dan redup berjalan berdampingan dalam waktu yang sama.
Tak lama, Zidan menyusul dengan lentera di tangannya. Cahaya kecil itu menyala, menambah hangat suasana.
Di sekitar mereka, pasangan-pasangan lain menikmati malam dengan cara masing-masing. Ada yang sekadar duduk berbagi minuman hangat, ada yang berpelukan, bahkan ada yang seperti piknik kecil di tepi danau.
Zidan mengajak Amara ke sisi yang lebih sepi. Ia membentangkan alas, lalu mereka duduk berdampingan, bertumpu pada lengan masing-masing.
“Indah… langit malam di sini.”
Zidan tersenyum tipis. “Aku sering berpikir… kapan aku bisa melihat ini bersama seseorang.”
Amara menoleh. “Ini pertama kali?”
Ia mengangguk. “Katanya, di sini banyak orang membuat janji… untuk selamanya.”
Amara memutar tubuhnya, menatap Zidan lebih dalam. “Kalau begitu… kita juga berjanji untuk selamanya bersama.”
Zidan membalas dengan senyum lembut. “Yakin bisa menepatinya?” jemarinya menyentuh pelipis Amara dengan hati-hati. “Aku nggak mau janji itu malah membebanimu.”
Mata Amara mengembun. Ia menggeser duduknya, kini bersila tepat di depan Zidan. Tangannya terulur.
“Mana hatimu?”
Zidan ikut menegakkan posisi, membuka ruang di antara kedua kakinya agar Amara berada di dalam lingkarannya. Perempuan itu semakin merapat, seperti anak kecil yang mencari tempat pulang.
Dengan gerakan perlahan, Zidan seolah mengambil sesuatu dari dadanya—lalu meletakkannya di telapak tangan Amara.
Air mata jatuh tanpa suara.
Amara membawa “hati” itu, menempelkannya ke dadanya sendiri.
“Sekarang kamu sudah tidak punya hati, hatimu aku simpan,” bisiknya pelan. “Aku kunci… di sini.” Tangannya menekan dadanya. “Nggak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Hatimu ada bersamaku. Segel.”
Zidan tertawa pelan di antara haru yang menggenang.