Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Chapter tanpa judul #18

# BAB 18: BISIKAN KI AGENG SEMERU: TIMBANGAN DUA TAKDIR

**Babak III: Prahara Dua Dimensi & Ujian Keikhlasan**

*Lokasi: Dimensi Ambang Gua Rahasia (2.800 mdpl), Lereng Mahameru*


> "Keteguhan iman adalah perisai terkuat yang membuat makhluk terhebat di alam gaib pun tunduk menghormati anak Adam."


Petikan Prosa:

Gua itu kembali bernafas. Tetesan air kembali jatuh ke telaga kecil dengan bunyi lenting yang jernih. Baiza membuka matanya perlahan, menatap Arganata dengan linangan air mata yang membasahi cadar tipisnya. Ia telah mendengar seluruh pengakuan pemuda itu di hadapan tetua alamnya... tentang takdir yang tertulis di balik kalbu sang penjaga.

═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya

Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

---


### BAGIAN I: Membekunya Detak Waktu di Ketinggian 2.800 MDPL

*Ketika Tetesan Air Terhenti di Udara dan Ruang Ambang Membuka Tirainya*


Hawa dingin di punggung Mahameru pada ketinggian dua ribu delapan ratus meter di atas permukaan laut bukan sekadar tusukan jarum es yang menembus serat jaket gorpcore milik Arganata. Ia adalah kepungan sunyi yang menindih rusuk—dingin purba yang mengendap dari zaman ketika bumi Jawa pertama kali dipakukan ke perut samudera. Di dalam rekahan gua tersembunyi yang menganga di antara reruntuhan tebing pasir Kalimati dan bayang-bayang angker Arcowopodo, udara tiba-tiba memadat seperti getah damar.


Lalu, keajaiban yang mengerikan itu terjadi.


Detik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan Arganata membeku pada angka 02:14:02 WIB. Angka itu tidak berkedip. Udara menolak bergerak. Selongsong kabut putih yang tadinya berpusar di mulut gua mendadak kaku laksana pahatan marmer tipis. Arganata menarik napas, namun paru-parunya serasa menelan kristal belerang yang dingin dan tak berbobot. Yang paling meremukkan akal sehatnya: sebuah tetesan air yang jatuh dari ujung stalaktit runcing di atas kepalanya berhenti tepat sepuluh sentimeter di depan ujung hidungnya.


Tetesan air itu melayang.


Ia bundar sempurna, berkilau memantulkan cahaya redup dari batu andesit yang mengandung urat fosfor hijau. Tidak ada gravitasi. Tidak ada embusan angin celah kawah. Waktu telah disedot keluar dari relung gua oleh sebuah kehendak yang tak terukur besarnya.


Dari kegelapan terdalam, di balik tirai stalagmit yang menyerupai gigi rahang naga tertidur, bayang-bayang dinding batu mulai merekah. Bukan rekahan fisik yang menjatuhkan batu krikil, melainkan pergeseran dimensi yang menyemburkan aroma dupa cendana basah bercampur kelopak melati yang telah diperam berabad-abad dalam peti kayu jati kuno.


Langkah kaki itu tidak menyentuh tanah.


Sosok sepuh itu muncul perlahan, seolah-olah ditenun langsung dari kabut fajar dan anyaman benang putih gading. Jubahnya berkibar perlahan kendati udara gua tak berangin. Rambut dan janggutnya putih keperakan memanjang hingga ke dada, namun wajahnya tidak menampakkan keriput kelemahan usia fana; kulitnya bersih bercahaya laksana pualam yang digosok minyak kasturi. Dan ketika kedua matanya terbuka, Arganata merasa seluruh isi dadanya ditarik paksa ke dalam pusaran palung laut yang tak bertepi.


Sorot mata itu sedalam samudra, setua lelehan lahar purba, dan sedingin puncak Jonggring Saloko saat diselimuti salju es musim kemarau.


"Lima ratus musim rendeng dan musim ketigo aku menunggu di celah batu ini, anak Adam," suara itu bergema. Bukan melalui telinga, melainkan berdentang langsung di dasar tempurung kepala Arganata, meremukkan kesombongan urat darahnya. "Dan malam ini, kau melangkah ke ambangku membawa aroma tanah basah dan detak jantung yang lancang."


---


### BAGIAN II: Kilau Peti Wilwatikta dan Racun Kesaktian Purba

*Ujian Nafsu: Menimbang Emas Majapahit Melawan Sebait Kalimah Suci*


Arganata terdorong mundur setengah langkah. Tumit sepatu botnya tertahan oleh lantai gua yang kini berpendar kekuningan. Di sudut gua, sosok Baiza terbaring di atas lempengan batu pipih yang diselimuti kabut tipis. Gadis dari dimensi lain itu memejamkan mata, wajahnya pucat pasi di balik cadar sutra putih yang bergetar lemah oleh sisa-sisa napas halusnya. Rantai cahaya keperakan melilit pergelangan tangan dan kakinya, mengikatnya pada urat bumi Semeru.


Melihat tatapan Arganata yang terpaku pada Baiza, sosok sepuh di hadapannya—Ki Ageng Semeru—mengibaskan lengan jubah putih gadingnya.


Seketika, lantai gua yang semula berbatu kasar lenyap. Ruang itu berganti menjadi balairung tak bertepi yang disinari pendar keemasan menyilaukan. Dari dasar kehampaan, muncul peti-peti kayu cendana berukir naga Jawa yang terbuka lebar. Di dalamnya tertumpuk kepingan uang emas kencana bertuliskan aksara Kawi kuno peninggalan era puncak kemaharajaan Majapahit, untaian kalung ratna mutu manikam sebesar telur merpati, dan mahkota berhias intan berkilau yang sanggup membeli seluruh kota di tanah Jawa.


Tak hanya harta. Di sisi kiri, melayang sebuah keris luk sebelas dengan pamor meliuk seperti lidah api abadi, memancarkan aura hawa panas yang sanggup merobek baja pelindung tank baja modern. Di sampingnya, gulungan lontar keemasan bertuliskan rahasia *Aji Brajamusti*, *Aji Macan Putih*, dan *Pancasona*—ilmu kanuragan tertinggi yang konon menjadikan pemiliknya tak tertembus senjata, ditakuti bangsa lelembut, dan mampu membelah bukit dengan satu kepalan tinju.


"Lihatlah apa yang kusediakan bagi mereka yang berakal, Arganata," bisik Ki Ageng Semeru, nadanya lembut namun sarat dengan bisa hipnotis yang merayapi setiap sendi kesadaran. "Dunia di bawah sana telah rusak oleh kebusukan dan kemelaratan. Orang-orang saling mencakar demi selembar kertas berharga dan sejengkal takhta fana. Aku tawarkan kepadamu: ambillah seluruh perbendaharaan Wilwatikta ini. Rengkuh kesaktian tiada tanding yang akan menjadikanmu raja tanpa mahkota di dunia manusiatajamkan pandanganmu, tundukkan para penguasa tanah Jawa."


Ki Ageng melangkah mendekat. Tetesan air yang melayang di udara bergetar saat tubuhnya lewat. "Syaratnya teramat sederhana bagi pemuda berakal sehat: langkahkan kakimu keluar dari gua ini sekarang juga. Tinggalkan sukma Baiza di sini. Kembalilah ke duniamu sebagai manusia paling berkuasa di muka bumi."


Ruang batin Arganata bergolak hebat. Pikiran liarnya sempat berputar kencang. Dengan kekayaan itu, ia bisa melunasi utang keluarga yang membelit ayahnya hingga bunuh diri sepuluh tahun silam. Ia bisa membangun rumah yatim, membeli tanah, membangun kekuatan, dan menghukum mereka yang dulu menindas kaum lemah dengan pongah. Bukankah kekuasaan bisa dipakai untuk kebaikan?


Namun tepat saat bisikan itu hendak menyusup ke bilik jantungnya yang paling gelap, sekelumit ingatan menyengat kalbunya: wajah mendiang kakeknya yang bersujud di atas surau kayu lapuk di lereng Bromo. Suara kakeknya yang serak merapalkan ayat: *'Katakanlah, perhiasan dunia itu sedikit, dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa...'*


Arganata mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, membeku di ujung dagu. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam dua manik mata purba Ki Ageng Semeru tanpa setitik pun keraguan yang tersisa.


"Demi Allah!" suara Arganata membelah keheningan gua dengan ketegasan yang menggetarkan stalaktit di langit-langit. "Langit dan bumi beserta seluruh isinya ini tidak lebih berharga dari satu sujud yang diterima di hadapan Rabbul 'Alamin! Aku tidak silau oleh tumpukan tembaga berkarat dan emas gaibmu, Ki Ageng! Semua mahkota itu akan hancur menjadi debu saat sangkakala ditiup. Kesaktianmu adalah fatamorgana yang menipu jiwa yang lapar!"


---


### BAGIAN III: Tulang Belulang Arcowopodo: Retrospeksi Seribu Jiwa Tersesat

*Kilas Balik Kutukan Para Pemburu Kesaktian yang Mati Membusuk di Blank 75*


Mendengar bentakan Arganata, senyum samar tersungging di sudut bibir Ki Ageng Semeru. Namun senyum itu bukan keramahan; itu adalah seringai dingin dari sang penguji takdir yang telah menyaksikan ribuan sandiwara kepalsuan.


"Sujud?" Ki Ageng mendengus perlahan. Angin dingin berputar di sekitar jubahnya. Seketika itu pula, panorama peti emas Majapahit meledak menjadi serpihan abu kelabu. Balairung megah lenyap, digantikan oleh pemandangan kelam yang membuat perut Arganata bergolak mual.


Dinding gua mendadak tembus pandang, menampakkan jurang-jurang menganga di sekitar lereng Semeru: zona maut Blank 75, kawah mati Arcowopodo, dan lereng pasir berbisik yang curam. Di dasar jurang-jurang gelap itu, berserakan ratusan kerangka manusia. Ada yang mengenakan zirah perang tembaga berkarat dari era Singasari, ada yang memakai kain lurik kumal para pertapa abad ke-17, hingga ransel kanvas lusuh milik pendaki-pendaki angkuh dekade 1980-an yang dilaporkan hilang tanpa jejak.


Ki Ageng mengangkat tangan kanannya. Ingatan purba melesat keluar dari benaknya, memproyeksikan retrospeksi lima abad ke dalam benak Arganata.


"Tahukah kau siapa mereka, anak muda?" bisik Ki Ageng dengan nada getir yang menggigit tulang. "Seribu manusia! Tepat seribu jiwa pernah berdiri di tempatmu berdiri saat ini. Mereka adalah senopati pilih tanding, adipati yang haus kuasa, kyai murtad yang tergiur pesugihan, hingga pemuda-pemuda modern bertopeng petualang yang mulutnya fasih berucap kata tulus namun dadanya digerogoti cacing keserakahan."


Bayangan kilas balik itu berputar nyata di depan mata Arganata: seorang pendekar berotot kawat dengan keris terselip di pinggang, berlutut memohon *Aji Pancasona* di hadapan Ki Ageng. Begitu peti emas dibuka, mata sang pendekar membelalak liar, melompat meraup permata, melupakan sumpahnya untuk melindungi rakyat jelata. Detik berikutnya, batu longsor menguburnya hidup-hidup di ceruk Kalimati, meninggalkan tengkoraknya menjadi sarang laba-laba gunung.

Lihat selengkapnya