Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #25

Tanggung Jawab yang Ingin Diberikan Zidan.

Zidan sedang di dalam kamarnya, memasukkan baju ke dalam ransel saat Amara melewati kamarnya. Ia terhenti di sana. Zidan menoleh.

“Masuk,” katanya meminta.

Amara menunjuk tulisan yang tergantung di pintu. “Dilarang masuk.”

Zidan langsung maju, melepas gantungan itu, lalu menarik tangan Amara untuk masuk dan menutup pintu. Ia membawa Amara ke dalam pangkuannya.

Amara sedikit terkejut dengan sikap Zidan yang tiba-tiba memangkunya.

Alih-alih bicara, Zidan malah menyandarkan kepalanya pada Amara. Ia langsung membelai rambutnya.

“Dua minggu ini aku pergi. Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Aku pasti datang,” katanya sambil menyandarkan kepalanya pada dada Amara.

“Oh, dadakan?” Entah mengapa Amara merasakan kesedihan dari ucapan Zidan barusan. Ia terus membelai rambut lelaki itu penuh kasih.

“Mm.” Zidan semakin merapatkan pelukannya pada Amara dalam pangkuannya. “Soal kepindahan, aku tidak akan mengizinkan pindah kalau tempat itu menurutku tidak layak.” Zidan lebih berharap tidak akan pernah ada tempat yang layak, meskipun ia tetap membantu dengan ketulusan.

Di sini Amara mulai menyadari, Zidan bukan sekadar pria yang datang lalu jatuh cinta, tapi ia datang dengan mulai mengambil tanggung jawabnya sebagai pasangan.

Amara menangkup kedua pipi Zidan, menggoyangkannya sesaat. “Iya, sayang. Aku ikuti aturan kamu,” katanya tulus sambil saling bertatapan.

Seketika sorot mata Zidan berubah. Amara langsung sedikit menggeser wajahnya, tapi ditahan Zidan untuk kembali pada jarak yang intens seperti tadi.

“Kita mau berpisah dua minggu,” katanya.

Amara diam.

“Lalu?”

Bibir pria itu hendak mendekat, masih tertahan di ambang bibir Amara.

Bunyi ponsel menghentikan gerakan Zidan.

Amara langsung turun dari pangkuan Zidan lalu menjauh. Ia memejamkan mata, menenangkan rasa yang tadi singgah, lalu mengenyahkan semuanya, harus kembali berkonsentrasi pada ponselnya.

“Iya, Bu.”

Membelakangi Zidan, ia menjawab telepon ibunya.

Dari belakang, tangan Zidan menyentuh pinggangnya. Amara menggigit bibirnya, merasakan pelukan Zidan, tapi harus tetap tenang menghadapi ibunya. Ia membiarkan Zidan mendekapnya rapat, bahkan menempelkan dagunya di pundaknya.

Lihat selengkapnya