“Apa ini?” Sasyi menahan tangan Zidan yang sedang merapikan berkas-berkas di mejanya. Tatapannya tajam, penuh tanya. Di sekeliling mereka, empat orang lainnya ikut membantu, namun suasana terasa berat—sunyi yang tidak biasa. Semua tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Zidan tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas pendek, lalu mencoba mengambil kembali dokumen itu.
“Kita bicara,” kata Sasy, menahan lebih kuat.
“Bicara saja,” jawab Zidan singkat, tanpa menatap.
“Kita bicara berdua.”
Ada jeda. Zidan akhirnya mengangguk pelan, lalu berjalan mengikuti langkah Sasyi menuju rooftop. Angin sore menyambut mereka, membawa suasana yang lebih dingin dari pada biasanya.
“Kenapa tiba-tiba memutuskan pindah?” suara Sasyi mulai bergetar, tapi ia tahan. “Kamu sendiri yang bilang tidak akan pernah kembali.”
Zidan berdiri menghadap langit, seolah mencari jawaban di sana. “Aku ingin mengembangkan kantor.”
“Cih…” Sasyi mendengus pelan. “Kurang apa di sini? Kita sudah sampai di titik ini. Kenapa harus ke sana?”
Hening.
“Karena dia, kan?” lanjut Sasyi, kini menatap Zidan lurus.
“Keputusanku tetap keputusanku.” Zidan menoleh, menatapnya tajam. Tidak ada senyum, tidak ada candaan seperti biasanya.
“Impian yang kita bangun dari nol, susah payah, sekarang lagi di puncaknya…” suara Sasyi mulai pecah. “Dan kamu malah memilih pergi?”
“Aku akan tetap terlibat,” jawab Zidan lebih tenang. “Kalau ada yang tidak bisa kalian tangani, aku akan datang.”
“Ini bukan soal datang atau tidak!” Sasyi meninggikan suara. “Ini soal kamu! Waktumu, kehadiranmu!”
“Itu urusanku.”
“Benar karena perempuan itu?” air mata mulai menggenang di matanya. “Kamu berubah, Zidan…”
Zidan terdiam.
“Apa hebatnya dia?” lanjut Sasyi, kini tak mampu menahan emosinya. “Datang begitu saja, lalu mengambil semua yang kita bangun? Semua yang kita perjuangkan?”
“Dia tidak mengambil apa pun.” Suara Zidan tegas, sedikit lebih dalam. “Dan dia juga tidak merusak apa pun. Semua akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.”
“Kamu yakin?” suara Sasyi melemah. “Atau kamu cuma meyakinkan dirimu sendiri?”
Zidan tidak menjawab. Ia berbalik, berniat pergi.
“Lalu aku?” suaranya lirih dari belakang. “Apa artinya aku buat kamu?”
Langkah Zidan terhenti sejenak. Namun ia tidak menoleh.
“Cari kesibukan lain.”
Jawaban itu jatuh seperti pisau.
Ia menunduk, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Sejak Amara datang, ia sudah merasakan perubahan itu. Tapi ia tidak menyangka akan sejauh ini.
Zidan melangkah pergi.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, ia sempat berkata tanpa menoleh, “Adakan pesta malam ini. Hibur dia untukku. Temani dia sampai dia bosan. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
Perintah itu dipahami semua orang.