Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #30

Kepulangan Zidan.

Bandara. Pengumuman keberangkatan terdengar. Orang-orang lalu lalang.

Waktu kepulangan Maharani, diantar Amara dan Siska, kedua teman lama itu berpelukan cukup lama, sedangkan Amara hanya berdiri melihat dengan senyuman hangat. Tangannya menggenggam gagang koper ibunya.

“Perasaan baru kemarin datang, sekarang sudah mau pulang lagi,” ujar Siska.

“Ya, begitulah. Waktu cepat berlalu. Apalagi kita ini sudah tua, sudah waktunya rehat bareng cucu. Sayangnya kamu jauh.”

“Yah… mau bagaimana lagi.”

“Aku berangkat. Titip Amara.” Keduanya kembali berpelukan.

“Iya, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai Jakarta, kabari kami.”

Amara juga memeluk ibunya, mengusap punggungnya. “Hati-hati ya, Bu.”

“Kamu juga. Jaga diri, jaga kesehatan.” Maharani mencium dahi Amara, lalu keduanya berpelukan lagi.

Maharani mulai menarik koper menuju pintu masuk. Sebelum benar-benar pergi, ia melambaikan tangan lagi.

“Makasih ya, Tante.” Amara mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Sudah bantu saya.”

“Sama-sama.” Siska memeluk Amara. “Tante doakan hubungan kalian lancar, tidak ada halangan yang berarti. Kalau nanti kamu butuh Tante bicara lagi sama ibumu, Tante siap. Karena dilihat-lihat, Zidan sudah banyak berubah.”

Amara sedikit memperlihatkan keheranannya.

“Dia tidak cerita?”

Amara semakin kebingungan.

“Dua hari yang lalu menantu Tante ke Hel bawa mobil sendiri. Di jalan mobilnya pecah ban, lalu ada yang membantu memasangkan.”

*

Saat pagi hari itu, Zidan kembali ke Hel dengan taksi karena di rumah temannya ada Sasyi. Di perjalanan, ia melihat seorang wanita yang sedang kesulitan membuka ban depannya yang bocor. Ia meminta sopir taksi untuk menepi, lalu mendekati menantu Bu Siska.

Dengan bahasa Inggris ia berkata, “Sepertinya Anda kesulitan. Boleh saya bantu?”

“Oh, terima kasih. Ya, saya sangat kesulitan membuka sendiri.”

Zidan sigap langsung membantu membuka dan mengganti ban itu.

“Sepertinya kamu dari Asia, benar?”

Zidan melihat perempuan itu, sedangkan tangannya masih memegang dongkrak. “Iya,” jawabnya singkat.

“Pantas saja wajahmu tidak asing. Suami dan ibu mertuaku dari Indonesia. Kamu sendiri?”

“Indonesia.” Ia menjawab sambil tetap fokus pada pekerjaannya.

“Serius?” Tidak lama, ponselnya berdering—Siska. “Halo, Ibu. Aku terlambat, pecah ban.” Kamera diarahkan pada Zidan yang sedang membongkar ban.

Lihat selengkapnya