Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #24

Jejak yang Belum Usai.

“Apa kabar, Bu?” sapa Zidan dengan hormat, berniat bersalaman.

Maharani diam saja. Ia masih menatap Zidan, lalu beralih pada Amara. “Di mana kamarmu?” tanyanya.

“Sebelah sini, Bu.” Amara membawa ibunya menuju kamar, sempat melirik Zidan sebelum berlalu.

Zidan tetap diam di tempat. Tangan yang sempat terulur perlahan ditarik kembali.

Begitu sampai di dalam kamar, Maharani langsung bertanya, “Kenapa kamu nggak bilang satu kos sama dia?” Tangannya sampai bergetar.

Amara mendekat. “Tenang, Bu. Nggak apa-apa. Dia yang bantu aku dari awal sampai ke sini.”

Maharani membelalakkan mata, jelas tak percaya. “Kamu tahu siapa dia? Dulu sudah pernah Ibu ceritakan, bagaimana sikapnya di kampus.”

“Iya, Bu, aku tahu. Tapi sekarang dia sudah berubah.”

“Kamu jangan sampai ketipu. Cari tempat lain! Apalagi sekarang dia tahu kamu anak Ibu, bisa saja dia balas dendam.”

“Bu… dia nggak jahat. Dulu itu kesalahan.”

“Kamu kenapa terus membela dia? Ibu nggak peduli sebaik apa dia sekarang. Kamu harus menjauh! Ibu tahu bagaimana kelakuannya dulu. Pindah dari sini!”

“Iya, Bu. Tapi nggak bisa secepat itu. Aku harus cari tempat yang dekat kantor dan sewanya nggak mahal. Soalnya tempat dari kantor itu nggak nyaman buat aku dan Dina.”

Maharani terdiam.

“Ibu istirahat dulu ya, aku ambil minum.”

Amara keluar dari kamar. Di dapur, Zidan sudah ada, seolah siap membantu jika Amara membutuhkan sesuatu.

Tatapan Zidan yang tulus justru membuat Amara merasa bersalah atas sikap ibunya. Entah Zidan tadi mendengar percakapan mereka atau tidak.

Keduanya sempat terdiam. Pikiran masing-masing bercampur, sementara tatapan mereka saling bertaut.

Zidan lebih dulu tersenyum tipis.

Amara membalasnya. “Aku mau ambil minum buat Ibu.”

Amara melangkah ke dapur. Zidan mengambil gelas dan memberikannya. Saat tangan mereka bersentuhan, keduanya kembali saling menatap. Tak ada kata.

Amara menuangkan air ke dalam gelas.

Saat hendak pergi, tangannya sempat digenggam Zidan—tidak menahan, hanya menyentuh. Amara pun tetap berlalu.

“Tante…”

Dina baru masuk, tetapi rumah terasa sepi.

Ia melihat Zidan.

Zidan mengangguk kecil, mengarahkan pandangannya ke kamar Amara.

Dina mengerti. Ia langsung menuju kamar Amara, meski sempat heran melihat Zidan yang tampak muram.

Tok… tok…

“Mbak.”

Amara membuka pintu.

Dina langsung melihat Maharani. “Tante!” sapanya, lalu mencium tangan dan memeluknya hangat.

“Apa kabar, Dina?”

Lihat selengkapnya