Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Pertemuan Dua Pengelana

“Jalan setapak tidak pernah berbohong; ia hanya akan membimbing telapak kaki yang melangkah tanpa pamrih penaklukan.”

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Kabut Ranupani dan Timbangan Jiwa

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

KABUT Ranupani tidak pernah turun bagai tetesan embun biasa; ia merayap pelan dari ceruk-ceruk danau purba laksana kain kafan basah yang diseret oleh tangan-tangan tak kasat mata. Udara membeku pada angka sembilan derajat Celsius, menusuk pori-pori kulit melalui rajutan wol usang, sementara matahari yang sekarat di punggungan barat memuntahkan bias ungu keemasan—warna luka lebam langit yang perlahan membusuk menjadi kelam gulita.

Di bawah teritisan seng pos pendaftaran yang berkarat, Fardhan Nazhiran menghembuskan asap tembakau klembak dari sudut bibirnya yang pecah-pecah. Matanya, yang sewarna getah damar mengering, tidak tertuju pada tumpukan lembar izin masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang berserakan di meja reyot, melainkan terpaku lurus pada pemuda yang berdiri di tubir gerbang rimba.

Pintu gerbang itu hanyalah dua batang kayu akasia dan lamtoro tua yang dipasung melintang di atas jalan setapak berbatu cadas, dipayungi sulur-sulur lumut janggut yang menjuntai lemas laksana rambut mayat. Namun bagi siapa pun yang mengerti denyut tanah ini, kayu lapuk itu adalah tapal batas sakral: di sebelah sini adalah kepalsuan peradaban dengan uang receh dan asap knalpot, sementara di seberang sana terbentang rimba raya tanpa ampun yang tak segan-segan menelan nyawa manusia tanpa menyisakan tulang.

Fardhan mengamati sosok pemuda itu dengan tatapan menguji yang dingin dan telanjang. Selama lima belas tahun menjadi pemandu di kaki Mahameru, ia bukan tipe pemandu lokal yang mudah terbujuk tumpukan lembar ratusan ribu rupiah. Gunung bukanlah pasar malam tempat orang kaya membeli gengsi; gunung adalah altar penghakiman. Fardhan telah belajar membaca isi jiwa seorang pendaki bukan dari merk gore-tex yang membalut tubuhnya, melainkan dari bagaimana cara mereka menyusun titik gravitasi beban ransel carrier, dan terutama: bagaimana mata mereka memandang debu tanah saat pertama kali menginjakkan kaki di Ranupani.

Fardhan membatin: 'Orang kota ini berbeda. Tidak ada kamera mahal berlabel merah yang dikalungkan dengan lagak congkak di depan dada. Tidak ada celoteh jumawa tentang menaklukkan atap Jawa sebelum fajar menyingsing. Matanya menyimpan kesedihan yang sunyi, pekat, persis seperti orang yang datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk bersujud dan meminta maaf pada semesta.'

Pemuda itu—yang di lembar simaksi tertera bernama Arganata—berdiri tegak kendati kedua betisnya gemetar halus menahan beban ransel kanvas seberat dua puluh kilogram. Punggungnya agak membungkuk, bukan karena ringkih fisiknya, melainkan seolah-olah beban ransel itu adalah sebongkah dosa tak berampun yang harus dipanggul sendirian melintasi lintasan terjal lereng gunung.

Arga menatap lurus ke dalam keremangan lorong hutan akasia. Hidungnya menghirup tajam-tajam aroma humus basah, dedaunan pinus yang membusuk, dan sisa bau belerang samar yang dihanyutkan angin dari kawah Jonggring Saloka yang berada bermil-mil jauhnya di puncak angkasa. Napas pemuda itu pendek dan tersengal, namun di balik kerutan dahinya, terpatri keteguhan yang nyaris menyerupai keputusasaan.

'Beban ransel seberat dua puluh kilogram bertumpu di pundak,' bisik Arga dalam desau batinnya yang kalut, 'namun bagi punggungku, beban amanah ibunda jauh lebih menekan tulang belikat hingga nyaris patah. Ibu... apakah tanah dingin berbau dupa ini yang kau sembunyikan dariku sepanjang hidupmu?'

Fardhan mengetukkan pangkal pipa rokoknya ke bangku kayu. Suara ketukan itu membelah desau angin senja, membuat Arga tersentak dan menoleh. Dua pasang mata bertemu: yang satu setajam tebing andesit yang terkikis lahar dingin, yang lain sedalam palung kesedihan yang tak berdasar.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02 : Bayang-Bayang Ceruk Kematian Blank 75

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

FARDHAN bangkit berdiri. Tubuhnya yang tegap dibungkus jaket parka kumal bercorak loreng pudar, terlilit sarung tenun khas Tengger bermotif kotak hitam-kuning di pinggangnya. Langkah kakinya lambat, berirama tanpa suara menapaki kerikil basah, seakan tanah Ranupani sendiri menyerap bobot tubuhnya dengan sukarela.

Pikirannya terlempar ke belakang, terhempas pada malam terkutuk tiga musim kemarau silam. Ingatan itu seperti bara api sekam yang tak pernah benar-benar padam dalam rongga dadanya. Tiga tahun lalu, rombongan pemburu liar berbekal senapan berperedam dan tumpukan uang kertas mencoba menyuapnya untuk menerobos zona inti tanpa izin dinas. Mereka menertawakan peringatan Fardhan tentang pantangan selasa wage; mereka mencibir dongeng mistis orang udik lereng gunung.

Hasilnya? Jeritan histeris di tengah amukan badai pasir di bibir ceruk Blank 75. Fardhan masih mengingat rasa ngilu di telapak tangannya saat ia berusaha menggapai tali karmantel yang putus tergesek batu tajam. Dua orang terseret longsoran pasir hisap, lenyap ditelan jurang sedalam ratusan meter sebelum sempat mengucap tobat. Semenjak hari itu, Fardhan bersumpah di hadapan sanghyang leluhur: takkan pernah lagi ia sudi mengantar manusia yang memandang gunung dengan mata serakah pemburu.

Kini, berdiri di depan Arganata, insting purbanya bergetar dengan cara yang sama sekali berbeda. Bukan ancaman keserakahan yang ia cium dari tubuh pemuda ini, melainkan hawa keputusasaan yang begitu pekat—hawa seseorang yang telah kehilangan segala hal di dunia nyata dan rela membiarkan dirinya ditelan belantara.

Tiba-tiba, suara derit ranting patah di pucuk akasia memecah kesenyapan. Dua ekor burung jalak lawu—berbulu jelaga kelam dengan paruh dan lingkar mata kuning menyala—hinggap tepat di atas palang gerbang kayu lapuk. Burung-burung itu tidak mematuk kutu atau melompat lincah seperti lazimnya satwa pegunungan. Keduanya berdiri mematung menghadap lurus ke arah mereka berdua.

Lihat selengkapnya