SANG PEWARIS PASAK JAWA
Babak III: Prahara Dua Dimensi & Ujian Keikhlasan
BAB 15: ANTARA SYARIAT DAN TARIKAN ALAM GAIB
Lokasi: Tepi Hutan Kalimati, Gunung Semeru (2.700 mdpl)
Kutipan Kunci:
"Ujian keikhlasan tertinggi adalah ketika engkau harus memilih antara keselamatan dirimu atau menjaga amanah semesta yang dipercayakan padamu."
----------------------------------------
═══ ✾ 🌼 ✾ ═══
Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya
Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
[ BAGIAN I : KABUT KELABU DAN JEMARI CANTIGI ]
(Lembah Sunyi Kalimati (2.700 mdpl))
Pagi di Kalimati tidak pernah mengenal terbitnya surya dengan kehangatan ramah. Yang tersuguh hanyalah hamparan kelabu tebal, sebuah tirai raksasa yang ditenun dari percampuran uap embun beku dan abu halus belerang kawah Jonggring Saloka. Pada ketinggian dua ribu tujuh ratus meter di atas permukaan laut, dingin bukan lagi sekadar penurunan derajat temperatur; ia menjelma belati kasat mata yang menyusup ke sela-sela serat jaket goose-down, menusuk pori-pori kulit, lalu menetap di sumsum tulang belakang.
Di hadapan Arganata, pepohonan cantigi gunung yang meranggas tegak kaku tanpa daun. Dahan-dahannya yang terpelintir oleh hempasan badai vulkanik tampak persis seperti jemari kurus hantu purba yang menggapai-gapai angkasa suram, memohon pengampunan kepada langit yang bisu. Pasir hitam di bawah sol sepatunya berderik pelan—pasir berbisik yang mengendapkan remah letusan masa silam, menyimpan jejak mereka yang pernah lewat namun tak pernah kembali menuruni lereng.
Arganata menatap nanar kabut yang bergulung-gulung lambat di batas vegetasi. Bibirnya yang pecah-pecah berdarah perih saat ia menggerakkan rahang untuk beristigfar. Di saku celana kargonya, jemarinya terus meraba untaian tasbih kayu galih kelor warisan almarhum kakeknya. Biji-biji kayu hitam yang licin itu berputar dari satu ruas ke ruas lain, tetapi lafal zikir yang berputar di lidahnya tak sanggup membungkam gemuruh yang meremukkan rongga dadanya. Bau belerang yang menusuk hidung tiba-tiba terdesak oleh aroma lain—aroma yang sama sekali tak masuk akal di savana sub-alpin yang tandus ini: wangi bunga cempaka putih yang basah oleh air hujan pegunungan.
Aroma itu adalah jejaknya. Jejak kehadiran yang tak pernah menyentuhkan tapak kaki ke bumi fana. Jejak Baiza.
Sejak semalam, bayangan wajah berparas pualam dengan sepasang mata bercahaya rembulan sabit itu menolak enyah dari pelupuk matanya. Kelembutan suara Baiza yang melafalkan asmaul husna—begitu bening, begitu khusyuk, melampaui kepasrahan manusia mana pun yang pernah ia temui di serambi pesantren—terus bergema di ruang hampa kepalanya. Namun justru di sanalah neraka batinnya bermula. Setiap kali getaran rindu metafisik itu menyengat hatinya, palu godam syariat menghantam nuraninya tanpa ampun.
Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang yang hidup di luar batas kalender manusia? batin Arganata menjerit tertahan. Tangannya meremas tasbih hingga kuku-kukunya memutih. Apakah ini tipu daya syaitan yang menyamar dengan jubah ketakwaan paling memikat? Apakah aku sedang menggadaikan akidah yang kubela bertahun-tahun di atas meja mudzakarah hanya demi ilusi fatamorgana di lereng gunung terkutuk ini? Ya Allah, jangan biarkan hamba-Mu tersesat di persimpangan celaka ini!
[ BAGIAN II : KILASAN KITAB KUNING DAN JERIT FIKIH PESANTREN ]
(Retrospeksi Damar Merang di Pesisir Jawa Timur)
Ingatannya meluncur surut ke sebuah malam berhujan lebat tiga tahun silam di serambi belakang pondok pesantrennya di pesisir Jawa Timur. Bau minyak damar yang temaram berkelindan dengan aroma khas kertas merang kuning kitab-kitab klasik yang kusam dimakan usia. Di hadapannya saat itu terbentang syarah kitab Fathul Mu'in karya Syaikh Zainuddin al-Malibari, bersanding dengan lembaran bab munakahat dari risalah Hayat al-Hayawan al-Kubra karya Ad-Damiri.
Malam itu, di bawah tatapan teduh namun setajam elang milik Kyai Munawwir, perdebatan sengit tentang nikah ma'al jinni—pernikahan antara manusia dan bangsa entitas halus—menjadi bara yang membakar ruang diskusi santri tingkat tinggi.
"Arga," suara berat Kyai Munawwir yang serak karena batuk tua terngiang kembali begitu nyata, seolah sang guru berdiri di samping pohon cantigi yang meranggas ini. "Batas yang ditarik oleh Allah antara anak cucu Adam dan bangsa jin bukan sekadar tembok pemisah geografi gaib. Itu adalah benteng fitrah. Asal penciptaanmu adalah tanah liat kering yang padat, sementara mereka diciptakan dari pucuk lidah api yang tak berasap. Perbedaan substansi ini melahirkan tabiat ruhani yang mustahil disatukan tanpa ada salah satu pihak yang hancur terbakar."
Kala itu Arganata dengan lugas mendalilkan fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli yang memakruhkan perkawinan lintas dimensi tersebut karena hilangnya keselarasan biologis dan kekhawatiran atas hancurnya garis keturunan bani Adam. Akalnya saat itu begitu jernih, bersih dari noda keraguan. Ia santri tulen yang memandang dunia melalui kacamata teks fikih yang kaku, tertib, dan serba pasti.
Namun tak satu pun dari ribuan lembar kitab kuning itu menyiapkannya menghadapi realitas pertemuannya dengan Baiza di lereng Semeru seminggu lalu.
Baiza bukan jin penggoda yang meminta tumbal darah atau meminta sesajen kemenyan. Ketika Arganata nyaris tewas terperosok ke jurang pasir Blank 75 dalam kabut buta, sosok itulah yang menuntun tangannya. Dan saat Arganata tersadar di sebuah ceruk batu di atas batas Arcopodo, ia menyaksikan Baiza sedang bersujud di atas batu cadas yang beku. Ruku' dan sujudnya begitu panjang, basah oleh tangisan taubat yang begitu murni kepada Rabbul 'Alamin. Tidak ada kesyirikan. Tidak ada dendang mantra jahiliah.
Yang terpancar dari diri Baiza hanyalah tauhid murni yang membuat Arganata merasa kerdil dan hina sebagai manusia yang sering melalaikan salat di awal waktu.
"Jika syariat melarangku condong kepadanya karena kekhawatiran rusaknya akidah," gumam Arganata pedih, air matanya menetes menyatu dengan debu abu di pipinya, "mengapa justru melalui perantara sosoknya, imanku kepada keagungan Pencipta langit dan bumi bergetar sehebat ini? Apakah syariat yang kupelajari adalah pagar keselamatan, ataukah ketakutanku sendiri yang menjadikannya jeruji pemenjara keikhlasan?"
[ BAGIAN III : DERAK DAHAN KASAR DAN BAU KRETEK MURAHAN ]
(Foreshadowing Ancaman Manusia di Hutan Lindung)
"Arga! Astaghfirullah, sadar kau, Arga!"
Sebuah cengkeraman kasar menyentak bahu Arganata ke belakang. Tubuhnya limbung sebelum akhirnya bertumpu pada sebongkah batu vulkanik hitam. Fardhan Nazhiran berdiri di hadapannya dengan dada kembang-kempis. Di tangan kanan Fardhan, sebuah golok tebas bergagang tanduk kerbau terhunus, bilahnya yang mengilap memantulkan bias kelabu kabut pagi.
Fardhan menatap sahabatnya dengan mata menyala penuh amarah bercampur kecemasan yang membuncah. Uap putih mengepul dari hidung dan mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas di udara minus lima derajat itu. Carrier 75 liter di punggung Fardhan tampak berguncang.
"Arga, lihat matamu! Matamu merah menyala seperti bara api!" bentak Fardhan dengan suara bergetar tertahan, tak ingin suaranya memantul terlalu jauh ke jurang Kalimati. "Dari semalam di tenda kau tidak tidur sedetik pun! Kau terus bergumam tentang wangi cempaka, tentang janji lima ratus tahun, tentang perempuan yang tak pernah ada! Otakmu sudah teracuni gas kawah, Arga! Ini edema paru dan halusinasi hipoksia! Kita batalkan pendakian gila ini dan kita balik kanan turun ke Ranu Kumbolo sekarang juga!"