Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #23

Aku Nenyimpanmu Bukan Menyembunyikan.

Selesai bicara, Amara melihat Zidan yang masih di tempatnya.

“Ibu mau ke sini.”

Zidan masih menyimak.

“Saran dari Tante Siska agar hubungan kita disembunyikan dulu.”

Barulah Zidan bergerak maju lalu jongkok di depan Amara, membelai pelipisnya dengan hangat. Jejak kesedihan terlihat dari tatapan Amara padanya.

“Mau kamu gimana?” Bagi Zidan, keputusan perempuan itu yang akan dipilihnya.

Ada tarikan napas halus dari Amara.

“Bagaimana kalau kita ikuti dulu saran Tante Siska.”

Dengan senyuman, Zidan mengangguk, meski dalam hatinya kecewa. Namun sebisa mungkin Amara tidak tahu isi hatinya.

“Ya udah, nanti bisa pelan-pelan kasih tahu Ibu. Udah, jangan sedih lagi.”

Amara tersenyum simpul lalu memeluk Zidan.

“Nanti secepatnya pasti kasih tahu Ibu.”

Zidan mengusap punggung Amara.

“Istirahat dulu, nanti makan,” katanya lalu melepaskan pelukan.

Amara menangkup kedua pipi pria itu.

“Kadang aku suka mikir kamu tuh kayak lebih dewasa dari aku.”

Amara kembali memeluknya.

“Terima kasih sudah ada.” Ia semakin merekatkan pelukannya.

“Istirahat dulu.” Zidan menepuk pelan punggung Amara.

Lalu Amara melepaskan dekapannya dan mengangguk. Sebelum keluar, Zidan membelai sekilas pelipis Amara lagi. Perempuan itu terlihat menikmati, tampak dari caranya memejamkan mata.

Zidan berdiri hendak keluar. Saat ia hendak berbalik, refleks Amara menarik ujung bajunya. Zidan kembali diam, melihat jari Amara yang menahannya. Perempuan itu berdiri lagi lalu berhambur memeluknya.

Zidan tersenyum tipis, membalas pelukan. Tubuhnya sedikit membungkuk guna menyeimbangkan tinggi Amara.

“Masih mau ditemani?” Kaki Zidan sengaja menutup pintu sedikit. Ia tidak mau dari luar terlihat mereka sedang berpelukan.

Amara menggeleng.

“Aku belum mandi,” katanya manja.

Zidan kembali tersenyum, membelai lagi kepala perempuan itu. Tadi hatinya masih bergemuruh, tidak terima keputusan Amara menyembunyikan hubungan ini. Kini dipeluk perempuan itu, seketika gemuruh di dadanya menghilang.

*

Ibu Amara dan Hendra memperhatikan kedua anak itu saat bermain di permainan anak. Hendra kembali melihat Ibu Amara.

“Saya juga niat ke sana, Bu, tapi waktunya nggak ada. Sekalian pendekatan lagi. Kalau di sini dia ada saja alasannya untuk diajak pergi berdua.”

“Iya, pelan-pelan. Namanya perempuan, egois. Pura-pura kuat, tapi Ibu yakin dia itu sering sedih sendiri, cuma nggak mau orang lain tahu.”

“Tapi Amara memang nggak lagi dekat sama siapa-siapa kan, Bu?” tanya Hendra.

“Tidak kalau itu. Ibu tahu lah kalau dia sedang dekat sama siapa. Ini tidak ada kok.”

Hendra tersenyum dalam hati.

Lihat selengkapnya