Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #33

Aku Rindu Kepadamu.

Suasana ruang HCU dipenuhi cahaya lampu putih yang terang, terasa dingin dan steril. Suara alat medis berdetak pelan, ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan di antara batas rapuh. Amara duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya menggenggam tangan anak-anaknya.

Di hadapannya, dua dunia kecilnya terbaring. Arana sudah sadar, meski wajahnya pucat dan penuh lelah. Sementara Amira masih tampak lemah, matanya setengah terbuka, seperti berjuang antara sadar dan tidak.

Amara menahan tangis yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.

“Bunda… sakit…” suara Arana lirih, hampir seperti bisikan.

Amara langsung menggenggam tangan kecil itu lebih erat, mengusapnya perlahan. “Iya… Bunda tahu… sabar ya, sayang… sebentar lagi dokter bantu kamu. Kamu kuat… anak Bunda kuat…”

Amira mengerjap pelan, menoleh sedikit ke arah Amara. “Bunda… jangan tinggalin aku…”

Nada suaranya membuat dada Amara terasa diremas. Ia langsung mendekat, wajahnya panik tapi tetap berusaha lembut. “Nggak… nggak akan… Bunda di sini… Bunda nggak ke mana-mana…”

Air mata Arana menetes perlahan. “Tadi… aku takut banget… mobilnya kebalik…”

Amara mengusap kepala anak itu, jemarinya bergetar. “Iya, sayang…”

Kejadian itu sudah tiga hari berlalu. Namun bagi anak-anaknya, seolah semua baru saja terjadi. Dokter sudah menjelaskan bahwa trauma bisa membuat ingatan terasa berulang, bahkan membingungkan. Amara diminta untuk tidak terlalu banyak bertanya agar tidak menambah kepanikan mereka.

“Bunda juga takut…” bisiknya pelan, suaranya nyaris pecah. “Tapi sekarang kita sama-sama ya… nggak sendiri lagi…”

Ia mencium kening mereka satu per satu, penuh kasih dan ketakutan yang tak terucap.

“Kalian harus sembuh…” bisik Amara lagi. “Bunda butuh kalian… dunia Bunda ada di kalian…”

Arana menggenggam tangan Amara lebih erat. “Bunda jangan nangis…”

Amara tersenyum, meski air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Ini bukan nangis… ini… Bunda kangen kalian buka mata… itu aja…”

“Kalau aku sembuh… kita pulang ya, Bun…” suara Arana melemah.

Amara mengangguk cepat. “Iya… kita pulang… makan bareng… ketawa lagi… seperti biasa…”

Suara monitor berdetak stabil. Amara tetap menggenggam tangan mereka, seolah jika ia melepas, dunia kecilnya akan hilang.

Zidan baru saja tiba di rumah sakit. Tania yang pertama menyambutnya, sementara Maharani hanya diam, namun wajahnya kini lebih tenang. Tidak lagi menyipitkan mata seperti sebelumnya saat melihatnya.

“Makasih, Kak, sudah datang,” kata Tania pelan.

Zidan menyerahkan kantong yang dibawanya. “Camilan sama sarapan untuk Amara. Katanya dari tadi belum makan.”

Tania mengangguk. “Iya, Kak. Kak Amara susah banget makan dari kemarin. Takut anak-anaknya kenapa-kenapa. Oh ya, ini masih ada jam besuk. Kakak mau lihat kembar nggak?”

“Iya,” jawab Zidan singkat.

Ia mengikuti Tania menuju meja suster jaga.

“Sus, kakak saya mau masuk,” ujar Tania.

Suster itu mengangguk, lalu menyerahkan pakaian steril. “Hanya sisa waktu dua puluh menit.”

“Iya, tidak apa-apa.”

Zidan masuk, diantar suster. Pandangannya langsung tertuju pada Amara yang duduk di antara dua ranjang kecil itu. Ia terlihat lelah, tapi tetap bertahan.

Zidan menyentuh bahu Amara pelan. Amara menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ada senyum tipis di wajahnya.

“Hai… apa kabar, Arana, Amira,” sapa Zidan lembut.

“Tertukar,” kata Amara pelan. “Ini Amira, ini Arana.”

Zidan tersenyum kecil. “Oh, maaf. Kalian sama-sama cantik seperti Bunda.”

Amara kembali tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya