Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Menyusuri Nafas Akasia

Menyusuri Nafas Akasia dan Suara Hutan Purba

"Pergolakan batin antara ketakutan purba dan ketundukan spiritual di hadapan misteri rimba. Zikir adalah jaket terhangat yang melindungi jiwa dari dinginnya ketakutan di rimba belantara."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01: Kanopi Zamrud dan Gema Zikir Khafi

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

"Hutan ini hidup. Lumut di batang pohon ini bernafas, cacing di tanah lembab ini bertasbih. Betapa hinanya manusia jika menganggap dirinya pemilik satu-satunya hak hidup di bumi ini."

Di antara desau dedaunan akasia decurrens yang bergoyang lambat ditiup angin ketinggian dua ribu meter, Arganata merasakan debar yang aneh. Bukan debar kelelahan asam laktat yang biasa membakar otot betisnya setelah menempuh tanjakan terjal selepas Pos 1, melainkan sebuah getaran halus tak kasat mata—seolah setiap helai daun, rekahan kulit batang cemara gunung, dan sulur-sulur paku pakis raksasa di sekelilingnya memiliki sepasang mata teramat bening yang sedang memperhatikannya dalam keheningan purba.

Dedaunan paku pakis raksasa meneteskan sisa embun subuh dengan irama yang teratur, jatuh menimpa serasah basah dengan bunyi gemerisik lembut yang ritmis. Kanopi lebat pohon edelweis tua dan cemara gunung membiaskan berkas cahaya mentari miring laksana pedang-pedang cahaya surgawi—menebas kabut putih yang mengambang malas di sela pepohonan, menyulap uap dingin menjadi tirai pendar keemasan.

Arganata mempertahankan ketenangan langkahnya. Kakinya dibungkus sepatu bot kulit yang telah pudar warnanya, menapak dengan kehati-hatian seorang musafir yang sadar bahwa tanah yang dipijaknya bukanlah miliknya. Setiap sentakan tumitnya tidak pernah terburu-buru. Ia menata ritme napasnya melalui hidung, mengalirkannya ke rongga dada terdalam, lalu menyelaraskan setiap hembusan dengan lafal zikir khafi di relung jantung: Allah di tarikan napas masuk, Hu di embusan napas keluar. Ritme sunyi itu menjaga staminanya tetap stabil, melindunginya dari hipotermia yang mengintai di balik hawa lembab pegunungan, sembari menyerap detak kehidupan hutan yang merambat melalui pori-pori kulitnya.

"Hutan ini hidup," gumam Arganata dalam relung batinnya yang paling hening. Matanya menyapu hamparan lumut kerak yang merayap tebal di lambung pohon akasia tua, tampak seperti beludru hijau zamrud yang menyerap uap air rimba. "Lumut di batang pohon ini bernafas, cacing di tanah lembab ini bertasbih, akar-akar yang mencengkeram tebing cadas ini memuji Nama-Nya tanpa henti. Betapa hinanya manusia jika berjalan melintasi lembah ini dengan dada membusung, menganggap dirinya pemilik satu-satunya hak hidup di bumi ini."

Kesadaran itu menghantamnya dengan rasa gentar yang kudus. Di kota asalnya, manusia sibuk membangun menara kebanggaan dan meributkan angka-angka fana. Namun di sini, di bawah rengkuhan sunyi hutan purba Gunung Semeru, satu desau angin kencang saja sudah cukup untuk menggugurkan kesombongan paling pongah yang pernah dipelihara peradaban modern.

Di depannya, sejauh lima depa, Fardhan Nazhiran berjalan tanpa suara. Pria itu bertubuh ramping dengan mantel kanvas kelabu tua yang tampak menyatu dengan warna batang pepohonan. Tas punggung carrier seberat dua puluh kilogram di pundak Fardhan seolah tak berbobot sama sekali. Ayunan tungkai Fardhan begitu efisien, nyaris melayang di atas bebatuan licin tanpa menimbulkan suara gemeretak ranting patah. Sikap diam Fardhan sejak fajar menyingsing di Pos 1 bukanlah kebisuan biasa—ada kewaspadaan hening yang terpancar dari tegaknya tengkuk pria itu, seperti seekor macan tutul Jawa yang mengendus perubahan halus dalam komposisi udara belantara.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02: Menatap Jurang dan Daging Basah Bumi

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

"Lihat jejak ini, Arga. Tidak ada tapak sepatu, langkahnya seringan kapas. Jangan berani-berani menoleh ke kiri jika mendengar bisikan memanggil namamu."

Jalur setapak kian menyempit ketika punggungan bukit berbelok tajam ke arah timur. Di sebelah kiri mereka berdiri tebing batu cadas basah yang ditumbuhi paku sarang burung, sementara di sisi kanan menganga jurang terjal tanpa dasar yang ditelan kabut pekat. Pada tikungan tanah liat yang terlindung dari siraman sinar mentari, Fardhan tiba-tiba membeku. Tangannya yang terbalut sarung tangan wol terangkat setengah dada, memberi isyarat mutlak agar Arganata menghentikan langkah seketika.

Arganata menahan kaki kanannya di udara sebelum menurunkannya perlahan tanpa suara. Seluruh indranya menegang. Udara di sekeliling mereka yang semula sejuk segar mendadak berubah secara ganjil—kelembaban udara melonjak tajam dalam hitungan detik, terasa begitu kental, dingin, dan berbobot laksana uap air es yang ditekan langsung ke dinding dada. Setiap tarikan napas terasa berat, seakan oksigen telah tersedot habis oleh ruang hampa tak kasat mata.

"Maju perlahan, Arga. Jangan injak sisi kanan," bisik Fardhan. Suaranya serendah dengungan lebah di dalam gua, namun sarat getaran urgensi yang sanggup membekukan sumsum tulang.

Arganata merapatkan tubuhnya ke dinding tebing basah dan melangkah setapak demi setapak mendekati Fardhan. Pandangannya mengikuti telunjuk Fardhan yang terarah ke tanah liat merah kehitaman di tepi jurang curam. Seketika bulu kuduk di sepanjang leher dan lengannya meremang tegak.

Tanah liat di bagian itu tidak memadat seperti lumpur pegunungan pada umumnya. Permukaannya berkilat mengilap oleh lapisan lendir kelembaban dingin, memiliki tekstur yang kenyal dan tampak berdenyut samar—mirip gumpalan daging mentah basah yang baru disayat. Dan tepat di atas permukaan tanah liat berdaging basah itu, tercetak sebuah jejak kaki manusia. Telanjang, tanpa pelindung sol bot apa pun.

Namun itu bukan tapak kaki manusia biasa. Lekukannya terlampau ramping dan memanjang secara tak wajar, dengan lengkung telapak bagian dalam yang membentuk kurva tajam laksana busur panah. Kelima jarinya tercetak dengan kejelasan mikroskopis: ramping, panjang melebihi proporsi normal, dengan ujung-ujung jemari yang menancap terlalu dalam ke tanah liat seolah memiliki cakar halus yang mencengkeram ke bawah. Anehnya, dasar jejak kaki itu tergenang oleh selapis air bening yang sama sekali tidak keruh, memantulkan bayangan langit kelabu dengan kejernihan seperti kaca cermin.

Yang paling membuat dada Arganata berdesir dingin adalah kesinambungan jejak tersebut. Jejak itu hanya berjumlah satu tapak tunggal di tengah lumpur, lalu melangkah satu kali lagi tepat di bibir jurang batu yang runtuh ke jurang sedalam ratusan meter—dan setelah itu, lenyap. Tidak ada tapak kaki berikutnya. Tidak ada serakan tanah liat yang terlempar ke bawah. Tidak ada sehelai ranting akasia rapuh pun yang patah di bibir jurang tersebut. Pemilik jejak itu seolah-olah melangkah dari kehampaan, menjejakkan bobot seringan kapas di tanah liat daging basah, lalu melayang menguap ke dalam kabut jurang.

"Lihat jejak ini, Arga," bisik Fardhan lagi. Rahang pria itu mengeras, matanya menatap nanar ke arah kabut putih yang bergolak di bawah jurang. "Tidak ada tapak sepatu, langkahnya seringan kapas. Jangan berani-berani menoleh ke kiri jika mendengar bisikan memanggil namamu. Sekali kau menoleh untuk menjawab, jurang ini tidak akan pernah mengembalikan suaramu."

Getaran udara semakin berat menekan pelipis Arganata. Bau anyir tanah yang bercampur aroma belerang samar menguar dari lekukan jejak itu, membuat lambungnya mual oleh rasa takut hewani yang tertanam purba dalam DNA manusia saat berhadapan dengan predator tak kasat mata.

Namun di tengah kepungan rasa gentar itu, hati nurani Arganata menolak untuk runtuh. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang melalui rongga hidungnya yang pedih oleh udara dingin, lalu memusatkan seluruh kesadarannya pada lafal zikir khafi yang berdegup di dinding jantungnya. Ketakutan adalah bayangan, dan bayangan hanya ada jika manusia lupa bahwa terang rahmat Tuhan meliputi setiap jengkal semesta.

Arganata membuka matanya. Pandangannya tenang menatap wajah tegang rekannya. "Jika yang memanggil adalah makhluk ciptaan Allah, Mas Fardhan, maka ia tak punya kuasa sedikit pun menyakiti kecuali atas izin pemilik Arasy. Tanah ini milik-Nya, jurang ini ciptaan-Nya, dan nafas di dada kita pun hanya pinjaman yang bisa ditarik kapan saja. Teruskan langkah kita dengan bismillah."

Fardhan menatap Arganata dengan tatapan yang sulit diartikan. Di mata pria pemandu itu, berkelbat campuran rasa takjub, kegetiran yang mendalam, dan kilatan duka lama yang terkubur rapat di bawah kelopak matanya.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 03: Wangi Cempaka di Palung Ingatan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya