SANG PENJAGA MAHAMERU
Babak III: Prahara Dua Dimensi & Ujian Keikhlasan
Pertemuan Kedua: Luka Pada Sang Penjaga
Lokasi: Gua Rahasia Ayek-Ayek (2.800 mdpl) | Kondisi: Suhu 4°C · Kabut Pekat Vulkanik · Gemuruh Seismik Jonggring Saloko
KUTIPAN KUNCI:
"Cinta murni tidak lahir dari pelukan nafsu, melainkan dari keberanian mengobati luka tanpa meminta tebusan."
======================================================
BAGIAN 1: TIRAI KABUT DAN DINDING BASALT
[Pukul 02.15 Dini Hari · Suhu Menggigil 4°C · Celah Sempit Ayek-Ayek, 2.800 mdpl]
Angin dari arah Jonggring Saloko berhembus seperti tarikan napas raksasa purba yang sedang sekarat. Di ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut, dingin bukan lagi sekadar ketiadaan hangat; ia adalah bilah belati tak kasat mata yang menyusup ke setiap lipatan jaket gunung tebal Arganata, meremukkan persendian dan membekukan uap napasnya menjadi butiran es renik.
Langkah kakinya tersentak saat Fardhan menarik ransel punggungnya ke balik dinding batu berlumut hitam. 'Lihat ke sana, Arga,' bisik Fardhan dengan napas tersengal, telunjuknya gemetar mengarah ke lereng patahan yang tertelan kabut putih pekat. 'Jejak ranting patah itu masih baru. Mereka menggunakan karabin pemburu kaliber tiga puluh... orang-orang bayaran sindikat itu tidak main-main.'
Namun perhatian Arganata tidak tertuju pada bayang-bayang para pemburu yang mungkin masih mengendap di tebing Ayek-Ayek. Penciumannya menangkap sesuatu yang ganjil dan memabukkan: di antara bau sangit mesiu terbakar dan desis asam uap belerang vulkanik, menguar keharuman bunga cempaka kuning yang begitu pekat, begitu murni, seolah berasal dari taman yang belum pernah diinjak oleh kaki Adam.
Arganata menepis gerombolan sulur pakis purba yang berjuntai liat seperti tirai tirakat. Di hadapan mereka, terselubung di bawah kekar jalinan akar pohon beringin gunung berumur ratusan tahun, menganga sebuah ceruk gelap. Mulut gua itu seperti luka sobekan pada tubuh Mahameru, menyemburkan uap hangat yang membawa dengung desau air bawah tanah.
Ketika mereka merunduk dan merayap melewati gerbang akar yang licin, hawa dingin yang menusuk tulang mendadak tersapu oleh kehangatan yang tak lazim. Di dalam rongga gua basalt yang megah itu, sebuah telaga mata air bening mengalir di atas hamparan kerikil pualam. Namun yang membuat jantung Arganata mencelos bukan keajaiban mata air hangat tersebut, melainkan sosok yang terbaring kaku di tepi undakan batu cadas.
------------------------------------------------------
BAGIAN 2: SOSOK YANG BERGETAR DI AMBANG FANA
[Pukul 02.40 Dini Hari · Bibir Telaga Cempaka, Gua Dalam]
Di atas lempengan batu hitam yang basah oleh tetesan stalaktit, Baiza Sabilah terbaring tak berdaya. Wujudnya yang pada perjumpaan pertama di puncak punggungan tampak anggun berwibawa laksana dewi pengayom rimba, kini tampak ringkih dan mengerikan. Tubuhnya bergetar tak menentu di antara dua alam—sejenak memadat menjadi daging manusia yang pucat pualam, lalu sekejap kemudian berpendar buyar menyerupai asap keemasan yang nyaris tertiup angin gua.
Kain selendang tenun kuno bermotif Mega Mendung yang membalut tubuhnya telah sobek di bagian pundak kiri. Di sana, luka menganga sedalam dua ruas jari menyemburkan cairan yang membuat bulu kuduk Arganata meremang: darah itu tidak berwarna merah anyir pekat seperti darah manusia biasa, melainkan berbusa keemasan dengan kilau cair yang kental, beraroma harum cempaka yang menyayat kalbu.
Sebuah serpihan proyektil timah bersarang di dasar tulang selangkanya. Timah panas buatan manusia serakah telah meracuni peredaran daya hidupnya.
'Baiza...' desis Arganata tercekat. Kakinya melangkah maju tanpa ragu, namun segera tertahan oleh desisan tajam dari bibir sang penjaga.
Sepasang mata Baiza yang biasanya memancarkan ketenangan samudra purba kini berkilat liar penuh ketakutan primitif. 'Jangan mendekat!' suara Baiza terdengar bergema dalam rongga kepala Arganata, parau dan diselingi erangan pedih. 'Tangan bangsamu... membawa api laknat yang membakar sukma kami! Jangan sentuh aku dengan tangan berlumur nafsu!'
------------------------------------------------------
BAGIAN 3: BEBAN DOSA SANG PENELITI
[Pukul 03.05 Dini Hari · Tepian Mata Air Mineral]
Arganata segera menghentikan langkahnya, menjatuhkan kedua lututnya ke atas batu cadas yang basah dengan kepala tertunduk dalam. Ia meletakkan ranselnya perlahan, membuka kedua telapak tangannya ke atas sebagai tanda ketundukan mutlak tanpa senjata.
Di dalam dadanya, gemuruh rasa bersalah meledak lebih dahsyat daripada batuk vulkanik Mahameru. 'Ya Allah,' rintih Arganata dalam relung batinnya yang paling sunyi, air matanya merebak tanpa dapat ia bendung. 'Dia menanggung luka peluru demi melindungi pohon yang daunnya hendak kujadikan obat bagi ibuku. Betapa kotornya tanganku jika aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri. Aku datang mengatasnamakan bakti seorang anak, namun jejak kedatanganku telah menuntun para pemburu serakah mencabik pelindung suci tempat ini.'
Arganata teringat wajah ibunya di ranjang rumah sakit Lumajang tiga hari lalu. Selang oksigen, bunyi monitor jantung yang melemah, dan bisikan lirih sang ibu: 'Jangan korbankan kehormatanmu demi menyambung nyawa Ibu yang sudah uzur ini, Arga.'