Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #22

Tenang yang Dipaksakan.

Pagi itu kantor belum sepenuhnya ramai, tapi suara ketikan keyboard sudah terdengar bersahutan seperti hujan ringan di atas atap seng. Aroma kopi dari pantry menyusup pelan, bercampur dengan udara dingin dari AC yang membuat ruangan terasa sedikit kaku.

Amara duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan alis berkerut. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, seolah pikirannya tertinggal jauh dari pekerjaannya.

“Kenapa, Mbak?” suara Dina muncul dari sampingnya, membawa dua gelas kopi.

Amara melirik sekilas. “Deadline makin dekat, tapi ideku malah buntu.”

Dina meletakkan kopi di mejanya, lalu bersandar santai di kursi kosong. “Mbak kebanyakan mikir. Kadang yang sederhana justru yang paling kena.”

Amara tersenyum tipis, tapi matanya masih menyimpan beban. “Kalau sesederhana itu, aku nggak akan kelihatan panik kayak gini.”

Di sudut lain ruangan, suara tawa kecil terdengar. Beberapa rekan kerja sedang membicarakan hal ringan, kontras dengan ketegangan yang menggantung di meja Amara.

Dina menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Mbak tahu nggak, yang bikin kerjaan berat itu bukan pekerjaannya… tapi tekanan dari diri sendiri.”

Amara terdiam. Kata-kata itu seperti menyentuh sesuatu yang selama ini ia tahan.

Ia menarik napas panjang, lalu meneguk kopinya. Hangatnya menyebar perlahan, menenangkan.

“Ya sudah,” katanya akhirnya, jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. “Aku mulai dari yang kecil dulu.”

Dina tersenyum tipis. “Nah, gitu Mbak.”

Lampu-lampu kantor semakin terang seiring waktu berjalan, suara aktivitas makin padat. Tapi di antara semua kesibukan itu, ada satu meja yang perlahan kembali menemukan ritmenya.

Saat lengang dari aktivitas, Amara membuka ponselnya. Tidak lama ponsel itu berdering, panggilan dari ibunya.

“Iya, Bu.” Amara sedikit bergerak dari duduknya.

“Cari waktu, ibu mau ke sana sekalian memenuhi undangan Siska. Sebenarnya undangannya sudah lama semenjak dia pindah ke sana, sekarang kebetulan kamu ada di sana sekalian saja ibu berkunjung. Ini juga Hendra sudah ada waktu luang, tinggal dicocokkan jadwal ibu ke sana.”

Amara memijat pelipisnya. “Anak-anak dibawa saja, Bu. Jangan dititipkan.”

“Anak-anak belum punya paspor, lama kalo mau urus itu dulu. Ibu juga nggak lama, paling dua tiga hari, ya?”

Mau bagaimana lagi, ibunya terus meminta ke sini. “Iya, Bu. Nanti di rumah dibicarakan lagi, ya.”

Panggilan diakhiri. Dina yang ada di sebelah kembali bertanya. “Kenapa, Mbak?”

Amara menoleh. “Ibu aku mau ke sini.”

Lihat selengkapnya