“Apa kabar, Den?”
Pria paruh baya itu masih saja menangis dalam rangkulan Zidan. Tubuhnya bergetar, seolah menumpahkan rindu yang lama tertahan.
“Baik, Pak. Mamang sudah tua ternyata,” jawab Zidan sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Iya, sudah tidak pantas dipanggil mamang lagi, tapi kakek,” balas pria itu, menepuk kedua lengan Zidan. “Den sudah besar sekali.”
“Panggil Zidan saja, Mang.”
“Iya, Den... eh, Zidan.” Ia tersenyum, meski matanya masih berkaca-kaca. “Mamang siapkan makan dulu.”
Zidan mengangguk dan mengikuti Mang Dadang ke arah belakang rumah.
“Tadi mamang masak. Makan dulu, ya,” ujar Mang Dadang.
Zidan ikut duduk di dapur belakang, tempat para asisten rumah tangga dulu biasa berkumpul. Kenangan masa kecilnya seolah hidup kembali di sudut-sudut ruangan itu.
“Apa mau makan di meja makan, Den?” tanya Mang Dadang.
“Tidak usah, Mang. Di sini saja cukup.” Zidan duduk di lantai, bersila. Baginya, ini bukan soal tempat, tapi tentang menghormati. Ia tak lagi membawa kesombongan masa lalu. Kini ia hanya hidup sebagai Zidan—dan itu justru membuatnya lebih tenang.
Makanan sederhana buatan istri Mang Dadang terasa begitu nikmat. Setiap suapan membawa rasa hangat yang lama tak ia rasakan.
“Aden mau menginap di sini atau di rumah mamang? Tapi cuma kontrakan satu petak, Den. Kalau mau tidur di sini juga tidak apa-apa. Mamang bisa temani di kamar belakang, nanti mamang bereskan dulu kamar atasnya,” ujar Mang Dadang hati-hati.
Zidan terdiam sejenak. Ia sendiri bingung. Mau tidur dimanapun rasanya sama saja. Bahkan mungkin, ia tidak benar-benar ingin tidur.
“Saya cari hotel saja, Mang.”
Setelah menghabiskan suapan terakhir, Zidan bangkit dan mencuci piringnya di wastafel. Lalu ia melangkah pelan, ingin melihat-lihat rumah yang penuh kenangan itu.
“Mau ditemani, Den?” tanya Mang Dadang.
“Tidak usah, Mang. Saya sendiri saja.”
Langkahnya berhenti di depan sebuah kamar.
Kamarnya.
Perlahan ia membuka pintu. Ruangan itu masih sama seperti dulu. Semua barang dijaga dengan baik. Tidak ada yang berubah, seolah waktu berhenti di tempat itu.
Zidan berjalan masuk, lalu meraih gitar lamanya. Ia duduk di tepi ranjang. Jemarinya memetik senar perlahan, memainkan nada sederhana. Sebentar saja. Cukup untuk menghidupkan kembali kenangan.
Ia tersenyum tipis, lalu meletakkan kembali gitar itu.
Pintu kamar ditutup perlahan. Sejuta kenangan kembali terkunci di dalamnya.
Dalam hati, ia berharap bisa datang ke tempat ini bersama Amara. Bercerita tentang masa lalu, tentang luka, tentang bagaimana ia akhirnya berubah.
Sementara itu, di rumah sakit...
“Kamu tidak menjenguk Hendar?” tanya Maharani.
“Tidak, Bu.”
“Tengoklah sebentar, sekalian silaturahmi.”
“Bu, aku masih fokus sama anak-anak. Dia juga ada keluarganya.”
“Ya maksud ibu, kamu juga menunjukkan empati.”