Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Sang Penawar Wasiat

Di tengah kepungan hawa beku Ranupani, Arganata bergulat antara nalar seorang pendaki veteran dan kepatuhan mutlak seorang anak. Sebuah wasiat mustahil, kompas yang menyimpang ganjil, dan derit langkah sol getah pemandu sepuh Tengger membuka tirai rahasia yang jauh lebih agung—sekaligus memilukan—dari sekadar pencarian bunga pusaka.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Desau Cemoro dan Rongga Cermin Rattan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Di hadapan cermin tua berbingkai rotan, Arganata menatap matanya sendiri. Ada kilau keraguan yang coba diredam oleh doa rabithah. Di luar, lolongan anjing penjaga kebun sayur bersahutan dengan desir angin pinus cemara cemoro, seolah menandai batas dunia manusia yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.

Cahaya temaram lentera minyak bergoyang tertiup angin celah dinding papan. Bau seduhan kopi jahe hangat beradu dengan aroma minyak kayu putih dan dedaunan obat yang mulai mengering di atas meja beralas taplak perca. Di ruangan berdinding kayu pinus seluas tiga kali empat meter itu, udara lembap khas Ranupani pada ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut terasa menusuk hingga ke persendian tulang kering. Setiap tarikan napas menghembuskan uap putih tipis yang langsung terburai sirna ditelan dingin yang kian menggigit menjelang fajar.

Arganata menundukkan kepala. Jemari tangannya yang kapalan dan berurat kaku—tangan yang biasa menancapkan pasak karabiner pada dinding tebing granit yang rapuh—kini bergetar lirih saat menyentuh permukaan ransel carrier berkapasitas delapan puluh liter. Di dalam kompartemen teratas, terselip sebuah kantung beludru hitam berisi seuntai tasbih kayu stigi cokelat tua dengan sembilan puluh sembilan butir yang telah licin digosok zikir berpuluh-puluh tahun.

Bagi siapa pun di luar sana yang mengenalnya di dunia kepanduan dan ekspedisi gunung tinggi nusantara, Arganata adalah karang. Pria dua puluh sembilan tahun berahang kokoh itu pernah memimpin operasi evakuasi badai di punggungan Rinjani dan menaklukkan jalur terjal Raung tanpa cacat cela. Namun malam ini, di balik jaket softshell tebal bermotif merah darah dan hitam jelaga, karang itu sedang rapuh layaknya gumpalan abu vulkanik yang siap runtuh tersapu gerimis.

"Bagaimana jika ikhtiarku ini hanya kesia-siaan belaka?" gumamnya pada bayang-bayang dirinya sendiri di cermin rotan yang buram oleh bercak lembap. "Apakah sekuntum bunga langka itu benar-benar mekar di bibir tebing yang bahkan para pemburu madu tak berani melintasinya? Ataukah ia sekadar legenda penenang jiwa dari leluhur yang tak sampai hatiku tolak karena aku terlalu pengecut melihat mata Ibu menutup selamanya?"

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02 : Genggaman Jemari Mak Siti

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Pikiran Arganata terseret mundur melintasi waktu, menembus jarak puluhan kilometer ke sebuah bilik sempit bercat kapur mengelupas di pinggiran Turen. Tujuh hari yang lalu, aroma yang dihirupnya bukanlah getah pinus, melainkan bau khas karbol rumah sakit dan desis konstan tabung oksigen regulator hijau yang disewa dari donasi warga kampung.

Ia teringat detik-detik saat jemari Mak Siti yang keriput—kulitnya setipis perkamen tua yang dipenuhi pembuluh darah biru kehijauan—menggenggam pergelangan tangannya dengan sisa tenaga yang mengharukan. Telapak tangan ibu yang dahulu dengan tangguh mencangkul petak tanah sewaan dan menumbuk gabah demi membelikannya sepatu sekolah pertama, kini terasa begitu dingin seperti lempengan batu kali di dasar sungai.

"Hanya bunga cempaka kuning di batas halimun Mahameru yang embunnya bisa meredakan panas di dadaku, Nak. Petiklah hanya jika ia rela diberikan," bisik Mak Siti kala itu. Suara ibundanya parau, terputus oleh batuk kering yang menorehkan noktah merah kehitaman pada lipatan saputangan lusuh.

Dokter muda puskesmas telah berbisik kepadanya di teras luar, menunduk dengan tatapan penuh simpati yang sangat dibenci Arganata: 'Kankernya telah bermetastasis ke rongga pleura, Mas Arga. Secara medis, kita hanya bisa memberikan pereda nyeri. Hitungannya mungkin bukan lagi bulan, melainkan minggu.'

Namun Mak Siti tidak meminta morfin. Ia tidak meratap meminta dokter spesialis dari ibu kota provinsi yang biayanya setara dengan menjual seluruh petak kebun peninggalan kakeknya. Ibunya justru menyebut nama bunga yang sejak kecil hanya didengar Arga dalam tembang-tembang lisan pengantar tidur orang-orang Tengger kuno: Cempaka Halimun Kuning yang hanya muncul saat kabut tebal menyapu tebing timur Mahameru sebelum surya menyentuh puncak kawah.

Arga ingat bagaimana air matanya menetes di atas punggung tangan ibunya yang ringkih. 'Ibu sedang demam tinggi, jangan banyak bicara dulu,' bujuk Arga kala itu seraya mengusap kening wanita yang telah melahirkannya tanpa kehadiran seorang suami. Ayahnya telah lama hilang ditelan jurang maut Semeru saat Arga baru berusia empat tahun—sebuah ironi takdir yang membuat ibunya seumur hidup melarang Arga mendaki gunung, sampai detik ketika wasiat aneh itu meluncur dari bibir pucatnya.

'Petiklah hanya jika ia rela diberikan...' Kalimat itu terus berdengung di telinga Arga bagai mantra pemanggil roh. Mengapa ibunya yang taat bersembahyang, yang selalu mengajarinya bahwa kesembuhan mutlak milik Sang Khalik, tiba-tiba memintanya mendaki gunung yang telah merenggut nyawa suaminya sendiri demi memetik sekuntum bunga antah-berantah?

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 03 : Anomali Jarum Kuningan dan Hangat Kayu Stigi

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lamunan Arga buyar ketika embusan angin dingin yang lebih deras menyelinap melalui kisi-kisi ventilasi di atas jendela balai penginapan. Api lentera minyak tanah berderak pelan, lidah apinya meliuk tajam ke arah dinding barat, menciptakan bayangan raksasa dirinya yang bergoyang aneh di dinding papan kayu cemoro.

Arga meraba saku dada jaket tebalnya. Dadanya tiba-tiba merasakan sensasi hangat yang tidak lazim. Bukan sekadar hangat dari lapisan bulu angsa atau serat fleece sintetis, melainkan panas lembut yang berdenyut seirama detak jantungnya. Ia merogoh ke dalam dan mengeluarkan tasbih kayu stigi pemberian ibunya. Butiran kayu legam yang konon diambil dari pedalaman hutan keramat itu memancarkan kehangatan ganjil, seakan-akan butiran tasbih itu baru saja dikeluarkan dari periuk air mendidih, padahal suhu kamar penginapan kian merosot mendekati empat derajat Celsius.

Dengan kening berkerut heran, Arga meletakkan tasbih itu di atas meja kayu di samping cangkir kopi jahenya yang telah mendingin. Di sebelahnya tergeletak kompas bidik berbahan kuningan tua—alat navigasi militer peninggalan almarhum ayahnya yang selalu setia menemaninya menembus rimba belantara Sumatera hingga pegunungan Papua.

Lihat selengkapnya