Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Sekuntum Cempaka di Balik Kabut

Halimun Pertemuan & Getar Nurani. Lokasi: Batas Hutan Cemoro Kandang & Sabana Oro-oro Ombo (2.480 mdpl), Lereng Mahameru

Kutipan Kunci: "Pandangan pertama yang suci bukanlah tentang memikat rupa, melainkan getaran nurani yang mengakui kemuliaan akhlak."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya

Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) β€” Dingin yang Menggigit Tulang

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Hawa dingin di ketinggian 2.480 meter di atas permukaan laut itu tidak sekadar merayap; ia menikam seperti puluhan jarum es yang menembus serat kain wol lusuh milik Arganata. Setiap tarikan napas terasa bagai menelan serpihan kaca tajam, menyisakan perih membakar di pangkal tenggorokannya. Uap putih pekat meluncur dari bibirnya yang telah pecah-pecah dan membiru, berbaur seketika dengan halimun tebal yang bergulung-gulung bagai ombak samudra tak kasat mata di perbatasan Hutan Cemoro Kandang.

Pepohonan pinus tua dan cemara gunung berdiri serupa barisan raksasa purba yang membisu. Batang-batang mereka yang berlumut lumut kerak kelabu tegak angkuh, melindunginya dari terpaan badai punggungan, namun sekaligus mengurungnya dalam labirin kehampaan yang mencekam. Di sanalah, ketika langkah Arganata mulai limbung dan lutut kanannya gemetar hebat karena hantaman hipotermia yang nyaris merenggut kesadarannya, keajaiban fajar Mahameru merekah.

Sinar matahari pagi yang baru saja menembus punggungan timur membedah kabut basah, melesat melewati sela-sela tajuk cemara dalam bentuk tiang-tiang cahaya mistisβ€”god rays yang gemilang dan suci. Partikel embun yang melayang di udara berpendar bagai debu intan yang ditaburkan dari langit Arasy. Di tengah jalur cahaya surgawi itu, aroma tanah basah dan jarum pinus mendadak tersapu oleh keharuman yang ganjil namun menentramkan: wangi semerbak bunga cempaka yang teramat pekat, menembus dingin yang mematikan saraf penciumannya.

"Ibu..." bisik Arganata lirih, suaranya parau tercekik. Jemari tangannya yang kaku kian erat mencengkeram seutas tasbih kayu cendana tua warisan ayahnya. Butir-butir tasbih itu telah licin oleh peluh dingin dan darah dari telapak kakinya yang melepuh menjejak bebatuan cadas terjal tanpa alas sejak pos Ranu Pani. "Jika langkah hamba harus terhenti di batas cemoro ini, ampuni hamba yang belum sempat membawa penawar bagi dingin yang melilit dadamu..."

Namun langkahnya menolak untuk menyerah. Dipandu oleh semerbak wangi cempaka yang tak lazim tumbuh di ketinggian sabana beku ini, Arganata menyeret kakinya menembus semak perdu pakis haji, menuju sebuah celah tersembunyi di mana dinding batu vulkanik hitam menjulang bagai gerbang istana yang terkubur zaman.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 02 : Ceruk Batu Vulkanik & Sekuntum Cempaka Emas

Pusaka di Balik Cadar Abadi β€” Pendar Cahaya Lembut

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Di balik rekahan dinding basaltik hitam yang pernah dimuntahkan kawah Jonggring Saloka berabad-abad lampau, sebuah mikrokosmos rahasia terbentang. Angin kencang lereng Mahameru seakan mendadak diredam oleh dinding tak kasat mata saat Arganata melangkahi celah sempit itu. Suasana berubah hening, sedemikian hening hingga detak jantungnya sendiri berdegup bagai genderang perang di rongga dadanya.

Di sanalah, tepat di tengah ceruk batu vulkanik yang terlindung dari serbuan badai es, tumbuh sebatang pohon cempaka. Batangnya tidak terlampau tinggi, namun kekar dan berlekuk anggun, diselimuti beludru lumut emas yang berkilauan ditimpa berkas sinar matahari pagi. Daun-daunnya rimbun menghijau zamrud, menentang segala hukum alam vegetasi alpine yang lazimnya kerdil dan gersang di ketinggian ini.

Dan di antara rimbun dedaunan itu, kuntum-kuntum bunga cempaka berwarna kuning keemasan mekar sempurna. Kelopak-kelopaknya yang tebal memancarkan pendar cahaya lembutβ€”bukan silau yang membutakan, melainkan pendaran hangat serupa bara sekam yang menepis gigil hawa pegunungan. Setiap helai kelopak tampak bening bagai pualam sorgawi, meneteskan embun fajar yang beraroma sedap malam berpadu madu rimba.

Arganata tercekat. Seluruh rasa sakit di persendiannya seolah lenyap seketika, digantikan oleh gelombang kekaguman yang membuat bulu kuduknya meremang. Inilah pohon yang disebut dalam igauan demam ibunya; pohon cempaka mustika yang konon getah dan sari bunganya sanggup mengembalikan kehangatan darah yang nyaris membeku oleh 'Kutukan Hawa Pasir'. Namun, sebelum tangannya yang gemetar terangkat untuk menggapai dahan terendah, kesadarannya menangkap sebuah siluet yang telah lebih dahulu berdiri di sana, menyatu dengan halimun pagi.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 03 : Perjumpaan Suci & Getar Haya'

Batas Dua Dimensi β€” Tatapan yang Terjaga dan Menunduk

─── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ───

Gadis itu berdiri di samping batang cempaka yang berlumut emas. Pakaiannya bersahaja, terbungkus selendang tenun bermotif daun pakis purba dengan kerudung yang melindunginya dari tatapan sembrono. Wajahnya tidak memancarkan kecantikan pameran duniawi yang memancing syahwat, melainkan keteduhan telaga Ranu Kumbolo di kala subuhβ€”bening, dalam, dan tak terjamah oleh keruhnya nafsu insani. Matanya teduh namun sorotnya menyimpan wibawa setengah milenium penjagaan alam, seakan di balik pupil hitamnya tersimpan memori letusan-letusan gunung dan ratapan zaman.

Keduanya terpaku dalam keterkejutan suci. Tidak ada tatapan liar yang menelanjangi keelokan ragawi; yang tercipta justru penghormatan mendalam dan rasa malu (haya') yang seketika membatasi tatapan mata mereka. Udara di antara mereka berdua bergetar, bukan oleh daya tarik birahi, melainkan oleh benturan dua frekuensi batin yang sama-sama murni.

Arganata seketika beristighfar seraya menundukkan pandangannya ke arah bebatuan berlumut di kakinya. Bibirnya bergetar mengucap tasbih, dadanya bergemuruh hebat oleh pergolakan batin yang rumit:

"Maha Suci Engkau ya Allah... perempuan ini, apakah dia manusia darah dan daging, ataukah bayang-bayang malaikat penjaga rimba? Mengapa tidak ada desau angin saat kain selendangnya menyapu tanah? Mengapa rumput-rumput alpine yang terinjak tumitnya tidak patah, melainkan membungkuk bagai memberi salam takzim?" batin Arganata bergolak. Rasa gentar merayapi sumsum tulang punggungnya, bersanding dengan kekaguman yang belum pernah ia rasakan terhadap makhluk bernyawa manapun di muka bumi.

Lihat selengkapnya