Tatapan mereka bertemu—dalam, tenang, namun penuh perasaan yang tidak sederhana. Ada ragu, ada rindu, ada sesuatu yang belum sempat terucap. Amara perlahan mengangkat tangannya, membelai rahang Zidan dengan jemarinya yang lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar ada di hadapannya.
“Keadaan kemarin mengajarkanku untuk mandiri, Zii,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan yang lahir dari kelelahan hati.
“Jangan disamakan!” potong Zidan cepat. Nada suaranya meninggi, menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap Amara, seolah tatapan itu justru akan meluruhkan pertahanannya.
Dengan sabar, Amara kembali menarik wajah Zidan agar menghadapnya dengan sentuhan lembut.
“Aku tidak menyamakan,” katanya, suaranya tetap tenang. “Aku tahu kamu lebih baik… tapi… aku juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.” Ia terdiam sejenak, menelan kalimatnya sendiri. “Aku juga tidak mau jauh dari kamu.”
Ada jeda yang menggantung di antara mereka.
“Kerja di kantorku,” ujar Zidan tiba-tiba.
Amara mengangkat alisnya, lalu terkekeh kecil.
“Asisten pribadi?” tanyanya, setengah bercanda, setengah tidak percaya, sementara Zidan masih menatapnya dengan ekspresi serius.
“Aku serius.”
“I see…” Amara tersenyum tipis. Entah kenapa, beban yang sejak kemarin menyesakkan dadanya perlahan terasa lebih ringan setiap kali ia bersama Zidan. Seolah pria itu adalah tempat pulang yang tak pernah disadari sebelumnya.
“Hm… jadi bosku adalah suamiku sendiri?”
Kali ini Zidan tak mampu menahan senyum. Ia mencubit pipi Amara pelan.
“Terserah kamu mau menyebutnya apa.”
Amara tertawa kecil, lalu menghela napas.
“Finlandia tidak sepenuhnya kita tinggalkan,” katanya lirih. “Aku juga mencintai negara itu… di sana cinta kita tumbuh, disana semuanya bermula.”
Zidan menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk pelan.
“Baiklah. Aku mengerti.”
Tangannya turun ke pinggang Amara, menuntunnya duduk di sofa dengan hati-hati.
“Apa yang kamu mengerti?” tanya Amara, menatapnya penuh selidik. “Dan apa yang mau kamu lakukan sekarang?”
Zidan berdiri tanpa menjawab. Ia membuka kancing bajunya satu per satu, santai, seolah itu hal paling biasa di dunia.