"Kemurnian alam adalah cermin bagi jiwa; ia hanya memantulkan ketulusan hati yang memandangnya."
βββ βΎ πΌ βΎ βββ
Bagian 01 : Uap Beku di Pelataran Kabut
βββ ββ ββ β βββ
Ketika tapak sepatu bot Arganata menghujam lapisan tanah gembur terakhir di gigir lembah, dunia mendadak kehilangan seluruh suaranya. Seolah-olah gravitasi dan waktu bersepakat untuk mengendap, menyisakan desau tipis oksigen yang terasa begitu mahal dan tajam menusuk rongga dadanya. Di hadapannya, pada ketinggian dua ribu empat ratus meter di atas permukaan laut, permukaan danau seluas lima belas hektar itu terhampar bagai cermin raksasa tanpa sebutir riak pun. Air bening kehijauan itu membentang mutlak, tenang dengan keangkuhan yang kudus, menelan bayang-bayang bukit pinus yang mengepungnya dalam keheningan agung.
Kabut putih melayang beberapa jengkal persis di atas air, merayap lembut laksana helai selendang sutra yang ditinggalkan seorang dewi purba. Udara pagi meneteskan gigil di bawah nol derajat Celsius; bulir-bulir embun upas telah mengkristal di pucuk-pucuk ilalang, membekukan helai rumput menjadi bilah-bilah kaca rapuh yang bergemertak pelan ketika diinjak. Tubuh Arganata basah kuyup oleh peluh yang mulai mendingin menjadi mantel es di balik jaket gore-tex miliknya. Namun berat ransel seberat delapan belas kilogram di punggungnya mendadak terasa tak lagi bermakna.
Dengan tangan yang gemetar oleh sisa-sisa asam laktat yang membakar persendian panggul, Arganata melonggarkan sabuk pengaman dada, lalu melepaskan beban di punggungnya ke atas tanah. Ransel itu terhempas dengan debum pelan yang segera ditelan lumut. Tanpa menunggu napasnya teratur, tanpa menoleh pada Fardhan yang masih sibuk mengencangkan tali sepatunya beberapa depa di belakang, kedua lutut Arganata melesak ke bumi.
Ketika lutut Arganata menyentuh hamparan rumput basah di tepi Kumbolo, udara dingin seakan menguap digantikan oleh kehangatan spiritual yang tak terdefinisikan. Dahinya mencium tanah gersang berselimut es tipis. Hidungnya menghirup aroma humus purba, lumut basah, dan mineral belerang yang terbawa angin dari kawah Jonggring Saloko yang jauh di utara. Di titik itulah kelelahan fisiknya sirna seketika, namun digantikan oleh debar dada yang jauh lebih menyakitkan: sebuah ketelanjangan nurani di hadapan kemahakuasaan ciptaan Sang Khalik.
Dalam sujud yang panjang itu, air mata yang tertahan selama tujuh jam pendakian dari pos Ranupani akhirnya merembes, menetes di antara sela jemarinya yang pucat pasi, lalu diserap oleh butir-butir tanah vulkanik. Ia tidak sedang berdoa memohon keselamatan raga. Ia bersujud karena tak sanggup lagi berdiri tegak di bawah tatapan langit Mahameru yang begitu jujur.
Ketika Arganata perlahan mengangkat kepalanya dan duduk bersimpuh, matanya tertumbuk pada hamparan air hijau toska di depannya. Danau itu tidak bergeming. Tidak ada satu pun riak kecil yang berani merusak simetri sempurna bayangan pohon cemara gunung di dasarnya.
"Air ini begitu tenang karena ia tidak pernah memamerkan kedalamannya," bisik Arganata dalam relung batinnya yang paling gulita. "Hatiku... mengapa masih sering bergelombang oleh prasangka dan kekhawatiran duniawi? Mengapa di tempat semurni ini, yang tercium dari napasku sendiri hanyalah bangkai kepengecutan?"
Di atas air Ranu Kumbolo yang hening, ingatannya terlempar mundur sembilan tahun ke masa silamβke sebuah bilik pesantren berselubung aroma tembakau krosok dan minyak kasturi di pedalaman Jawa Timur. Kilasan itu datang bukan sebagai nostalgia yang manis, melainkan sebagai hantaman palu godam di ulu hati.
βββ βΎ πΌ βΎ βββ
Bagian 02 : Bayang-bayang di Tajug Tua
βββ ββ ββ β βββ
Arganata teringat wejangan guru ngajinya, Kyai Ma'shum, sosok bertubuh kurus dengan sorot mata laksana elang pemburu yang jarang sekali tersenyum. Setiap kali ba'da Subuh di serambi tajug utama, ketika kabut lembah desa masih menggantung di pucuk pohon kelapa, sang guru kerap berujar dengan suara parau yang menggetarkan dinding kayu jati:
"Jadikan hatimu seperti telaga di puncak gunung, Arga. Siapa pun yang melempar batu ke dalamnya, ia hanya akan menimbulkan riak sesaat sebelum kembali hening merengkuh bayang-bayang langit."
Dahulu, Arganata menelan kalimat itu sebagai doktrin kemuliaan. Ia mengira hati seorang mukmin sejati haruslah kebas dari segala getar emosi, membatu di hadapan rasa sakit, dan berdiri pongah dalam kesucian tanpa cacat. Namun ia melupakan kenyataan berdarah di balik dinding pesantren itu: tuntutan kesucian absolut itu ditegakkan dengan rasa takut yang menghancurkan tulang-belulang nurani santri-santri yang rapuh.
Memori itu kini hidup kembali dengan kejam di tepian Kumbolo. Arganata dapat merasakan kembali betapa dinginnya ubin marmer tajug pada pukul dua dini hari. Hukuman fisik itu disebut para ustadz pembina sebagai ta'zir penyucian nafsu.
Malam itu, ketika hujan lebat mengguyur atap seng asrama, Arganata dan Zulfaqarβsantri yatim bertubuh ceking yang selalu menyisihkan jatah nasinya untuk kucing liarβdihukum berdiri bertelanjang dada di teras terbuka tajug. Dosa mereka? Kitab kuning Syarah Fathul Qarib milik menantu sang Kyai hilang dari lemari pengimaman, dan Zulfaqar dituduh mencurinya untuk dijual ke loakan pasar kecamatan.
Padahal bukan Zulfaqar yang mengambilnya. Arganatalah yang malam sebelumnya meminjam kitab bertinta emas itu tanpa izin untuk mencocokkan bab faraidh demi mengejar predikat santri teladan dalam ujian bahtsul masail. Saat terburu-buru kembali sebelum lonceng jam malam berdentang, Arganata menyelipkannya di celah bawah tumpukan karpet mimbar dan lupa mengembalikannya.
Ketika Ustadz Bahri mengacungkan sebilah rotan basah yang telah direndam air garam, Arganata hanya mematung di samping Zulfaqar dengan lidah yang mendadak kelu laksana tembaga panas. Satu sabetan rotan itu mendesing di udara malam, lalu menghantam punggung kurus Zulfaqar dengan bunyi debur daging yang robek.
Zulfaqar tidak menjerit; anak itu hanya menggigit bibirnya sampai darah mengucur dari sudut mulutnya, sementara kedua bola matanya menatap Arganata dengan tatapan yang sampai detik ini membakar setiap mimpi malam Arganata.
"Katakan siapa yang menyuruhmu lancang mencuri, Zulfaqar!" bentak Ustadz Bahri waktu itu, rotan kembali berayun menyasar betis Zulfaqar hingga anak itu ambruk berlutut di marmer basah.
Arganata membuka mulutnya, namun yang keluar dari kerongkongannya hanyalah tarikan napas pengecut. Ia takut dibuang dari lingkaran santri kesayangan Kyai. Ia takut nama ayahnya di kampung tercemar. Ia membiarkan Zulfaqar menanggung aib itu sendirian hingga subuh menjelang, hingga anak malang itu diusir keluar dari gerbang pesantren dengan pakaian lusuh tanpa sepeser pun uang saku.
Tiga tahun kemudian kabar itu datang: Zulfaqar meninggal dalam kemiskinan di pesisir Pasuruan akibat demam paru-paru basah yang tak terobati. Sejak hari itu, setiap kali Arganata membaca ayat-ayat tentang ketenangan jiwa dan surga yang dialiri sungai-sungai jernih, tenggorokannya tercekat rasa mual. Ketenangan Ranu Kumbolo di hadapannya saat ini bukanlah penghibur; danau ini justru bertindak sebagai cermin raksasa yang menampakkan borok kemunafikan yang selama ini ia sembunyikan di balik jubah kesalehan artifisial.
βββ βΎ πΌ βΎ βββ