Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Lembah Ungu dan Halimun Misterius

"Kabut turun begitu pekat, seakan-akan awan langit jatuh terhempas ke bumi. Di dalam keheningan yang menyesakkan itu, setiap butir uap air bergetar. Dan di sanalah, di antara tangkai-tangkai bunga ungu yang bergoyang pelan, tirai putih itu tersibak... memperlihatkan siluet gunung yang berdiri tegak dalam megahnya bisikan alam."

Kutipan Kunci: "Bila kabut menutupi pandangan mata lahiriah, biarkan mata hati yang mengambil alih kemudi langkahmu."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Lautan Ungu di Bawah Gerbang Cemoro Kandang

Hembusan Angin Pertama (2.460 mdpl)

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Ada saat-saat di mana bumi berhenti sekadar menjadi tanah pijakan, dan menjelma menjadi lembaran kanvas takdir yang teramat sunyi. Ketika kaki kami menuruni undakan terakhir dari punggungan Tanjakan Cinta dan menyentuh pelataran dasar Oro-oro Ombo, napas kami seketika tertahan di tenggorokan. Di hadapan kami terbentang permadani raksasa: lebih dari dua puluh hektar bunga Verbena brasiliensis sedang mekar sempurna, membentangkan selimut ungu kebiruan sejauh mata sanggup menjangkau batas cakrawala lembah.

Kala itu, matahari sore baru saja menggelincir condong ke barat daya. Sinar keemasannya yang temaram membias di atas mahkota jutaan kuntum ungu, menciptakan ilusi gelombang samudra kirmizi yang berdesir pelan diterpa angin pegunungan berketinggian dua ribu empat ratus meter. Namun, di balik kemegahan visual yang memabukkan tersebut, ada rasa getir yang ganjil menjalari tengkukku. Udara di sekeliling kami mendadak berubah berat, membawa muatan dingin yang tak lazim bahkan untuk ukuran dataran tinggi Semeru.

Fardhan Nazhiran berjalan tiga langkah di depanku. Langkah kakinya yang kokoh, ditopang sepasang trekking pole karbon, mendadak melambat. Tubuh jangkungnya menegak kaku. Carrier seberat dua puluh kilogram di punggungnya seakan tak lagi berbobot dibanding ketegangan yang mendadak terpancar dari otot lehernya. Ia melepaskan sarung tangan polar-nya, lalu membasuh kening yang berkeringat meski termometer mini di ranselnya telah merosot ke angka delapan derajat Celsius.

"Ada yang tidak beres, Arga," bisik Fardhan tanpa membalikkan badan. Suaranya serak, teredam oleh desau ranting cemara gunung yang mulai bergesekan gelisah di tepi barat lembah.

Aku menghentikan langkah. Kurasakan detak jantungku berdegup dengan irama ganjilβ€”bukan kelelahan fisik usai menempuh jalur Ranu Kumbolo, melainkan semacam resonansi batin yang menggetarkan rongga dada. Bunga-bunga verbena di sekitar mata kakiku bergesekan lembut dengan kain celana lapangan kami, menghasilkan suara desau halus serupa desahan napas purba yang tertahan ribuan tahun di balik cekungan kaldera.

---

Peringatan itu datang tanpa genderang, tanpa tanda-tanda petir atau runtuhan batuan. Dari arah celah hutan pinus Cemoro Kandang di punggung utara, gumpalan kabut tebal merayap turun dengan kecepatan yang mengerikan. Halimun itu tidak turun laksana tirai tipis biasa, melainkan bergulung-gulung padat laksana ombak susu raksasa yang menelan vegetasi pinus lapis demi lapis.

Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh kemegahan ungu Oro-oro Ombo musnah. Jarak pandang lima puluh meter menyusut menjadi sepuluh meter, lalu lima meter, hingga akhirnya menjadi hamparan putih pekat yang membutakan. Cahaya matahari sore terserap habis, menyisakan keremangan pucat yang menindih kesadaran.

Fardhan segera merogoh kantong dada jaket gore-tex miliknya. Ia menarik keluar kompas bidik Suunto kesayangannyaβ€”alat presisi militer yang menjadi komandannya selama tujuh tahun memimpin ekspedisi di tiga belas gunung tertinggi Nusantara. Ia meratakan telapak tangannya, mensejajarkan kompas setinggi dada, lalu menyipitkan mata.

Namun, apa yang kulihat di mata Fardhan saat itu adalah kengerian murni. Jarum kompas berujung merah itu tidak menunjuk ke arah utara magnetik. Jarum itu gemetar liar, berputar seratus delapan puluh derajat ke selatan, berbalik setengah lingkaran, lalu berputar kencang tanpa henti laksana baling-baling yang kehilangan poros gravitasi.

"Sialan... deklinasi magnetik apa ini?!" geram Fardhan dengan napas tersengal. Jarinya mengetuk-ngetuk kaca kompas dengan panik, berharap itu hanya hambatan statis atau pengaruh pasir besi lokal. "GPS Garmin di ponselku kehilangan sinyal satelit total sejak kita menginjak bibir lembah. Arga, jangan bergerak dari tapak kakimu! Kompas ini gila!"

Fardhan bernapas memburu. Baginya, kompas bukan sekadar jarum bermagnet; itu adalah jangkar kewarasan, benteng pertahanan terakhir yang memisahkan manusia dari maut di belantara liar. Ketika jarum itu berputar kalap, dunia logis Fardhan ikut runtuh berkeping-keping.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02 : Getar Nurani dan Aroma Cempaka Purba

Dialog Batin Arganata β€” Pintu Gerbang yang Tersembunyi (2.460 mdpl)

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Anehnya, saat Fardhan dicekam kepanikan purba, jiwaku justru dihampiri oleh rasa damai yang ganjil dan tak terperikan. Rasanya seperti bayi yang baru saja dibaringkan di atas pangkuan ibunya setelah mengarungi badai panjang. Kabut tebal yang mengepung kami tidak terasa dingin menggigit, melainkan hangat dan lembut, seakan-akan ia bukan ancaman melainkan tabir penyambut yang dirajut khusus untuk menutup pandangan mata yang pongah.

Kutarik napas dalam-dalam melalui hidung. "Kabut ini tidak berbau basah biasa; ada aroma wangi getah pinus dan cempaka purba yang menusuk qolbu. Apakah ini pintu gerbang yang disembunyikan dari mata kasar manusia?" gumamku dalam kesenyapan kalbu yang terdalam.

Bulu kudukku meremang, namun bukan karena teror kengerian. Bau cempaka purba itu begitu akrab, mengaburkan batas antara waktu kini dan ruang masa lampau yang terkubur. Mengapa aroma pusaka leluhur tanah Jawa ini tercium begitu semerbak di tengah padang rumput liar Semeru? Di kedalaman jiwaku, ada sebuah pintu yang selama ini terkunci rapat mendadak berderit membuka.

Kutatap Fardhan yang sedang berlutut di tanah berpasir, membuka ranselnya dengan tangan gemetar untuk mengeluarkan patok bivak darurat. Fardhan adalah lambang manusia modern yang memandang alam sebagai rumus fisika, derajat kemiringan, dan indeks risiko hipotermia. Namun aku? Aku selalu merasa bahwa setiap puncak dan lembah adalah mihrab peribadatan semesta tempat rahasia-rahasia wujud disingkapkan satu per satu.

---

Lihat selengkapnya