Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #27

Menemui Zidan.

Sudah sejak tadi Maharani curi-curi pandang pada keadaan rumah yang tampak sepi. Hanya ada Dina di rumah.

“Dua teman kamu ke mana?” tanyanya.

Amara diam-diam tersenyum dalam hati. Janji Tante Siska tidak bohong, ia akan membantu melembutkan hati ibunya.

“Gema nggak tahu, Bu. Kalau Zidan, katanya kemarin pamit ada pekerjaan dua minggu.”

“Kerjanya bukan di sini, toh?”

“Kantornya di sini, Bu…”

“Bu, istirahat dulu,” ujar Amara pelan.

Maharani bergegas masuk ke dalam kamar Amara. Sedangkan Amara tersenyum. Baguslah, ibunya mulai menghindari dan tidak lagi memojokkan Zidan.

Saat Siska datang, ketiganya pergi ke rumah yang ditawarkan Siska. Di jalan, Amara mengirim pesan pada Zidan.

“Aku pergi sama Ibu lihat rumah itu.”

Zidan membuka pesannya. Wajahnya terlihat pucat, lalu ia batuk-batuk.

“Iya, hati-hati,” balasnya singkat. Ia kembali berbaring.

Setelah menginap di rumah temannya, ia kembali ke rumah di Hel. Tubuhnya mulai tidak enak. Ia masuk ke dalam selimut, lalu meringkuk sendirian.

Amara melihat pesan Zidan. Hanya sedikit.

Amara menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya.

Biasanya Zidan akan membalas panjang, bahkan sekadar menceritakan hal kecil. Tapi kali ini… hanya dua kata.

“Iya, hati-hati.”

Ada yang terasa berbeda.

“Kenapa ya…” gumam Amara pelan.

Mobil terus melaju, tapi pikirannya tertinggal pada satu nama.

Zidan.

Di sisi lain, Zidan mencoba memejamkan mata. Tubuhnya terasa berat, napasnya hangat seperti terbakar dari dalam. Batuknya kembali pecah, membuat dadanya terasa sesak.

Ia meraih ponselnya lagi. Nama Amara masih di layar.

Lihat selengkapnya