# BAB 13: JAMBANGAN: SAVANA TEMPAT BERTEMUNYA FIRASAT
JAMBANGAN: SAVANA TEMPAT BERTEMUNYA FIRASAT
“Di antara semak edelweis yang harum samar, serpihan aroma cempaka kuning menyusup mustahil di ketinggian dua ribu enam ratus meter—membawa firasat bahwa ujian terbesar manusia bukanlah jurang Mahameru, melainkan keserakahan yang menyamar sebagai cinta.”
**Babak II: Halimun Pertemuan & Getar Nurani**
Lokasi: Pos Jambangan, Gerbang Menuju Kalimati (2.600 mdpl)
> "Cinta sejati tidak pernah menuntut untuk memiliki; ia menuntut untuk saling menyelamatkan di hadapan Pengadilan Ilahi."
═══ ✾ 🌼 ✾ ═══
Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya
Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
---
## I. Padang Edelweis dan Taring Hitam Mahameru
*Kemunculan savana Jambangan di ketinggian 2.600 mdpl setelah tanjakan terjal Cemoro Kandang, di mana hamparan bunga abadi menyambut tubuh-tubuh yang remuk di bawah intimidasi puncak kerucut Mahameru.*
Setelah hampir lima jam dihimpit bayang-bayang kelam rimba cemara gunung dan tanjakan berlumpur Cemoro Kandang yang mengunyah habis seluruh cadangan glukosa di urat betis, dinding pepohonan itu mendadak terbelah. Hawa beku menyengat pipi dengan ketajaman belati tipis, dan dunia di sekitar mereka tiba-tiba membuka diri laksana tirai panggung agung yang disingkap oleh jemari malaikat tak kasat mata. Pos Jambangan menyambut mereka bukan dengan keriuhan para penakluk puncak, melainkan dengan keheningan kosmis yang meremukkan kecongkakan.
Di ketinggian dua ribu enam ratus meter di atas permukaan laut, hamparan savana itu membentang datar sejauh mata memandang, laksana permadani purba yang ditenun dari benang embun dan kepasrahan. Jutaan rumpun bunga edelweis—Anaphalis javanica—sedang mekar serentak dalam keabadiannya yang dingin. Kelopak-kelopak kecil berwarna putih keperakan itu bergetar halus disentuh hembusan angin dari arah barat daya, merunduk takzim bagai barisan sufi yang tenggelam dalam sujud panjang. Rerumputan fescue yang menguning keemasan di sela-sela bebatuan vulkanik basah menahan bulir-bulir es tipis yang berkilau pucat, memantulkan cahaya matahari pagi yang tersaring kabut.
Namun, tatapan Arganata tidak tertahan lama pada keindahan padang bunga abadi itu. Begitu kepalanya terangkat beberapa derajat melampaui garis cakrawala savana, dadanya langsung dihantam oleh sebuah pemandangan yang membuat paru-parunya serasa tersumbat seketika.
Tepat di hadapan mereka, tanpa bukit penghalang atau tirai vegetasi yang menyamarkan keganasannya, kerucut raksasa Mahameru berdiri tegak, telanjang, dan mengintimidasi. Monolit pasir hitam legam itu begitu dekat seolah hanya berjarak selemparan batu, membubung menembus lapisan troposfer bawah dengan kemegahan yang menuntut ketundukan mutlak. Warna kelabu kehitaman dari lereng pasir leleran tampak kontras dengan putihnya awan kumulonimbus yang merayap lambat di pinggangnya.
Kubah pasir itu tidak mengenal belas kasihan. Alur-alur bekas guguran batu lava dan piroklastik menganga lebar di tubuhnya, menyerupai bekas sayatan cambuk raksasa yang belum mengering. Dari celah-celah tebing curam di dekat puncaknya, kepulan uap solfatara mendesis halus, membawa aroma belerang tajam yang samar-samar menyusup di antara wangi rumput basah. Di Jambangan, Mahameru bukan lagi sekadar destinasi di peta topografi; ia adalah perwujudan takdir yang mengawasi setiap denyut nadi manusia yang berani menatapnya.
"Inilah altar ujian kita, Arga," gumam Fardhan di sampingnya. Suara pria berpengalaman itu terdengar parau, teredam oleh desau angin yang mengibaskan ujung ponco parasutnya. "Di tempat ini, orang-orang tua Tengger dulu bersimpuh bukan untuk menghitung ketinggian, melainkan untuk menimbang apakah nurani mereka masih berhak bernapas atau sudah ditandai oleh abu Jonggring Saloka."
## II. Batang Kayu Tumbang dan Getaran Nurani Arganata
*Arganata mengistirahatkan tubuhnya di atas batang cemara lapuk, menyelami getaran cintanya pada Baiza yang bermetamorfosis dari sekadar asmara duniawi menjadi panggilan spiritual pemurnian jiwa.*
Arganata melepaskan kaitan sabuk ransel tujuh puluh liternya. Beban seberat dua puluh delapan kilogram itu terhempas ke tanah savana dengan debuman basah, menyisakan sensasi melayang yang aneh pada tulang selangka dan pundaknya yang telah lecet tergerus tali nilon. Napasnya terengah-engah, menghasilkan kepulan uap putih tebal yang langsung robek oleh angin dingin Jambangan.
Kedua kakinya gemetar menahan lelah yang telah menumpuk sejak mereka meninggalkan Ranu Kumbolo selepas subuh tadi. Ia melangkah gontai menuju sebatang pohon cemara gunung yang telah tumbang bertahun-tahun silam di pinggir lintasan setapak. Batang kayu itu tebal, diameternya hampir satu meter, dengan permukaan kayu yang telah lapuk kehitaman dan diselimuti permadani lumut kerak alpine yang basah.
Arganata duduk di sana, meletakkan kedua siku di atas tempurung lututnya. Jemari kanannya yang kebas oleh suhu lima derajat Celsius merogoh saku bagian dalam jaket windbreaker kedap airnya. Di sana, jemarinya menyentuh butir-butir kayu keras bertekstur halus: seuntai tasbih kayu zaitun bersudut tiga puluh tiga butir—pemberian terakhir yang ia terima di beranda stasiun Malang, beberapa saat sebelum petualangan penuh misteri ini dimulai.
Ia menatap puncak pasir Mahameru dengan sejenis kepasrahan baru yang belum pernah merasuki batinnya seumur hidup. Selama bertahun-tahun menggeluti dunia pendakian gunung liar, Arganata selalu meyakini bahwa bahaya terbesar adalah hipotermia, jurang yang menganga, atau badai es yang membutakan mata. Namun di hadapan kerucut hitam Mahameru yang menjulang dari savana Jambangan, ia menyadari bahwa ancaman paling mematikan bukanlah runtuhan batu lava, melainkan kehancuran benteng keikhlasan di dalam dadanya sendiri.
Getaran yang bergolak di dalam rongga dadanya setiap kali bayang-bayang Baiza melintas bukanlah sekadar romantisme muda-mudi yang haus kepemilikan. Bukan pula kerinduan dangkal yang menuntut pelukan atau janji-janji manis di pelataran perkemahan. Getaran itu terasa purba, dalam, dan mengoyak kesadaran paling intim: sebuah panggilan spiritual untuk pemurnian jiwa yang menuntut pengorbanan ego hingga ke serpihan terkecil.
Wajah Baiza—dengan sepasang mata teduh yang selalu memantulkan kedalaman telaga purba dan keteguhan perempuan yang mewarisi darah penjaga tanah Jawa—terpatri begitu lekat di balik kelopak matanya. Kehadiran bayang-bayang itu begitu kuat hingga seakan mengaburkan jutaan kuncup edelweis di sekelilingnya. Dan kenyataan itulah yang justru membuat Arganata merasa kerdil dan ketakutan.
## III. Dialog Batin: Syirik Khafi dan Mahabbah Ibnu Qayyim
*Monolog batin Arganata yang khusyuk memohon perlindungan dari cinta yang menuhankan makhluk, diperdalam dengan narasi retrospeksi bait syair Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang tingkatan cinta hakiki.*
Arganata memejamkan matanya rapat-rapat. Satu butir tasbih kayu zaitun bergeser lambat di antara ibu jari dan telunjuknya yang kaku. 'Subhanallah wa bihamdihi... Astaghfirullahal 'adzim...' bisik bibirnya yang pecah-pecah berdarah. Namun alih-alih kekosongan khusyuk yang suci, setiap tarikan napas zikirnya justru disusupi oleh seraut senyum teduh Baiza yang menatapnya dari balik kabut ingatan.
Pergolakan batin itu meledak dalam bisikan jiwa yang pedih, bergema di ruang sunyi kesadarannya:
"Apakah cinta ini sebuah ujian kesyirikan halus, ya Allah? Mengapa bayang-bayang wajah teduh itu hadir di sela-sela zikirku? Ketika nama-Mu yang Maha Agung kusebut di batas ketahanan tubuhku yang remuk ini, mengapa justru getaran suaranya yang menjadi penopang urat kakiku? Lindungi aku dari menuhankan rasa cinta terhadap ciptaan-Mu di hadapan kemahaagungan takhta-Mu! Jangan biarkan hatiku tersesat dalam musyrik yang terselubung, ya Rabb..."
Pikirannya terlempar ke masa enam bulan silam, di beranda kayu sebuah surau tua di lereng Pegunungan Menoreh. Saat itu malam jumat legi, rintik hujan menderu di atas atap sirap, dan aroma kayu gaharu menguar lembut dari perapian tembaga. Di hadapannya, seorang kiai sepuh berwajah teduh membuka sebuah manuskrip tebal bersampul kulit rusa bertuliskan huruf Arab gundul: Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin karya Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Sang guru menatap Arganata dengan pandangan yang menembus hingga ke dasar sanubari, lalu membaca sebaris bait dengan suara yang bergetar penuh kedalaman:
'Ketahuilah olehmu wahai penuntut jalan kebenaran... tingkatan tertinggi dari mahabbah adalah tatkala cinta itu tidak menyisakan sedikit pun celah bagi sekutu di dalam istana kalbu. Cinta yang dibangun semata-mata karena Allah dan bermuara kepada Allah akan melipatgandakan ketaatan, menerangi jalan tawakal, dan memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia. Namun, cinta yang disusupi oleh hawa nafsu kepemilikan dan ketergantungan pada raga yang fana hanyalah tipu daya kesyirikan halus yang menyisakan derita kehampaan berkepanjangan. Bila engkau lebih mencemaskan hilangnya senyum kekasihmu daripada hilangnya rida Rabb-mu, sesungguhnya engkau sedang memahat berhala berdarah daging di mihrab jiwamu sendiri.'
Keringat dingin membasahi pelipis Arganata di balik kupluk wol hitamnya. Kata-kata sang kiai terasa seperti pedang yang menyayat urat-urat kebanggaannya. Di savana Jambangan ini, batas tipis antara mahabbah sejati dan kesyirikan halus itu diuji sampai ke titik nadir.