Kabut Ranupani selalu memiliki cara sendiri untuk memeras kesombongan seorang lelaki. Ketika embun beku mulai menggigit ruas jemari Arganata, bayangan sang ibu yang terbaring lemah di balai bambu terbayang jelas. Wasiat sekuntum kelopak cempaka kuning yang hanya tumbuh di ceruk abadi lereng Mahameru berdenyut seperti detak jantung kedua di dalam dadanya...
βββ βΎ πΌ βΎ βββ
Bagian 01 : Uap Beku di Pelataran Kabut
βββ ββ ββ β βββ
Suhu delapan derajat Celsius menusuk persendian tulang belikat Arganata saat fajar belum sempurna merekah di langit timur Ranupani. Kabut tebal merangkak pelan dari permukaan telaga purba itu, menyerupai selendang kafan basah yang ditarik oleh jemari gaib lembah, lantas perlahan-lahan menyelimuti atap-atap seng rumah panggung petani sayur Tengger. Lapisan uap beku berkilau tertimpa pendar remang fajarβkristal-kristal embun upas yang menempel pada pucuk dedaunan kubis hijau keperakan, membekukan getah tanah yang seharusnya mengalir hangat.
Arganata berdiri terpaku di batas pematang ladang, kedua tangannya terbenam dalam saku jaket tebal yang tak lagi mampu meredam gigilan di dada. Di hadapannya, siluet kerucut raksasa Semeru menjulang angkuh, membelah cakrawala kelabu dengan punggungnya yang hitam legam. Setiap belasan menit sekali, dari kawah Jonggring Saloko di kepalanya, batuk kering vulkanik memuntahkan gumpalan abu tipisβasap wedhus gembel yang membubung perlahan, menari seolah mengejek kefanaan debu manusia yang merayap di telapak kakinya.
Di dadanya bergolak rasa kerdil yang begitu pekat, jenis kegentaran yang hanya bisa dilahirkan ketika seseorang menatap langsung lambang kemahakuasaan Allah yang tanpa kompromi. Mengapa ia harus berada di sini? Mengapa langkah kakinya yang telah bertahun-tahun terbiasa dengan lantai marmer ibu kota harus terseret kembali ke tanah purba yang dulu ia tinggalkan dengan pongah?
Gunung ini tidak pernah meminta untuk disembah, mengapa manusia begitu sering datang dengan dada membusung seolah hendak menaklukkan batu dan pasir? Ya Rabb, lindungi niatku dari penyakit riya' para penakluk semu,Β» gumamnya dalam desah napas yang seketika berubah menjadi kepulan uap putih di udara beku.
Kabut Ranupani selalu memiliki cara sendiri untuk memeras kesombongan seorang lelaki. Ketika embun beku mulai menggigit ruas-ruas jemari Arganata, bayangan sang ibu yang terbaring lemah di atas balai bambu di dusun lereng bawah terbayang begitu tajam, mengiris kewarasannya. Wajah perempuan sepuh itu telah sepucat kelopak melati layu, napasnya tersengal seirama detak jam dinding tua, dan di bibirnya yang kering hanya berulang satu permintaan ganjil yang menggetarkan akal sehat: wasiat sekuntum kelopak cempaka kuning yang konon hanya berakar di ceruk abadi tebing Mahameru. Wasiat itu berdenyut laksana detak jantung kedua di rongga dada Argaβmenuntut kepatuhan mutlak, atau penyesalan seumur hidup.
βββ βΎ πΌ βΎ βββ
Bagian 02 : Jejak Kaki yang Tak Membidik
βββ ββ ββ β βββ
Ingatan Arganata terlempar ke lima belas tahun silam, ke sebuah petang berkabut di hutan pinus lereng barat. Saat itu usianya baru dua belas tahun, berlari kecil di belakang langkah tegap almarhum ayahnya, Haji Bramantyo. Ayahnya adalah sosok lelaki gunung yang tak banyak bicara, berurat kawat dan berbau asap kayu bakar. Di tangan kanannya tergenggam senapan angin tua warisan kakek, namun sepanjang tiga hari menyusuri belantara pinus basah, senapan itu tak sekalipun diangkat ke udara.
Kala itu, di balik semak pakis raksasa, sepasang telinga rusa tutul Jawa bergerak-gerak waspada di dekat ceruk mata air bening. Arga kecil menahan napas, tangannya gemetar menunjuk hewan elok bertotol putih itu, bersiap mendengar letusan moncong mesiu ayahnya. Namun sang ayah justru meletakkan laras senapan ke atas rumput lumut, berlutut perlahan menyamakan tinggi pandangannya dengan mata sang bocah.
Hutan ini pinjaman, Arga, bukan warisan nenek moyangmu,Β» bisik sang ayah dengan suara serak yang begitu teduh namun menghunjam sanubari. Β«Jika kau datang dengan nafsu mengambil, gunung ini akan menutup jalannya dan mengubur kepongahanmu. Rusa itu sedang menyambung napas anak-anaknya di ceruk bukit. Jangan pernah membidik apa yang tanah ini enggan berikan secara sukarela.
Kata-kata itu kini menghantam dinding nurani Arganata bagai palu godam. Bukankah kedatangannya hari ini justru melanggar amanat mendiang ayahnya? Ia datang hendak merenggut paksa sekuntum bunga langka dari ceruk yang paling dijaga oleh kabut Mahameru. Apakah ia sedang meminjam dengan takzim, ataukah ia tak lebih dari pencuri yang mengenakan topeng anak berbakti demi menenangkan nuraninya sendiri?
βββ βΎ πΌ βΎ βββ
Bagian 03 : Firasat Kuning di Balik Jurang Ayek-Ayek
βββ ββ ββ β βββ