Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Malam Dingin Bertasbih

MALAM DINGIN BERTASBIH DI BAWAH BIMA SAKTI.

"Hawa dingin menggigit tulang rahang, namun air wudhu dari mata air Kumbolo justru menyuntikkan api kesadaran yang luar biasa di dalam dada Arganata. Saat keningnya mencium tanah beku dalam sujud panjang, aroma kesturi dan cempaka kuning menyusup lembut di antara bau tanah basah yang dingin, menghapus sekat-sekat antara doa dan realitas yang selama ini ia genggam."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Tirai Kristal di Tepi Kumbolo

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Dunia di luar sana telah dipahat menjadi patung kaca raksasa. Jarum termometer analog di kantung samping ransel Arganata terhenti kaku pada angka minus dua derajat Celsius, seakan merkuri di dalamnya pun telah kehilangan keberanian untuk sekadar berdenyut. Di balik dinding tenda dome nilon yang meregang tegang diterpa embusan angin dingin pegunungan, suara gesekan lembut terdengar tanpa hentiβ€”butir-butir embun upas, atau frost yang membeku seketika saat menyentuh flysheet, membentuk kerak kristal putih berkilauan layaknya serpihan intan yang ditaburkan tangan-tangan malaikat pengawas malam.

Keheningan di savana Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut bukanlah keheningan biasa; ini adalah hening purba yang memiliki massa, menekan gendang telinga dengan dengungan halus yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang dilanda ketakutan mendalam atau kepasrahan mutlak. Tiga belas meter di depan tendanya, permukaan Danau Kumbolo terbentang tak beriak, mengilap pekat menyerupai cermin obsidian hitam. Pada tepian-tepian batu kali yang menyentuh bibir air, selaput es tipis telah mengunci ganggang dan lumut dalam perangkap beku yang anggun. Kabut putih melayang sangat rendah, beringsut perlahan di atas muka air seumpama gaun sutra penari kahyangan yang enggan menjejak bumi.

Di dalam kantung tidur (sleeping bag) berbulu angsa yang telah sobek pada bagian kelimannya, Arganata membuka matanya. Tidak ada proses transisi lambat dari mimpi menuju terjaga; kesadarannya tersentak bagai ditarik tali busur yang dilepas mendadak. Udara yang ia hirup melalui celah kecil penutup muka terasa seperti serutan es batu yang menggores dinding laringnya. Jantungnya berdegup dalam ketukan timpang, menuntut kehangatan yang tak mampu disediakan oleh selembar kain sintesis.

Namun bukan gigilan hipotermia yang membuat dadanya sesak. Ada sesuatu yang jauh lebih dingin dan tajam yang bersarang di ulu hatinya: waktu ibunya di bangsal steril Rumah Sakit Saiful Anwar Malang sedang dihitung mundur oleh desis mesin ventilator. Dan sekuntum cempaka kuning gaib yang konon menjadi satu-satunya peluruh kutukan silsilah keluarga mereka masih tersembunyi ribuan kaki di atas kepalanya, di balik dinding kabut tebal Semeru.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02 : Wudhu Air Beku dan Panggilan Jiwa

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Arganata menarik resleting tendanya perlahan, berusaha menahan derit logam agar tidak membangunkan Danu yang meringkuk seperti trenggiling di sudut lain. Begitu kepala dan bahunya menyembul ke alam terbuka, hawa dingin menggigit tulang rahangnya tanpa ampun. Udara savana seakan menghisap seluruh panas tubuhnya dalam hitungan detik. Namun, alih-alih merapatkan jaket bulu angsanya, pemuda itu justru melangkah dengan tumit gemetar menuju ceruk mata air terlindung di sisi barat danau.

Sentuhan pertama air wudhu dari mata air Kumbolo itu menghantam kulit wajah dan tangannya bukan seperti air, melainkan ratusan jarum beling yang ditusukkan serempak. Arganata terkesiap. Seluruh saraf di pangkal lehernya menegang, membakar rasa kantuk dan keputusasaan menjadi api kesadaran yang luar biasa di dalam dadanya. Saat ia membasuh kedua telinga dan menyela-nyela jemari kakinya yang membiru, dingin itu berhenti menjadi siksaan; ia menjelma menjadi semacam pembersih metafisik, membilas karat dosa dan keangkuhan intelektual yang selama bertahun-tahun ia pelihara di bangku kampus perkotaan.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 03 : Dialog Batin di Hadapan Bentangan Kosmik

Lihat selengkapnya