Ponsel masih di telinga dengan senyum manis di bibirnya saat mendengar ucapan Amara barusan. “Aku merindukanmu.”
Amara balas tersenyum, salah satu kalimat yang ingin didengarnya. “Aku lebih merindukanmu.” Keduanya sama-sama tersenyum.
“Terasa ada genggaman yang hilang, juga sentuhan.”
Zidan menarik napas berat. Rasanya ia ingin kembali terbang ke sana untuk menemui perempuan itu. Kebersamaan keduanya beberapa bulan ini meninggalkan candu tanpa obat. Hanya ada satu cara menyembuhkan, yaitu pertemuan.
Barang yang ia butuhkan sudah Zidan kirim. Bulan ini ia sibuk merapikan semua hal, juga menyelesaikan secepat mungkin yang sempat tertinggal. Tanpa mengenal lelah, bahkan di rumah sekarang selalu ada pekerjaan atau sekadar meeting.
Sasyi yang datang, meski dengan wajah masam, tetap membantu Zidan. Zidan menerima itu dengan baik. “Ini, aku butuh ini.”
Sasyi menerimanya lalu langsung mengerjakan. “Kamu sudah menemukan tempat?” tatapannya fokus pada laptop.
“Sementara di rumah lama, aku tidak mau menyewa kantor dulu,” jawab Zidan yang sama sibuknya dengan yang lainnya di depan laptop.
“Kami bertiga akan ikut dulu untuk setting di sana.”
Sesaat Zidan melihat Sasyi, tidak menyangka akan kembali dibantu.
“Apa?” tanya Sasyi. Keduanya saling melihat, masih dengan wajah masamnya. “Kamu harus berhasil di sana.”
Zidan tersenyum, kembali ke layar laptopnya.
“Makan dulu, makan dulu.” Gema masuk membawakan makanan dan minuman.
Sampai larut malam mereka berlima lembur. Bahkan Sasyi tidur di ruang tamu di atas sofa. Zidan memijat pelipisnya melihat perempuan itu terlelap. Ia bangun mencari selimut lalu menyelimuti Sasyi.
Sedangkan yang lainnya masih sama sibuknya. “Istirahat dulu, kalian boleh pergi dulu.”
“Akhirnya.”
Ternyata semuanya tidak ada yang berani bergerak sebelum Zidan melepaskan laptopnya. Ketiganya keluar rumah sekadar menggerakkan tubuh atau menghisap nikotin untuk menghangatkan.
Sedangkan Zidan meracik kopi sambil berbalas pesan dengan Amara.
“Anak-anak sudah mulai terapi," kata Amara.
“Alhamdulillah, kabar baik. Sudah makan, sayang?”
Belum terbiasa dengan panggilan itu, Amara masih tertegun. Tidak biasanya Zidan memanggilnya begitu.
Zidan masih menunggu pesan itu tanpa balasan, lalu kembali mengirim pesan. “Sayang sedang sibuk?”
Amara tersadar dengan senyuman. “Belum, sebentar lagi."
“Mmh, makan yang banyak, jangan sampai sakit.”
Zidan melihat cangkir kopinya dan jam kerja yang dipaksakan. Ia tersenyum sendiri, menertawakan keadaannya dan perhatian yang berbanding terbalik.
Sambil menikmati kopi, ia membalas pesan Amara. Tak lama, Sasyi terlihat terusik.
“Tidur saja.”
Sasyi malah duduk. “Sudah. Mana yang lain?”
“Keluar. Mau kopi?”
“Boleh.”
Zidan kembali ke arah dapur, membuatkan satu cangkir lainnya. Begitu selesai, ia meletakkannya di meja depan Sasyi.