# Prahara Dua Dimensi
## Babak III: Prahara Dua Dimensi & Ujian Keikhlasan
### BAB 16: Jejak Berdarah Pemburu Liar di Lereng Ayek-Ayek
> **Lokasi:** Jalur Kuno Terlarang Ayek-Ayek, Lereng Barat Daya Gunung Semeru (2.750 mdpl)
> **Tema Inti:** Amanah Khalifah fil Ardh, Tragedi Ekologis, dan Ujian Keikhlasan Nurani
> **Aksioma Kunci:** *"Menjaga kelestarian alam bukan sekadar hobi pencinta alam, melainkan jihad menjaga amanah khalifah fil ardh."*
═══ ✾ 🌼 ✾ ═══
Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya
Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
---
#### ADEGAN 01: Kabut Tebal di Punggungan Maut
*Napas Beku di Gerbang 2.750 mdpl — Ketinggian: 2.750 mdpl (Tingkat Ketegangan: 6/10)*
> *"Kabut lereng Ayek-Ayek tidak sekadar menyamarkan batu andesit lapuk, ia merayap ke rongga dada seperti kafan basah yang dingin."*
Kabut tebal menggantung serupa tirai basah yang membekukan helai-helai rambut di pelipis Arganata. Di ketinggian dua ribu tujuh ratus lima puluh meter di atas permukaan laut, Jalur Kuno Ayek-Ayek bukan lagi sekadar lintasan terjal para pertapa zaman Singasari; lereng ini telah menjelma lorong labirin yang menelan segala kepastian ruang dan waktu. Batuan andesit lepas bergemeretak di bawah sol sepatu gunungnya, rapuh dan siap runtuh ke dasar jurang tanpa dasar yang menganga di sisi kiri. Jarak pandang tereduksi kejam hingga tersisa kurang dari lima meter. Setiap langkah menuntut kewaspadaan sekelas napas terakhir.
Lolongan angin gunung bertiup menyusup di antara celah tebing batu, mengeluarkan denging memanjang serupa ratapan arwah yang terbelenggu. Namun, bukan desau angin dingin khas punggungan Semeru yang mendirikan bulu kuduk Arganata. Di sela aroma belerang tipis dan anyir lumut basah, ada dengungan lain yang mengusik indra pendengarannya: desing lalat hijau yang berkerumun liar di dasar cekungan semak cantigi.
Arganata mengangkat telapak tangan kanannya, memberi isyarat berhenti mutlak. Di belakangnya, Fardhan terhuyung, kedua lututnya bergetar menahan bobot ransel seberat delapan belas kilogram. Napas Fardhan tersengal pendek, kabut uap putih keluar memburu dari bibirnya yang mulai membiru diterpa suhu empat derajat Celsius.
"Ada apa lagi, Arga?" bisik Fardhan parau. Suaranya gemetar oleh keletihan fisik dan kecemasan yang telah menumpuk sejak mereka menyimpang dari jalur reguler Ranu Kumbolo empat jam lalu. "Lututku sudah remuk. Kalau kita tidak segera mendirikan tenda sebelum senja runtuh di jurang ini, hipotermia akan menghabisi kita tanpa perlu diserang apa pun."
Arganata tidak langsung menjawab. Ia berlutut di atas hamparan kerikil vulkanik yang labil. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan polar menyibak sulur-sulur paku paku resam yang terkoyak paksa. Matanya menyipit tajam. Di sana, di balik semak kerdil, terhampar sisa bangkai seekor kijang jantan muda. Leher satwa malang itu terjerat kawat seling baja tipis yang ditambatkan pada pasak besi berkarat. Kulit lehernya terkelupas hingga memperlihatkan tulang rawan, sementara keempat kakinya membujur kaku dengan perut yang telah terburai dikoyak belatung.
"Ini bukan jerat tradisional suku Tengger," desis Arganata pelan. Nada suaranya bergetar oleh kemarahan yang dipadamkan paksa. "Jerat kawat baja nomor delapan. Modus operandi sindikat komersial. Mereka tidak mencari daging untuk makan sekeluarga; mereka mencari tanduk dan organ dalam untuk pesanan pasar gelap kota besar."
---
#### ADEGAN 02: Selongsong Mesiu dan Pergolakan Nurani
*Foreshadowing & Benturan Dua Karakter — Ketinggian: 2.765 mdpl (Tingkat Ketegangan: 7/10)*
> *"Kerusakan di muka bumi terjadi karena ulah tangan manusia yang serakah. Jika aku diam melihat pembantaian satwa dan perusakan pohon keramat ini, aku ikut berdosa atas kerusakan ini."*
Fardhan memalingkan wajah, menahan mual saat bau busuk bangkai kijang itu terdorong embusan angin dingin ke hidungnya. Rasa ngeri merayapi tengkuknya. "Astaghfirullah... Arga, dengarkan aku! Ini urusan jagawana Taman Nasional, bukan urusan dua pendaki yang tersesat seperti kita! Kita ini cuma mahasiswa yang ingin menuntaskan penelitian ekologi, bukan pasukan gerilya antiteror! Ayo putar balik ke arah pos Kalimati!"
Arganata bangkit berdiri perlahan. Pandangannya tidak beralih ke jalur mundur, melainkan tertuju pada sebuah batu kali hitam berlapis lumut kerak tepat di sebelah pasak besi. Di atas hamparan lumut basah itu, sebuah benda silinder kuning berkilau dingin tertimpa bias cahaya matahari senja yang tertahan kabut.
Dengan tenang dan terukur, Arganata memungut benda itu. Logam itu masih terasa licin oleh embun. Selongsong peluru kuningan berkaliber .22 terukir jelas di pantatnya. Ketika ia mendekatkannya ke hidung, bau mesiu terbakar yang tajam dan segar langsung menusuk rongga napasnya. Tembakan itu dilepaskan belum lewat dari hitungan satu jam.
"Mereka ada di depan kita, Mas Fardhan," ucap Arganata dingin. Matanya memancarkan ketegasan yang tak goyah oleh kabut lereng Ayek-Ayek.
"Arga! Sadarlah!" Fardhan menyambar lengan jaket gore-tex Arganata dengan putus asa. Cengkeramannya mengeras. "Ini bukan ulah pendaki nakal yang buang sampah sembarangan! Mereka membawa senapan berburu! Mereka pemburu liar berdarah dingin yang tidak akan ragu melubangi kepala siapa pun yang melihat wajah mereka di jalur terlarang ini! Kita hanya punya tongkat trekking berbahan duralumin dan sebilah pisau lipat saku! Ini bunuh diri namanya!"
Arganata menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya. Di kedalaman jiwanya, gelombang pergolakan batin bergolak dahsyat. Di satu sisi, ia menyadari sepenuhnya risiko maut yang menanti; ia bertanggung jawab atas keselamatan Fardhan yang telah diamanahkan oleh ibunya saat mereka pamit di stasiun Malang. Namun di sisi lain, sebuah ayat Al-Qur'an berdengung laksana guruh di relung batinnya:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."
"Kerusakan di muka bumi terjadi karena ulah tangan manusia yang serakah," bisik Arganata dalam dialog batin yang pedih. "Jika aku diam melihat pembantaian satwa dan perusakan pohon keramat ini demi menyelamatkan kulitku sendiri, lalu dengan muka apa aku akan menghadap Sang Khaliq di padang mahsyar? Apakah aku akan beralasan bahwa iman ini cukup hanya dengan mengelus dada sambil membiarkan bumi diporak-porandakan para penjarah? Jika aku bungkam, aku ikut bersekutu dalam dosa kebiadaban ini!"
Arganata menepis perlahan tangan Fardhan tanpa kekerasan, tetapi dengan otoritas moral yang tak dapat dibantah. "Ini bukan ulah pendaki biasa, Mas. Ini sindikat penjarah flora dan fauna langka. Mereka membidik elang jawa dan pohon cempaka purba di punggungan barat itu! Pohon itu adalah benteng resapan air terakhir bagi lembah Pronojiwo. Sekali mereka mengulitinya dan menebangnya demi getah gaharu dan kayu sakral, longsor besar akan menimbun desa di bawah!"
---