Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Tanjakan Cinta dan Ujian Niat

KUTIPAN KUNCI: "Istiqomah adalah kemampuan melangkah di tanjakan terjal kehidupan tanpa tergoda untuk menengok pada kemegahan dunia yang telah ditinggalkan."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


BAGIAN 01: NAPAS YANG MENGHITUNG DERAJAT KEMIRINGAN

Kutipan: "Bumi tidak pernah meminta maaf atas kecuramannya; manusialah yang harus merendahkan hatinya agar tapak kakinya tak tergelincir."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lereng itu membentang di hadapannya bagai punggung raksasa purba yang sedang bersujud—kemiringan empat puluh lima derajat tanpa ampun, dibalut jubah rumput ilalang basah dan tanah vulkanis berdebu kelabu yang mudah runtuh oleh gesekan sekecil apa pun. Pukul tujuh lewat lima belas menit pagi. Sang surya baru saja merangkak keluar dari peraduan timur di balik cemara-cemara keramat Ranu Kumbolo, menembakkan seberkas lidah cahaya keemasan yang menembus sisa-sisa halimun dingin. Di bawah sana, danau legendaris itu tampak memudar pelan-pelan, seperti kepingan cermin zamrud yang ditiup embun beku empat derajat Celsius. Uap air yang mengepul dari permukaan air dan rumput liar perlahan melayang naik, tersapu angin gunung yang kering dan tajam, menusuk rongga hidung Arganata dengan aroma belerang purba, lumut basah, dan debu tanah kapur.

Arganata menyandarkan bobot tubuhnya sejenak pada kedua tongkat pendakiannya. Otot betisnya mengeras serupa kawat tembaga yang diregangkan melampaui batas elastisitasnya. Ransel carrier enam puluh lima liter yang menempel erat di punggungnya serasa berisi sebongkah batu karang dari masa lalu—tali pengikat dada menekan tulang selangka hingga perih, mengingatkannya pada setiap gram dosa dan penyesalan yang belum sepenuhnya lunas dihitung. Butiran keringat dingin merembes dari balik penutup kepala wolnya, menyusuri pelipis, lalu menetes ke tanah kelabu di depan ujung sepatunya. Keringat yang ganjil, lahir dari perpaduan siksaan fisik yang membakar dan hawa udara Semeru yang membekukan tulang.

Ia sengaja menundukkan pandangannya. Matanya hanya terpaku pada radius setengah meter di depan ujung sol vibram-nya: akar-akar rumput yang mencengkeram tanah lapuk, kerikil andesit yang sewaktu-waktu bisa memicu longsoran mini, dan debu kering yang mengepul tipis setiap kali tapaknya menjejak. Inilah hukum pertama yang ia tetapkan bagi dirinya sendiri sejak kaki kanannya menginjak tapak awal tanjakan ini: ghadhul bashar—menjaga pandangan, bukan sekadar dari keelokan dunia fana, tetapi dari ilusi kemegahan yang menipu nurani. Setiap embusan napasnya ia hitung secara sadar; empat ketukan zikir saat paru-parunya mengembang menghisap udara tipis beroksigen rendah, dan empat ketukan istigfar saat ia menghembuskan kepulan uap putih ke udara terbuka.

"Bumi tidak pernah meminta maaf atas kecuramannya," bisik batin Arganata serak, tenggorokannya tercekat oleh debu halus yang mulai melapisi kerongkongan. "Manakalah manusia yang kerap menuntut jalan datar menuju surga, padahal setiap jengkal tangga rohani selalu menuntut koyaknya urat kesombongan."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


BAGIAN 02: PANTANGAN MENOLEH DAN DANGKALNYA MITOS DUNIAWI

Kutipan: "Cinta yang dibangun atas dasar rida Allah tidak akan runtuh hanya karena lehermu berpaling."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Di depannya, kira-kira lima belas langkah di atas jalur tikus yang berliku, sekelompok pendaki muda berpakaian warna-warni mentereng sedang berjuang melawan gravitasi. Suara tawa yang dipaksakan dan celoteh riuh mereka terdengar sumbang di tengah keheningan lereng yang sakral. Salah seorang di antara mereka—seorang pemuda berjaket parasut merah menyala dengan kamera aksi terpasang di tali bahunya—tiba-tiba berhenti mendadak, mencengkeram rumput dengan tangan gemetar sembari memekik panik ke arah rekannya di belakang.

"Woi, Rio! Jangan nengok, bego! Tetap lurus ke atas! Kalau lu nengok ke Danau Kumbolo sekarang, putus lu sama si Nadine! Mitos Tanjakan Cinta itu nyata, sumpah!" teriak pemuda itu dengan napas tersengal-sengal.

Arganata menahan langkahnya, berdiri tegak menjaga keseimbangan di atas tanjakan yang semakin licin. Kata-kata pemuda itu mendengung di kepalanya bagai dengung lalat di pekuburan sunyi. Betapa murahannya cinta dalam kamus peradaban hari ini. Ditempelkan pada dongeng takhayul lereng gunung, digantungkan pada mitos rapuh tentang arah leher yang berputar. Mereka rela menyiksa sendi lutut mereka, mendaki tanpa menoleh ke belakang setapak pun, bukan karena tunduk pada keagungan Sang Maha Pencipta bentang alam ini, melainkan semata-mata karena ketakutan konyol akan kehilangan sejumput asmara fana yang belum tentu halal.

Pemuda berjaket merah itu menoleh sedikit ke samping saat Arganata menyusul langkahnya dengan ritme yang tenang dan konstan. Pemuda itu mengusap ingus yang mengering di bibir atasnya karena hawa dingin, lalu menyapa Arganata dengan nada cemas bercampur sok akrab.

"Mas! Mas yang bawa carrier gede! Mas, jangan nengok ke belakang ya! Nanti putus cintanya sama pacar! Banyak yang nyesel lho, Mas, gara-gara iseng selfie ke arah danau terus pas nyampe rumah langsung bubar!"

Arganata menatap pemuda itu melalui celah tudung jaketnya. Matanya yang cekung memancarkan keteduhan yang sedingin air telaga, namun sarat dengan ketegasan yang tak terbantahkan. Ia berhenti tepat satu tapak di samping pemuda itu, membiarkan dadanya turun naik dalam ritme yang teratur sebelum menjawab dengan suara pelan namun menembus desau angin lereng.

"Dek," ujar Arganata, dan kata itu jatuh begitu berat di antara mereka. "Cinta yang dibangun atas dasar rida Allah tidak akan runtuh hanya karena lehermu berpaling. Yang menjaga ikatan cinta itu adalah basahnya doa di sepertiga malam terakhir saat seluruh bumi tertidur, bukan mitos tanah tanjakan yang kalian keramatkan ini. Kalau hubunganmu hancur hanya karena sepasang mata menatap danau di belakang, maka yang hancur itu bukan cinta, melainkan berhala hawa nafsumu sendiri."

Pemuda berjaket merah itu ternganga. Mulutnya setengah terbuka, lidahnya kelu tak mampu menyusun sanggahan. Angin gunung berhembus mendadak kencang, menggoyangkan dedaunan cemara di kejauhan dan menerbangkan debu di sela sepatu bot mereka. Arganata tidak menunggu jawaban. Ia kembali menundukkan kepala, mengayunkan tongkatnya ke depan dengan sentakan mantap, meninggalkan pemuda itu membeku dalam perenungan yang tiba-tiba menampar kesadarannya.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Lihat selengkapnya