Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Chapter tanpa judul #19

# KONFRONTASI DENGAN PEMBURU LIAR DI JURANG KABUT

### Babak III: Prahara Dua Dimensi & Ujian Keikhlasan

*Lokasi: Punggung Tebing Curam Ayek-Ayek (2.850 mdpl), Lereng Timur Semeru*


> "Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keyakinan bahwa membela kebenaran jauh lebih utama daripada mempertahankan nyawa pengecut."


═══ ✾ 🌼 ✾ ═══


Bagian 01 : Di Ambang Halimun & Tiang Cahaya

Batas Cemoro Kandang (2.480 mdpl) — Dingin yang Menggigit Tulang

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───---


## BAGIAN I: LOLONGAN KABUT DAN AROMA MESIU

*Hembusan 40 Knot di Punggung Tebing Ayek-Ayek (2.850 mdpl)*


Angin kencang berkecepatan empat puluh knot melolong buas bagai rintihan seribu arwah yang tersesat di punggung tebing curam Ayek-Ayek. Udara beku pada ketinggian 2.850 meter di atas permukaan laut itu menyusup tanpa ampun menembus serat terluar jaket Gore-Tex yang dikenakan Arganata. Di bibir tebing yang hanya menyisakan tapak selebar tiga puluh sentimeter, kabut pekat berwarna kelabu keperakan bergulung-gulung cepat, menelan jurang tak berdasar sedalam ratusan meter di sisi kiri mereka. Bau belerang yang terbawa dari hembusan kawah Jonggring Saloko mendadak terkoyak oleh aroma lain yang asing dan mengancam: bau sangit mesiu bakar dan belerang kembang api pemburu liar.


Hujan gerimis es mulai turun membasahi dinding bebatuan andesit yang hitam pejal. Butir-butir kristal air beku berderak lirih ketika menghantam tudung kepalanya, melicinkan setiap tonjolan cadas yang menjadi tumpuan sol sepatu bot pendakian. Di bawah sana, di dasar jurang Ayek-Ayek yang terkenal angker bagi para penjelajah Semeru, kehampaan putih seolah menganga, menanti satu kesalahan langkah terkecil untuk menelan siapa pun yang lengah.


Arganata menahan napasnya di balik masker leher. Paru-parunya terasa perih, terbakar oleh tipisnya kadar oksigen dan gigilan hipotermia yang merayap di ujung-ujung jari tangannya. Namun, rasa sakit biologis itu luruh seketika, tertutup oleh gemuruh amarah yang mendidih di rongga dadanya. Di balik tirai kabut berjarak dua belas depa di depan mereka, bayangan tiga sosok manusia tampak bergerak membungkuk dengan gerak-gerik tergesa yang tak lazim bagi seorang pecinta alam sejati.


"Tahan langkahmu, Arga," bisik Fardhan nyaris tanpa suara. Tangannya yang bersarung kulit kasar mencengkeram bahu Arganata dari belakang, menahannya agar tidak melangkah melewati batas aman tonjolan batu padas. Napas Fardhan berhembus memutih di udara dingin. "Ada tiga orang. Dua membawa cangkul lipat dan parang tebas, dan yang di tengah... perhatikan bahu kanannya. Dia menyandang senapan berburu kaliber dua belas."



## BAGIAN II: MENATAP MATA KETAMAKAN

*Rumpun Cempaka Kuning dan Cengkeraman Sangkar (2.852 mdpl)*


Saat pusaran kabut tersapu sejenak oleh hembusan angin ngembara dari arah lembah, pemandangan keji itu tersingkap benderang tanpa sekat. Di atas ceruk tebing yang terlindung dari terpaan angin utama, terdapat rumpun cempaka kuning liar (Magnolia champaca)—spesies purba pegunungan yang mekar langka di atas zona sub-alpin, menyebarkan wangi magis yang selama berabad-abad dianggap sebagai mustika sakral lereng Semeru. Namun kini, tanah humus purba di sekitar akarnya dicungkil kasar dengan linggis baja. Rimpang-rimpang emasnya dicabut paksa, dibungkus plastik hitam tebal seolah sekadar bangkai barang loakan.


Lebih memilukan lagi, tergeletak di samping karung goni adalah sebuah sangkar bambu sempit berjeruji kawat berduri. Di dalamnya, sesosok anakan elang jawa (Nisaetus bartelsi)—sang garuda hidup lambang kepulauan—tampak menggigil kedinginan. Bulu-bulu jarum di kepalanya yang baru tumbuh tampak kusut berlepotan lumpur. Sayap kanannya terkulai lemas dengan sisa bercak darah kering akibat jerat nilon, sementara mata bulatnya yang keemasan menatap sekeliling dengan kepedihan eksistensial yang membekukan jiwa.


Kemarahan suci membakar dada Arganata: "Mereka membongkar akar kehidupan demi keuntungan beberapa lembar kertas uang. Kezaliman ini harus dihentikan sekarang juga!" Batinnya berteriak dengan resonansi yang begitu bertenaga hingga detak jantungnya berdegup memukul dinding tulang rusuknya. Setiap helai serat cempaka yang terputus dan setiap rintihan parau anak elang itu terasa bagai sembilu yang menyayat urat nadinya sendiri. Mengapa manusia selalu merasa berhak menjarah rahim bumi yang melahirkan mereka, hanya untuk memuaskan syahwat pamer di ruang tamu borjuis ibu kota?


Pria yang berdiri tegak mengawasi penggalian itu berbalik perlahan. Tubuhnya gempal terbungkus mantel kanvas tebal bertudung bulu sintetis yang kumal. Kulit wajahnya legam ditempa panas dan dingin bertahun-tahun, dihiasi parut bekas cakar di bawah tulang pipi kanannya. Bibirnya mengulum sebatang cerutu kretek yang bara merahnya menyala redup ditiup angin. Juragan Barata. Nama yang telah lama menjadi hantu di kalangan jagawana Taman Nasional, sosok licin yang selalu lolos dari sergapan pos perbatasan berkat jaringan upeti dan kekejaman tak kenal kompromi.



## BAGIAN III: SUMPAH RIMBA DAN BAYANG-BAYANG MASA SILAM

*Retrospeksi Batin Fardhan di Ambang Kehormatan (2.855 mdpl)*


Di sebelah Arganata, otot rahang Fardhan mengeras bagai batu granit. Di balik kacamata pelindung badainya, sepasang mata pemandu senior itu menyipit tajam, sementara memorinya ditarik paksa mundur melintasi lorong waktu sejauh dua puluh lima tahun silam. Ingatan tentang upacara pengukuhan jagawana sukarela di pelataran Pos Ranupani berkabut dingin tiba-tiba berkelebat nyata seolah baru terjadi kemarin petang.


Kala itu, di bawah kibaran bendera merah putih yang basah oleh embun jelang fajar, mendiang ayahnya—seorang sesepuh pemangku adat Tengger sekaligus perintis jalur konservasi Semeru—meletakkan telapak tangannya yang kapalan ke dada Fardhan muda. "Anakku," suara berat almarhum bergema dalam benaknya, "hutan ini bukan milik kita untuk diperjualbelikan, bukan pula sekadar panggung ketangkasan raga. Setiap pohon, setiap helai lumut, dan setiap kepak sayap elang adalah titipan leluhur yang darahnya mengalir dalam sumsum tulangmu. Seorang pemandu sejati lebih baik kehilangan lisensi tugas dan membusuk di dasar jurang daripada membiarkan bajingan meremukkan kehormatan rimba yang disumpahnya."

Lihat selengkapnya