Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #35

Bukan Sekedar Penasaran.

Kembali ke rumah sakit, suasana masih dipenuhi ketegangan. Di sana sudah ada Hendra, meski masih duduk di kursi roda dengan infus terpasang di tangannya. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tetap tajam.

Awalnya, ia berniat mengiba—menggunakan kecelakaan ini sebagai alasan untuk kembali mendekat pada Amara. Namun, niat itu seketika berubah saat ia melihat Amara datang bersama seorang pria. Tatapannya langsung menajam, penuh selidik dan emosi yang tak disembunyikan.

Zidan menghadapi itu dengan tenang. Ia tetap melangkah di samping Amara, tanpa gentar. Sesekali tangannya menyentuh punggung Amara, seolah memberi keyakinan: jangan takut, aku ada.

Karena dari sekian banyak orang yang pernah hadir dalam hidup perempuan itu, hanya Zidan yang benar-benar memahami trauma yang ditinggalkan Hendra.

Begitu Amara mendekat, Hendra langsung menyapanya.

“Apa kabar, Bunda?”

Demi apa pun, Amara tidak suka mendengarnya.

“Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin bilang baik-baik saja,” jawabnya dingin.

Hendra menekuk wajah, tampak menyesal. “Aku minta maaf atas kelalaian ini.”

“Maaf tidak akan pernah menyelesaikan masalah,” balas Amara tegas. “Anak-anak tetap menahan rasa sakit sekarang.”

Kekecewaan dalam suaranya begitu dalam, tak terbendung lagi.

“Ini kan kecelakaan, mana ada yang tahu,” bela Hendra.

Amara menatapnya tajam. “Kenapa kamu berkendara cepat? Mau ke mana? Atau tepatnya… habis menemui siapa, lalu menjemput anak-anak?”

“Loh, maksud kamu apa?” Hendra mulai tersinggung. “Apa kamu pikir kecelakaan ini karena aku berbuat yang tidak baik?”

“Kamu pikir saja sendiri!”

“Kenapa jadi memojokkan kakak saya? Fitnah lagi,” sela adik Hendra yang sejak tadi ikut mendampingi.

“Amara, sudah,” kata Maharni pelan, mencoba meredakan.

“Kamu selalu saja berpikir buruk tentang aku,” ucap Hendra lirih, menunduk sambil menahan air mata. “Aku tidak pernah berbuat aneh-aneh, Amara.”

Tarikan napas berat Amara terdengar jelas. Sudah berpuluh kali kalimat itu ia dengar—namun kenyataannya, keadaan selalu membuktikan sebaliknya.

“Aku mau lihat anak-anak,” katanya akhirnya.

“Kita masuk bersama,” sahut Hendra cepat.

Zidan langsung bereaksi, tapi Amara lebih dulu mengerti maksudnya.

“Aku masuk sendiri.”

“Tidak masalah masuk bersama,” Hendra tetap memaksa.

“Hormati keinginannya!” kata Zidan tegas.

Sorot mata keduanya bertemu tajam, penuh ketegangan.

“Kamu tidak ada hubungannya di sini,” balas Hendra dingin.

“Dia bersamaku,” ujar Amara mantap, menegaskan posisi Zidan.

Ucapan itu membuat Hendra terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia memilih mengalihkan pandangan.

Lihat selengkapnya