# Sang Penjaga Halimun Mahameru
## BAB 14: MIMPI ISTIKHARAH DI TENDA KALIMATI
Babak: Babak II: Halimun Pertemuan & Getar Nurani
Lokasi: Camp Ground Kalimati, Kaki Puncak Mahameru (2.700 mdpl)
Suhu: -4°C (Beku Es / Black Sand)
Kutipan Kunci: "Istikharah bukan mencari jawaban yang kita sukai, melainkan melunakkan hati untuk menerima apa yang telah Allah takdirkan."
═══ ✾ 🌼 ✾ ═══
Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya
Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
### Bagian 01: Sujud di Bawah Bayang-Bayang Mahameru
*Camp Ground Kalimati, 2.700 mdpl — Suhu Minus 4°C*
Dingin di Kalimati bukan sekadar penurunan air raksa pada pipa kaca termometer; ia adalah bilah belati tak kasat mata yang menghunjam pori-pori kulit, menembus lapisan jaket bulu angsa berserat ganda, lalu mengendap membekukan sumsum tulang. Di luar tenda dome berkapasitas dua orang berbahan nilon oranye kusam itu, semesta membeku dalam kebisuan yang ganjil dan mencekam. Hamparan pasir hitam vulkanik yang membentang luas di kaki kubah kerucut Mahameru tampak seperti samudra abu purba yang mati rasa, dikepung semak ilalang beku yang dedaunannya telah diselimuti kristal es tipis menyerupai ribuan jarum perak rapuh yang siap patah oleh desau angin terlemah sekalipun.
Malam merayap menuju pukul dua dini hari—titik nadir ketika batas antara dunia kasatmata dan mayapada merenggang tipis laksana kulit bawang. Setiap embusan napas Arganata menjelma kepulan uap putih pekat yang langsung lenyap disambar dingin minus 4 derajat Celcius. Di dalam bilik tenda yang sempit dan pengap itu, aroma lilin parafin yang terbakar lambat bercampur dengan bau kain nilon basah, bau keringat dingin yang mengering di leher, dan uap tanah kapur berdebu belerang. Dari arah puncak yang menjulang setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut, sesekali terdengar dentuman pelan—sebuah geraman purba dari perut bumi yang menggetarkan batuan dasar di bawah matras aluminium tipisnya. Letupan gas vulkanik itu melontarkan sekelebat kilatan lava pijar merah marun ke langit malam, menyinari sesaat dinding lereng kerucut sebelum kembali ditelan kepekatan jelaga kosmis yang tak bertepi.
Arganata duduk bersimpuh di atas kain sarung tenun tebal yang dialasi dua lapis kantung tidur. Tangannya masih kebas dan mati rasa setelah menyucikan diri dengan butiran embun beku yang menempel di terpal penutup tenda—sebuah tayammum darurat bercampur sisa tetesan air dari botol termos yang telah mengeras menjadi serpihan es di tepian ulirnya. Rasa ngilu yang berdenyut di ujung-ujung jemarinya tak sebanding dengan rasa nyeri yang meremukkan rongga dadanya. Di hadapan kiblat yang ia taksir mengarah lurus melompati punggungan cemara gunung dan jurang-jurang gelap Blank 75, ia merapatkan kedua tapak tangannya di dada, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak karuan.
Takbiratul ihram meluncur lirih dari bibirnya yang pecah-pecah berdarah. Suaranya bergetar hebat, nyaris tertelan desau angin malam yang melolong di luar dinding terpal seperti jeritan makhluk terluka. Dua rakaat itu bukan sekadar ritual penggugur kewajiban musafir di tengah rimba belantara; itu adalah pelarian terakhir seorang pemuda yang nyaris kehilangan kendali atas akal sehat, harga diri, dan benteng tauhidnya yang selama ini kokoh terpancang.
Setiap kali matanya terpejam dalam rakaat pertama, bayangan perempuan itu kembali menyeruak tanpa ampun. Pandangannya seolah terkunci pada sepasang mata kelam yang begitu bening namun menyimpan kegetiran abadi—sosok yang pertama kali ia jumpai di lereng Oro-Oro Ombo dua senja yang lalu. Sosok yang melangkah tanpa menyentuh hamparan ungu bunga verbena, berpakaian kain lurik putih gading beraroma minyak cendana dan bunga cempaka basah. Perempuan yang mengaku bernama Baiza Sabilah. Pertemuan yang seharusnya mustahil dalam logika sains modern, sebab dalam setiap hikayat tutur tinular yang dibisikkan para sesepuh juru kunci Ranupani, Baiza Sabilah bukanlah anak manusia yang bernapas dengan paru-paru dunia fana. Ia adalah penjaga perjanjian kuno yang mengembara di antara batas dua alam sejak runtuhnya tapak kejayaan Majapahit.
Rakaat pertama mengalir bersama lantunan surah Al-Kafirun yang ia baca dengan nada patah-patah. Arganata menegaskan batas: 'Bagimu agamamu, bagiku agamaku.' Namun jiwanya berteriak, mempertanyakan mengapa benteng keyakinannya yang begitu kukuh dapat diguncang oleh tatapan mata sesosok entitas gaib yang tersenyum di balik tabir halimun lereng Semeru.
### Bagian 02: Gelora Rasa dan Ketakutan Syariat
*Pergolakan Jiwa di Hadapan Arasy Sang Pencipta*
Ketika keningnya menyentuh sujud rakaat kedua, Arganata menahan napasnya lama. Hawa dingin dari lantai tanah Kalimati menembus kain sarung dan langsung menyengat dahinya laksana lempengan besi cair yang dibekukan mendadak. Namun di balik kebekuan fisik itu, ada bara api yang berkobar dahsyat di dalam rongga dadanya. Gelora yang membuatnya merasa berdosa, hina, sekaligus merasa hidup lebih utuh dan benderang daripada hari-hari sebelumnya yang hampa.
Bagaimana mungkin seorang anak manusia yang dibesarkan di sebuah surau tua tepi Bengawan Solo, yang dididik di bawah disiplin ketat sang kakek dengan menghafal bait-bait Matan Al-Jazariyah, jurumiyah, dan kitab-kitab adab suluk, kini terjerembap ke dalam pesona makhluk yang mendiami dimensi bayang-bayang? Apakah ini cinta suci, ataukah sekadar tipu daya jin gunung yang sengaja menebar jerat asmara untuk menggagalkan misinya memetik Puspa Penawar bagi ibunya yang kini terbaring sekarat di ruang ICU sebuah rumah sakit di Malang?
Ingatannya melayang pada wajah ibunya, Nyai Kinasih. Wajah yang dahulu teduh dan senantiasa melantunkan shalawat nariyah itu kini pucat membiru, terpasung oleh selang-selang ventilator mekanis. Tubuh ibunya digerogoti oleh cairan racun misterius yang tak mampu didiagnosis oleh laboratorium modern mana pun—sebuah penyakit yang menurut penuturan tetua desa hanya bisa dinetralkan oleh sari pati 'Bunga Penawar' yang mekar di lingkar kawah puncak Semeru sekali dalam setengah milenium.
Tanggung jawab anak kepada ibu bertabrakan dengan tarikan mistis Baiza Sabilah. Dalam sujud panjang yang membakar kesadaran itu, butir air mata yang panas akhirnya tumpah, menetes membasahi lipatan sarungnya yang kusam. Air mata kelemahan seorang hamba yang tak mampu mengelak dari takdir perasaannya sendiri. Di sanubarinya, sebuah dialog batin bergemuruh lebih dahsyat ketimbang letupan kawah Jonggring Saloko yang mengguncang langit:
'Ya Allah, Rabb yang menggenggam semesta halimun dan mayapada... Hamba datang ke gunung keramat ini demi memohon kesembuhan ibunda. Tapi mengapa Engkau selipkan duri asmara yang begitu tajam di sela tapak pencarianku? Jika takdir dua alam ini adalah mustahil dalam ketetapan syariat-Mu, cabutlah getar rasa ini dari sanubariku sebelum fajar menyingsing. Jangan biarkan cintaku menjadi fitnah bagi kehidupanku dan kehidupannya.'
Doa istikharah itu ia ulang berkali-kali hingga kerongkongannya tercekat dan suaranya parau. Ia tidak meminta agar Baiza dijadikan miliknya secara lancang; ia terlalu takut mencintai sesuatu yang diharamkan oleh hukum langit dan melanggar garis syariat. Yang ia minta adalah ketenangan: sebuah keikhlasan mutlak untuk merelakan dan melepas apa pun yang tidak diridai oleh Arasy.
Ia teringat sebuah pesan hikmah yang pernah dituliskan gurunya dalam secarik risalah tasawuf: 'Istikharah bukan mencari jawaban yang kita sukai, melainkan melunakkan hati untuk menerima apa yang telah Allah takdirkan.' Mengangkat kepalanya perlahan, Arganata duduk tasyahhud akhir. Matanya menatap bayangan api lilin yang bergoyang pelan ditiup rembesan angin dari sela ritsleting tenda. Salam kanan, salam kiri. Keheningan kembali menelan bilik sempit itu, namun rasa sesak di dadanya belum juga terurai. Sesuatu yang berat masih menggantung di udara Kalimati—seperti kabut tak terlihat yang mengawasi setiap desah napasnya dari luar ritsleting tenda.
### Bagian 03: Ruang Kasysyaf: Api yang Tak Menghanguskan
*Mimpi Istikharah dan Sulaman Takdir Abadi*