Dalam pesawat, Amara kembali menangis. Zidan membiarkan perempuan itu meluapkan perasaannya. Ia hanya menepuk pelan punggung Amara, lalu meraih selimut untuk menyelimuti kakinya hingga ke pinggang.
“Istirahat dulu, kamu harus sehat sampai sana.” Ia menarik selimut itu lebih rapat. “Bilang kalau mau sesuatu.”
Amara menggeleng, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi. “Mereka pasti baik-baik aja, kan?”
“Iya.” Zidan membelai dahi perempuan itu. “Mereka kuat. Bundanya juga harus kuat. Kalau kamu sakit, gimana mau jaga mereka? Boleh sedih, tapi ingat, mereka butuh kamu kuat.”
Amara mengangguk, mencoba rileks, tapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Zidan.
Perjalanan lebih dari 18 jam akhirnya terlewati. Begitu sampai di Jakarta, adiknya sudah menjemput.
“Gimana kembar?” tanya Amara cepat begitu berhadapan dengan Tania.
“Alhamdulillah, operasinya lancar, Kak. Sekarang sudah di ruang PCU.”
Tania melirik Zidan yang sejak tadi berdiri di belakang Amara sambil membawakan tasnya. Amara menyadari itu.
“Kenalkan, ini Zidan.”
Tania mengulurkan tangan. “Tania.”
“Zidan.”
“Kita ngobrol sambil jalan,” ujar Tania.
Di dalam mobil, Amara dan Tania bercerita tentang kecelakaan itu, sementara Zidan menerawang ke luar jendela, melihat gedung-gedung yang sudah lama ia tinggalkan. Beberapa jalan terasa begitu familiar.
Janji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah kembali, kini terlanggar.
Kenangan lama seperti berhamburan keluar dari kotak ingatan yang selama ini ia kunci rapat. Rasa sakit, kenangan pahit, semuanya muncul tanpa ampun. Masa kecilnya, kehilangan ibunya, hingga perlakuan ibu tirinya tanpa sepengetahuan sang ayah.
Dadanya terasa panas. Kebencian lama sempat muncul, mengingat ketidakberdayaannya dulu—yang akhirnya membentuk dirinya seperti saat masa kuliah.
“Zidan...”
Seperti oase di padang pasir.
Lembut, tangan Amara meraih jemari dingin Zidan, menyadarkannya dari lamunan panjang.
“Aku anter ke mana?” tanya Amara.
“Ke rumah sakit.”
Tania mulai menyadari, Zidan bukan sekadar teman perjalanan. Dari caranya memperlakukan Amara, terlihat jelas bahwa pria itu tulus dan lembut.
“Aku bisa cari hotel sendiri, nggak usah dipikirin,” kata Zidan.
Ia sebenarnya ingin mengusap kepala Amara seperti biasa, tapi ditahan. Kini Amara berada di tengah keluarganya.
“Makasih sudah nganterin kakak,” ucap Tania sambil menatap Zidan.
Dari tatapan itu, Zidan bisa menangkap bahwa Tania menyadari hubungan di antara mereka. Ia hanya mengangguk, berharap Tania berada di pihaknya.
Sampai di rumah sakit, Maharani langsung memeluk Amara.
“Gimana anak-anak, Bu?”