"Seringkali manusia menganggap gila apa yang matanya tak mampu jangkau, padahal hati nurani telah melihatnya dengan teramat terang."
— Getar Nurani Arganata
═══ ✾ 🌼 ✾ ═══
Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya
Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
I. RATAPAN DI ANTARA JANGGUT LUMUT USNEA
Di ketinggian dua ribu lima ratus meter di atas permukaan laut, hutan pinus Cemoro Kandang tak pernah benar-benar tertidur; ia hanya bernapas dalam dengung kematian yang terselubung kabut abadi. Pepohonan cemara gunung (Casuarina junghuhniana) menjulang kaku laksana barisan prajurit purba yang dikutuk mematung, menghujam kanopi kelabu yang menahan cahaya matahari agar tak menyentuh tanah humus. Dahan-dahan keringnya meliuk ganjil dalam geometri yang menyiksa mata, dirambati dan dibebani janggut-janggut lumut usnea kelabu yang menjuntai lebat—seperti helaian rambut para petapa tua yang tewas mengering dalam hening semedi ratusan tahun silam.
Ketika angin kencang berhembus menabrak dinding kaldera terjal dari arah kawah Jonggring Saloko, suara desau tajam di antara sela-sela jarum pinus terdengar persis seperti ratapan lirih beribu jiwa yang tersesat: panjang, tersengal, berderit ngilu, dan sanggup mengikis keteguhan hati siapa pun yang berani melangkah sendirian. Hawa dingin bukan lagi sekadar penurunan temperatur termal, melainkan jarum-jarum kristal es tak kasat mata yang menyusup menembus tiga lapis pakaian pendakian, merayap ke sela-sela sendi, memperlambat detak nadi, dan melahirkan bisikan-bisikan ganjil di pelataran ilusi.
Kabut tebal bergumpal-gumpal putih keperakan merangkak lambat dari dasar lembah ngarai. Ia menelan semak belukar paku tanduk rusa, menyelimuti lumut kerak di bebatuan basal hitam, dan memangkas jarak pandang manusia hingga tersisa tak lebih dari tiga depa. Di dalam kurungan tirai susu itu, batas antara kenyataan dan khayalan menguap begitu cepat.
Lalu, keheningan purba itu terkoyak oleh derak dahan lapuk yang terinjak kalap.
"Arga! Jangan bergerak selangkah pun! Demi Tuhan, berhenti!"
Teriakan parau itu melesat bersama kepulan uap napas panas dari kerongkongan Fardhan Nazhiran. Pemandu berdarah Tengger yang biasanya tenang laksana permukaan air telaga Ranu Kumbolo pada fajar buta itu kini menerobos rimbun semak duri dengan mata terbelalak liar. Tubuhnya yang tegap berbalut jaket gore-tex merah kusam terhuyung ke depan saat ujung sepatunya terantuk akar cemara yang mencuat ke permukaan tanah. Tanpa memedulikan lutut kirinya yang menghantam cadas keras hingga nyeri menjalar ke paha, Fardhan melompat ke depan bagai macan kumbang yang panik.
Kedua tangannya yang kasar mencengkeram erat kedua pundak Arganata dari belakang, lalu menyentak pemuda itu ke belakang dengan segenap tenaga keputusasaan. Sentakan brutal itu membuat tubuh mereka berdua terbanting ke tanah gembur, berguling setengah lingkaran, sebelum akhirnya punggung Fardhan menghantam telak batang pohon cemara besar yang basah kuyup oleh tetesan embun beku.
Napas Fardhan memburu tak beraturan, tersengal dan bersiul di pangkal tenggorokan laksana deru ketel uap tua yang nyaris meledak. Peluh dingin membanjiri keningnya yang berkerut dalam, meleleh turun melewati alis tebal dan bercampur dengan butir-butir es di ujung kumisnya. Wajah sang pemandu pucat pasi—bukan sekadar pucat karena sengatan angin gunung, melainkan rona kelabu mayat dari seseorang yang baru saja melihat pintu neraka terkuak di depan hidungnya.
Anatomi Kepanikan Fardhan: Fardhan bereaksi dengan kekuatan histeris bukan karena kepengecutan, melainkan refleks traumatik dari seorang pelindung yang melihat pintu maut terbuka kembali di depan matanya.
Dua depa dari kehampaan tanpa dasar
II. KELOPAK KUNING DI BIBIR JURANG KERAMAT
Hanya berjarak dua jengkal dari tempat tumit sepatu boot Arganata tadi berdiri sebelum disentak, tanah humus gembur tiba-tiba terputus ke dalam kehampaan jurang yang menganga tanpa dasar. Di sana, tebing cadas runtuh tegak lurus sejauh ratusan meter menuju ngarai gelap berhalimun, tempat kabut pekat bergulung perlahan seperti pusaran air di mulut air terjun raksasa. Satu sentimeter pergeseran berat badan ke depan sudah cukup untuk membuat siapa pun meluncur bebas ke dalam pelukan maut tanpa ada sebatang dahan pun yang bisa diraih.
Namun bukan jurang curam itu yang membuat seluruh bulu roma di tengkuk Fardhan meremang kaku.
Tepat di tepi cadas yang rapuh dan terkikis erosi itu, terbaring sehelai kelopak bunga cempaka kuning keemasan. Kelopak bunga itu tampak begitu segar, tepiannya tidak layu, tidak terkoyak oleh terpaan angin badai yang membentur tebing, dan sama sekali tidak ternoda oleh percikan lumpur hitam. Yang lebih mengerikan bagi akal sehat seorang rimbawan adalah aromanya: kelopak kecil itu memancarkan wangi semerbak manis yang ganjil—aroma bunga kenanga keraton bercampur dupa cendana kering yang begitu pekat, menembus sengatan dingin dan bau busuk daun membusuk di sekeliling mereka.
Secara hukum alam botani, pohon cempaka hutan (Magnolia champaca) tidak akan pernah bisa hidup, apalagi mekar, di atas ketinggian dua ribu lima ratus meter dengan suhu beku Cemoro Kandang. Vegetasi puncak hanya mengenal bunga edelweiss kering, rumput jarum, dan perdu cantigi berdaun merah. Kehadiran sekuntum kelopak cempaka segar di bibir tebing keramat ini adalah anomali gaib yang menampar logika sains pendakian.
Pikiran batin Fardhan bergolak hebat, saling bertubrukan dalam kepanikan yang menyesakkan rongga dada: 'Gila! Benar-benar gila! Dia tadi berdiri tegak mematung persis di tepi runtuhan tebing, merentangkan kedua tangannya seolah hendak memeluk kabut, dan bibirnya berkomat-kamit bicara sendiri ke arah jurang kosong! Apa dia sudah terkena santet halimun Semeru? Apa sukma anak ini sudah dipikat dan diikat oleh danyang penunggu jurang Cemoro Kandang? Ya Gusti Pangeran... aku harus melindunginya! Aku sudah bersumpah menjaganya. Aku sudah berjanji dengan taruhan nyawaku di hadapan ibunya saat kami bersalaman di pelataran kayu Ranupani! Jika bocah ini melompat di depanku, bukan hanya martabatku sebagai pemandu yang hancur berkeping-keping, tetapi jiwaku sendiri akan membusuk di neraka penyesalan selamanya!'
Beban Janji Moral: Janji kepada ibu Arga di Ranupani bertindak sebagai perisai batin sekaligus jeratan yang mencekik kewarasan Fardhan di tengah anomali mistis.
Tatapan yang mematahkan diagnosis kegilaan
III. KONFRONTASI DI BAWAH SENTER KECIL
Dengan jemari yang gemetar hebat dan kaku oleh hawa dingin, Fardhan merogoh saku samping jaketnya. Ia menyentak keluar sebuah senter LED kecil berkekuatan tinggi, menekannya hingga terdengar bunyi 'klik' tajam, lalu mengarahkan berkas cahaya putih yang menyilaukan itu tepat ke wajah Arganata. Jarak senter itu hanya sejengkal dari hidung sang pemuda. Jari telunjuk kiri Fardhan menekan keras pelipis Arga, memaksanya menoleh dan menatap lurus ke dalam pusat pijar lampu.
Sebagai pemandu kawakan yang kenyang pengalaman mengevakuasi korban celaka di gunung, Fardhan tahu persis tanda-tanda pendaki yang dirasuki halusinasi akut atau hipoksia ketinggian: pupil mata yang melebar penuh hingga menelan seluruh lingkaran iris cokelat, urat-urat merah yang pecah menyala di kornea, atau tatapan kosong tanpa emosi laksana mata boneka kayu yang sukmanya telah diserap roh penunggu hutan.
Fardhan sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: erangan binatang buas, semburan kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno yang tak dipahami, atau sentakan otot yang mendadak berkekuatan gaib untuk melompat kembali ke arah jurang.
Namun yang ia temukan di bawah sorotan cahaya senter itu justru membuat seluruh sendi tangan Fardhan membeku lunglai.
Pupil mata Arganata mengecil dengan tenang dan alami merespons cahaya tajam. Di balik bola mata hitam kecokelatan itu, tidak ada sekelumit pun kekosongan orang kesurupan. Yang berpendar di sana adalah sebuah telaga kejernihan yang hening, dalam, dan begitu teduh—sebuah ketenangan batin yang begitu murni hingga belum pernah disaksikan Fardhan pada manusia mana pun sepanjang hidupnya. Tidak ada getar ketakutan, tidak ada rasa malu karena tertangkap basah berbuat konyol, dan sama sekali tidak ada kepanikan.
Arganata berkedip lambat dua kali, lalu mengangkat tangannya yang dingin namun stabil. Dengan gerakan yang lembut dan penuh hormat, jemari Arga menyentuh punggung tangan Fardhan, menurunkan moncong senter itu agar cahayanya mengarah ke tanah humus basah.
"Matikan lampunya, Mas Fardhan," bisik Arganata. Suaranya rendah, berwibawa, dan mengalun dengan irama napas yang begitu santai, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan napas Fardhan yang masih tersengal-sengal di sebelahnya. "Sorot lampumu terlalu menyilaukan kabut, dan mata yang silau hanya akan memaksamu melihat monster di tempat yang sejatinya hanya dihuni kesunyian."
Kilau Kejernihan: Inversi psikologis: Sang pemandu yang berpengalaman justru tampak kacau dan rapuh, sementara pemuda perenung memancarkan wibawa batin yang menentramkan.
Pertarungan antara rasionalitas teror dan getar nurani
IV. DIALOG TAJAM SARAT URGENSI