Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Dialog dua dimensi

# BAB 11: DIALOG DUA DIMENSI: HAYA' DAN MARWAH PENJAGA

## Babak II: Halimun Pertemuan & Getar Nurani

**Lokasi:** Ceruk Keramat Cempaka Kuning (2.480 mdpl), Dinding Timur Kaldera Mahameru

**Kutipan Kunci:** "Kemuliaan cinta teruji saat dua insan memilih saling menjaga batasan kehormatan daripada memuaskan rasa penasaran nafsu."

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya

Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

---


### Bagian I: Halimun di Ambang Batas Fana (2.480 mdpl)


Ketinggian dua ribu empat ratus delapan puluh meter di atas permukaan laut bukanlah sekadar angka yang tercatat pada peta topografi para penjelajah. Di punggung timur Gunung Semeru, koordinat itu adalah sebuah perbatasan sunyi di mana hukum fisika dunia kasar melonggar dan waktu berhenti berderit laksana jarum jam yang kehabisan pegas. Di sanalah tersembunyi Ceruk Keramat Cempaka Kuning—sebuah rekahan dinding batu andesit purba yang menghadap langsung ke arah matahari terbit, namun abadi disaput tirai kabut putih susu yang tak pernah sirna oleh terik siang terpanas sekalipun. Bebatuan vulkanik di sini berwarna hitam keperakan, berpori-pori tajam seperti bekas cakar raksasa yang membeku saat bumi baru saja diciptakan.


Kabut tipis berputar melingkari ceruk batu, menciptakan kubah privasi alami yang memisahkan mereka dari kebisingan jalur pendaki biasa di kejauhan. Tak ada gemersik langkah para pelancong yang berkejaran mengejar puncak Mahameru, tak ada tawa pongah kaum penakluk ketinggian yang gemar menancapkan tonggak kesombongan di atas tanah rapuh. Di dalam kubah halimun ini, udara berputar dalam ritme lambat yang khusyuk, membawa semerbak aroma getah damar basah, bau belerang dingin yang berpadu dengan keharuman cempaka kuning purba—aroma manis yang menusuk hingga ke relung terdalam ingatan batin, membangkitkan rasa lapar rohani yang tak terjelaskan oleh kata-kata manusia.


Dinding tebing andesit itu diselimuti lumut perak tebal yang telah menyerap embun pegunungan selama berabad-abad. Air menetes lambat dari stalaktit batu vulkanik: tik... tik... tik... berdetik seperti metronom gaib yang mengiringi napas alam semesta yang sedang berpuasa. Udara sangat dingin, begitu menusuk hingga setiap tarikan napas mengiris kerongkongan bagai bilah pisau es, namun di dalam ceruk itu sendiri ada sebuah kehangatan aneh yang memancar dari sela-sela akar pohon cempaka raksasa yang menembus celah batu laksana urat nadi bumi yang sedang berdenyut perlahan.


Angin kawah yang berhembus sesekali menggoyangkan ranting cemara gunung di bibir tebing, menghasilkan melodi desau liris yang menyerupai lantunan zikir para zahid pengembara. Di sudut ceruk yang paling terlindung, lumut hati membentuk hamparan beledu hijau zamrud yang belum pernah terinjak oleh alas kaki modern. Bau humus hutan hujan pegunungan berpadu dengan bau debu vulkanik kering, menciptakan atmosfer peribadatan alamiah yang memaksa siapa pun yang memasukinya untuk menanggalkan segala kecongkakan duniawi.


Arganata berdiri limbung di bibir teras ceruk, kedua tangannya bertumpu pada lutut yang gemetar tak terkendali. Dadanya kembang kempis, menghasilkan kepulan uap putih tebal dari mulutnya yang pecah-pecah kering kemerahan. Ujung jemari tangannya telah membiru kaku, kehilangan sensasi rasa setelah enam jam mendaki tebing igir-igir pasir hitam tanpa seutas tali pengaman pun. Di dalam kepalanya yang berdenyut hebat oleh hipoksia ketinggian, bayangan wajah ibunda terus merajang kesadarannya: perempuan tua yang terbaring lemah di atas dipan bambu beralas jarit lusuh di Ranupani, napasnya yang berbunyi laksana ditiup seruling berkarat, dan dahak hitam berbau tanah yang setiap malam dimuntahkannya ke mangkuk tanah liat.


'Ya Allah Yang Menghidupkan Tulang-Belulang yang Telah Hancur,' Arganata berbisik dalam benaknya yang limbung, 'jangan cabut nyawa Emak sebelum tanganku membawa setetes penawar ini ke bibirnya. Jika memang ada tumbal yang harus dibayar untuk kemurahan kuncup ini, ambillah separuh umur mudaku, ambillah darah dari nadiku, tetapi biarkan Emak menyaksikan fajar esok hari dengan napas yang lega. Hanya Emak tempatku bersimpuh di dunia yang fana ini.'


Ketika kabut di hadapan Arganata tersibak perlahan oleh hembusan angin tenggara, matanya yang perih menangkap seberkas pendar kuning keemasan yang berpendar lembut di balik dahan-dahan berdaun beludru. Pohon Cempaka Kuning Keramat itu berdiri tegak di tengah ceruk, tingginya tidak lebih dari empat depa, namun batangnya memancarkan aura wibawa yang melampaui pohon beringin tertua di alun-alun kadipaten. Batangnya berwarna tembaga keperakan, dan di pucuk rantingnya yang paling tinggi, sekuntum bunga cempaka merekah anggun, meneteskan sebutir embun bening yang berkilau laksana mutiara basah di bawah cahaya fajar.


Namun Arganata tak sempat melangkah lebih jauh. Dari balik kepulan uap halimun yang berpusar di samping batang pohon purba itu, sesosok tubuh manusia melangkah keluar dengan keanggunan yang membekukan darah di pembuluh nadinya. Gerakannya begitu halus, seakan-akan kakinya tidak pernah menginjak bumi kasar, melainkan berlayar di atas lapisan tipis udara bersuhu nol derajat celcius.


### Bagian II: Jarak Lima Langkah dan Getar Haya'


Wanita itu mengenakan jubah kain tenun lurik berwarna nila kelam yang jatuh lurus hingga mata kakinya, dengan selendang putih gading melilit rapi di bahunya, menutupi separuh dada dan lehernya dengan kesederhanaan seorang peratap sunyi. Wajahnya bersih tanpa sapuan bedak dunia, kulitnya kuning langsat dengan gurat keteguhan yang memancarkan ketenangan telaga kawah di pagi buta. Matanya bening kelam, memancarkan wibawa ruhani yang seketika membuat Arganata merasa dirinya sekecil butiran debu pasir Mahameru.


Baiza menguji kemurnian niat Arganata. Ia mempertahankan jarak syar'i lima langkah, tidak melangkah mendekat namun mendengarkan dengan penuh kepekaan nurani. Jarak lima langkah itu bukan sekadar ukuran ruang geometris di atas lantai batu andesit; jarak itu adalah dinding tak kasatmata yang dibangun oleh prinsip haya'—rasa malu suci yang menolak percampuran hawa nafsu, sebuah benteng kehormatan yang telah ia pertahankan selama lima ratus musim dingin tanpa kompromi.


Di balik keheningan parasnya yang sedingin pualam kawah, getaran batin Baiza berdesir kencang. Ia mengamati pemuda di depannya: pakaian pemuda itu koyak-moyak di bagian siku dan dengkul, bersimbah lumpur basah bercampur getah cemara, telapak tangannya lecet berdarah karena mencengkeram batu tajam. Baiza telah melihat ribuan lelaki mendaki igir ini sepanjang abad: ada kesatria bertombak yang datang dengan arogansi kekuasaan, ada juragan saudagar yang membawa peti emas, ada pula pemuja mantra yang datang dengan mata merah penuh nafsu serakah. Namun pemuda ini berbeda. Tidak ada kilatan haus harta di pupil matanya; yang terpancar hanyalah luka batin yang menganga dan cinta yang tulus membakar kalbu.


Arganata merasakan gelombang kepanikan liar sempat menyengat benaknya. Terbesit bisikan gelap yang membujuk: 'Terjang saja wanita itu! Rebut kuncupnya dan lari menuruni tebing sebelum ia sempat mengutukmu! Waktu ibumu tinggal hitungan jam!' Namun secepat bisikan itu muncul, secepat itu pula Arganata beristigfar dalam desau batinnya. Ibunya selalu menanamkan petuah sejak ia masih belajar merangkak di lantai tanah: 'Lebih baik kita mati dalam keadaan memelihara adab dan kehormatan diri daripada menyambung nyawa dengan merampas hak orang lain.' Arganata menekan dadanya, membunuh nafsu liarnya di hadapan wibawa sang penjaga.


Arganata menundukkan pandangannya ke arah kerikil tajam yang membatasi jarak lima langkah mereka. Lidahnya yang kaku mencoba mengingat dongeng-dongeng mistis yang diceritakan para tetua dukun desa tentang penghuni lereng Mahameru, lalu dengan suara tercekat ia berucap: "Aku tidak datang untuk merampas kehormatan pohon ini, Nyi Roro... eh, Ukhti. Ibuku terbaring lunglai di bawah sana, dan tabib desa mengatakan hanya embun cempaka ini penawarnya."


Mendengar sebutan berhala lama itu, alis Baiza bertaut tipis. Suaranya mengalun rendah dan bergetar jernih, menggema di dinding ceruk laksana tabuhan rebana di tengah malam buta: "Jangan panggil aku dengan gelar berhala masa lalu. Namaku Baiza Sabilah. Dan ketahuilah, pemuda, kelopak cempaka ini akan layu beracun jika dipetik oleh tangan yang diselimuti pamrih kemasyhuran."


Baiza membatin: 'Lima ratus tahun aku menanti... bukan istana emas dari para raja yang kupinta dalam munajatku kepada Sang Maha Kuasa, melainkan dada seorang lelaki yang lapang dengan zikir dan tangan yang mampu membimbing jiwaku menuju jannah. Mungkinkah pemuda bersahaja ini jawabannya? Ataukah ini hanyalah ujian terakhir dari Sang Penguji Hati, yang hendak menguji apakah benteng haya' yang kubangun selama lima abad akan runtuh oleh seberkas rasa iba pada kefanaan insani?'


Lima ratus tahun dalam keabadian bukanlah anugerah yang manis, melainkan sebuah padang gersang yang dingin tanpa tepian. Baiza telah menyaksikan kejayaan dinasti-dinasti besar Jawa runtuh menjadi puing tanah, para pendekar sakti mandraguna membusuk di liang lahat, sementara dirinya tetap tegak di ceruk ini—seorang gadis sembilan belas tahun yang dikutuk sekaligus dimuliakan oleh kesucian tugasnya. Di dalam kesendirian itu, hatinya kerap meratap menatap bintang gemintang: kapankah tugas ini selesai? Kapankah takdir mempertemukannya kembali dengan cinta yang berakar pada ketakwaan?


Arganata meletakkan kedua telapak tangannya di dada, membungkuk takzim tanpa sedikit pun mencoba melangkah maju. 'Cinta dan bakti pada orang tua adalah tali yang menghubungkan bumi dan langit,' ucap Arganata dengan suara bergetar pelan. Baiza terpaku; untuk pertama kalinya dalam lima ratus tahun, hatinya yang sedingin es puncak Mahameru merasakan hangatnya embun kasih sayang insani... yang perlahan mencairkan dinding beku jiwanya.


Lihat selengkapnya