Alarm berbunyi. Amara terusik, tapi enggan membuka matanya. Zidan perlahan meraih ponsel di nakas dekat tempat tidur. Gerakan itu membuat Amara terbangun, ditambah ia merasakan tangan Zidan masih berada di bawah kepalanya.
Tatapan keduanya bertemu. Amara langsung menyamping, malu terlihat wajah bangun tidurnya.
“Tanganmu semalaman di sini?” tanyanya sambil menggeser tangan Zidan dari kepalanya.
“Semalaman tidurmu tidak tenang.”
Amara masih menyamping, enggan memperlihatkan wajahnya. “Aku ke kamar mandi dulu.” Ia segera bangun membawa alat mandinya. Di dalam, ia mencuci wajah yang terasa memerah, lalu tersenyum sendiri di depan cermin. Pacaran macam apa ini?
Selesai membersihkan diri, ia kembali dengan pakaian rapi. Zidan sudah membuatkan secangkir teh.
“Kerjaannya masih lama?” tanya Amara.
“Sebentar lagi. Kapan ibumu pulang?”
“Besok.” Amara menyeruput tehnya.
Zidan tampak ragu. “Bagaimana Finlandia?”
“Ya, menyenangkan. Selain cuaca yang sedikit merepotkan, mungkin karena belum terbiasa,” tutur Amara.
Zidan mengangguk. “Kalau tinggal di sini bagaimana menurutmu?”
“Belum terpikirkan. Pasti sangat repot. Biaya hidup di sini mahal, belum lagi harus membagi dengan kebutuhan si kembar di Jakarta.”
“Kalau mereka ikut ke sini, bukankah akan lebih mudah?”
Amara tertawa kecil. “Sepertinya tidak bisa. Ibu selalu bersama kami.”
“Ibumu ikut juga.”
“Itu lebih tidak mungkin.”
Zidan terdiam, terlihat berpikir.
“Kenapa?” tanya Amara.
Ia hanya menggeleng, lalu membelai dahi Amara. “Habiskan sarapannya. Aku antar.”
Amara pikir ia hanya diantar ke stasiun, ternyata Zidan ikut menaiki kereta bersamanya. Ia menyandarkan kepala di bahu Zidan sambil membalas pesan. Zidan juga melakukan hal yang sama.
“Kamu di mana? Rumah kosong. Hanya ada ibu-ibu tua.”
Zidan langsung menegakkan duduknya.
Amara ikut bangun dari kenyamanannya. “Kenapa?” tanyanya.
“Sasyi di rumah.”
“Terus gimana?” Amara terlihat cemas.