Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #26

Semakin Dalam Rasa Rindu.

Sudah mau keluar dari kamar, Amara kembali memasang gantungan di pintu.

“Aku aja yang boleh masuk.”

Zidan hanya tersenyum melihat tingkah perempuan itu, lalu tangannya ditarik Amara untuk keluar kamar. Pintu dikunci, lalu Zidan memberikan kuncinya.

“Kamu bebas masuk ke sana kapan saja.”

Kunci itu Zidan letakkan di telapak tangan Amara. Amara menerimanya dengan senyuman, lalu mengantarnya keluar. Selepas mengantar Zidan, Amara kembali ke dalam rumah, bukan ke kamarnya melainkan ke kamar Zidan.

Harum milik Zidan masih ada di kamar ini, seakan ia masih berada di sini, dan itu menenangkan bagi Amara.

Setelah mendapat izin dari pemilik kamar, kini ia lebih berani memperhatikan isi kamar itu dengan lebih teliti. Barang-barangnya tidak terlalu banyak. Sepertinya Zidan tipe pria yang tidak suka memiliki terlalu banyak barang.

Tempat tidur single, meja belajar kecil dengan banyak buku di atasnya, beberapa penghargaan, juga foto-foto. Amara melihatnya satu demi satu.

Ia duduk di ujung ranjang. Rasa rindu hadir, ia tersenyum untuk dirinya sendiri. Perasaannya sudah tumbuh sedalam ini.

Lembaran foto kembali dibukanya. Ada Zidan saat kecil bersama keluarganya. Amara melihatnya sesaat. Ia membuka lembaran baru, ada juga foto seorang wanita dewasa yang berbeda, tapi hanya sendirian.

“Ini ibunya,” kata Amara pelan. Ia semakin memperhatikannya dengan teliti.

Amara menggeser tubuhnya, naik ke atas ranjang lalu berbaring di tepinya, memejamkan mata, dan tertidur meringkuk di sana.

Zidan datang ke rumah temannya, dan Sasyi juga ada di sana. Zidan meletakkan tasnya di sofa.

“Aku sudah bilang tidak ada kamar kosong, dia memaksa tidur di sofa,” temannya menunjuk Zidan.

Sasyi melihatnya datar.

“Di rumahku ada kamar kosong.”

“Tidak usah,” kata Zidan.

“Kamu mau mati kedinginan tidur di sofa?”

Zidan mengangkat kembali tasnya.

“Aku cari hotel.”

“Eh, kita bawa masuk sofanya ke dalam kamarku.” temannya menengahi.

Sasyi tidak suka sikap Zidan yang terus menolaknya. Ia berdiri.

“Kenapa kamu sampai pergi dari rumah, padahal tidak ada jadwal ke mana pun?” Sialnya, Sasyi satu kantor dengan Zidan, jadi tahu kegiatannya. “Paling tidak terima kebaikanku.”

“Hanya untuk malam ini, besok aku ke hel,” kata Zidan.

Teman yang lain kembali menengahi.

“Sudah, sudah. Makan, makan.”

Di tengah meja banyak camilan. Zidan ikut bergabung. Pundaknya dirangkul temannya, sedangkan Sasyi masih berdiri melihatnya dengan jengkel. Dulu keduanya sangat dekat sebagai sahabat, tapi lama-kelamaan perasaan Sasyi berubah pada Zidan.

Sampai saat ini, Zidan masih menganggapnya sebagai teman.

“Duduk.” Tangan Sasyi ditarik sahabatnya untuk ikut duduk dekat Zidan. Zidan tetap saja cuek.

Mereka kembali berbincang santai sambil menikmati camilan. Mata Sasyi sesekali terus melirik Zidan.

Sofa benar-benar dibawa masuk. Zidan berbaring di sana dengan ponselnya.

Di kamar, ia berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.

Lihat selengkapnya