Cinta Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #38

Arah Pulang yang Sama.

Dua bulan berlalu. Zidan, Sasyi, dan dua rekan lainnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tanpa sepengetahuan Amara.

Dari sana mereka ke rumah Zidan, bertemu dengan Mang Ujang.

“Semua tempat sudah Mang Ujang siapkan seperti yang Den minta.”

“Iya, Mang, makasih. Kita masuk.”

Semua rombongan masuk. Ruang tamu sudah disulap menjadi ruang kerja. Komputer-komputer berjejer dalam kubikel masing-masing, dengan nama setiap orang.

“Hari ini santai, setting-setting saja. Setelah itu istirahat. Cari kamar kalian di atas, yang pojok kamarku hanya ada satu pertemuan aku bisa selesaikan sendiri.”

“Baik lah.”

Semuanya mencari kamar masing-masing.

Zidan menghubungi Amara.“Ada waktu siang ini?” tanya Zidan dari seberang.

“Ada…” jawab Amara bingung.

“Aku jemput jam sebelas.”

“Apa?” suara Amara sampai terlepas begitu saja, membuat Zidan tersenyum senang.

“Sampai jumpa.”

“Zii, tunggu dulu—”

Namun Zidan sengaja mematikan panggilan. Ia kembali merapikan isi kantornya sambil menunggu waktu penjemputan tiba. Sementara itu, Amara langsung gelisah dan mengirim pesan.

“Zii, kamu di mana?”

Zidan tersenyum membaca pesan itu. “Jakarta,” balasnya singkat. Ia tidak tega membuat Amara semakin khawatir.

Ada hembusan napas lega dari Amara. “Kapan kamu ke sini?”

"Baru saja ”

“Kamu tidak mengabariku kalau sudah ada di Jakarta?”

“Tenang, sayang.”

“Aku lihat anak-anak dulu. Kalau bisa, aku keluar sekarang.” Amara segera bergegas.

“Tapi aku tidak bisa menjemputmu sekarang,” kata Zidan, menghentikan langkah Amara. Ia ada pertemuan sebentar lagi dan tidak mungkin dibatalkan.

“Di mana alamatnya? Aku datang sendiri.”

Zidan pun mengirimkan alamat rumahnya.

Amara kembali ke ruang terapi. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Baru saja kembar selesai terapi.” jawab Maharani.

“Iya tidak apa-apa, Bu. Bu, aku izin keluar. Pulang agak malam nanti, bisa?”

“Iya, bisa kan ada Tania, hati-hati di jalan.”

“Bunda pergi dulu ya, sayang.” Ia mencium kening kedua anaknya. Anak-anak sedang menyelesaikan perawatan sekaligus terapi trauma dampak dari kecelakaan itu.

Hati Amara penuh bunga yang bertebaran di setiap langkahnya saat keluar dari rumah sakit menuju alamat yang diberikan Zidan. Sesampainya di sana, gerbang sudah dibukakan oleh Mang Ujang.

“Mbak Amara, ya?”

“Iya, betul, Pak.”

Amara melihat rumah besar itu. Terlihat sudah lama tidak terawat, meski masih tampak rapi. Ia sempat memeriksa kembali alamatnya, takut salah.

Mang Ujang kembali bicara untuk meyakinkan. “Betul ini rumah Den Zidan. Den Zidan tidak bisa keluar karena sedang ada pertemuan di dalam. Saya disuruh menjemput Mbak di depan dan mengantarkan ke atas.”

“Iya, Pak.”

Amara mengikuti Mang Ujang menuju pintu samping, lalu langsung naik ke lantai atas. Dari sana, ia melihat Zidan sedang bersama tamu.

Ia tidak menyangka rumah ini dibuat menjadi kantor, dan teman-teman Zidan sudah ada di sana. Ada senyum haru dan bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

Mang Ujang membukakan pintu kamar Zidan. “Istirahat saja dulu, Mbak. Kalau Den Zidan sudah selesai, pasti ke sini. Nanti saya ambilkan minum dan camilan.”

“Tidak usah repot-repot, Mang.”

“Tidak repot buat pacarnya Den Zidan.”

Lihat selengkapnya