Cinta di Puncak Mahameru

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Chapter tanpa judul #21

Bagian I: Harum Cempaka di Balik Uap Mata Air Suci


Mata air hangat di dalam gua memancarkan uap berbau harum cempaka. Keheningan syahdu kembali merayapi ruang batu setelah prahara pemburu liar mereda. Udara dingin pegunungan di ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut terasa membekukan tulang, namun di dalam rongga Gua Ayek-Ayek, kehangatan air mineral purba melingkupi dinding-dinding basalt yang hitam berkilap seperti zamrud malam yang dipoles oleh waktu beribu windu.




Tetes-tetes kondensasi berderai lambat dari ujung stalaktit yang meruncing, jatuh tepat di permukaan kolam alami dengan bunyi 'ting' yang teratur, bagai detak lonceng waktu yang menguji ketahanan jiwa yang sedang bertaruh nyawa. Kabut tipis berwarna putih keperakan merayap lambat di atas permukaan air bersuhu tiga puluh delapan derajat Celsius, membawa wangi bunga cempaka hutan—aroma yang bukan sekadar bebungaan biasa, melainkan sari pati kehidupan yang telah terjaga selama ratusan siklus musim dingin di lereng Mahameru.


Di mulut gua yang tersembunyi di balik jalinan akar pohon cantigi kerdil dan lumut janggut purba, desau angin dingin menyapu dahan-dahan cemara gunung dengan dengung yang rendah dan murung. Jejak-jejak peluru timah dan ceceran selongsong kuningan dari senapan laras panjang para pemburu liar—yang beberapa saat lalu mendobrak paksa kesucian ceruk ini demi menjarah mustika cempaka—kini telah disingkirkan. Kerikil hitam dan pasir vulkanik basah telah menutupi noda mesiu, seolah gua ini memiliki kesadaran purba untuk membasuh setiap kotoran dunia manusia fana.


Di tengah temaram yang hanya diterangi oleh pendaran fosfor lumut gua dan kuncup-kuncup cempaka yang memancarkan kilau kuning keemasan redup, bayangan dua sosok manusia dan entitas gaib terpantul di permukaan air yang tenang. Satu bernafas dengan terengah-engah menahan derita ragawi, sementara yang satu lagi melayang anggun dengan keindahan abadi yang tak pernah tersentuh oleh keriput usia.


---


Bagian II: Jejak Darah Manusia & Heningnya Pengorbanan


Baiza menyaksikan Arganata membalut lukanya sendiri tanpa mengeluh. Di bawah temaram sulur-sulur lumut bercahaya yang menempel di langit-langit gua, siluet pemuda itu tampak kokoh sekaligus rapuh. Kemeja flanel tebalnya telah robek di bagian lengan kanan dan rusuk, memperlihatkan kulit sawo matang yang terkoyak oleh serpihan logam tajam akibat ledakan senapan rakitan pemburu liar. Darah merah pekat—darah manusia fana yang fana dan mengalir deras—menetes perlahan ke atas lempengan batu tempatnya duduk bersila.


Tidak ada erangan. Tidak ada kutukan yang terlontar dari bibir pemuda itu. Gigi Arganata terkatup rapat, rahangnya mengeras, dan peluh dingin sebesar biji jagung bergulir membasahi pelipis serta pipinya yang kotor oleh jelaga mesiu. Dengan tangan kirinya yang gemetar namun terkendali oleh tekad baja, ia menarik erat perban kain kasa putih yang telah ternoda merah, menyimpul ikatannya dengan satu tarikan nafas yang tertahan dalam-dalam.


Baiza Sabilah terpaku di dekat pusaran mata air. Selama lima ratus tahun menjadi penjaga dimensi Ayek-Ayek, ia terbiasa melihat manusia yang datang dengan keserakahan: para pemburu mustika yang haus harta, pencari kekayaan pusaka keraton, atau pertapa yang menuntut kedigdayaan kanuragan duniawi demi menundukkan sesamanya. Namun pemuda di hadapannya ini mendaki lereng paling terjal Mahameru hanya dengan satu niat suci: menjemput setetes embun cempaka demi menyambung sisa nafas ibunya yang terbaring sekarat di sebuah gubuk sederhana di Ranupane.


Menyaksikan tetesan darah itu merembes di sela-sela jemari Arganata, ada rasa nyeri asing yang menusuk ulu hati Baiza—sebuah rasa nyeri yang belum pernah ia kenal selama lima abad tubuh halusnya tak tersentuh jarum sakit. Itulah rasa sakit karena menyaksikan kerapuhan makhluk fana yang bersedia hancur demi baktinya kepada orang tua. Darah itu hangat, menguapkan aroma besi yang getir, mengingatkan Baiza pada denyut nadi kehidupan yang dulu pernah mengalir di dalam tubuh manusianya sebelum sumpah kuno mengikatnya menjadi penunggu abadi.


"Biarkan aku membantumu, Arga," bisik Baiza, suaranya bergetar dengan frekuensi halus yang membuat riak-riak kecil di kolam mata air. Namun pemuda itu hanya menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tipis di antara bibirnya yang pucat pasi. 'Ini hanya luka kecil, Baiza. Selama nafasku belum putus, langkahku takkan terhenti untuk membawakan penawar bagi Ibuku.'


---


Bagian III: Narasi Retrospeksi: Lima Abad Menghirup Kesendirian Fana


Di sudut relung batuan yang lembap, pikiran Baiza melayang menembus kabut waktu yang teramat panjang dan menyiksa. Ingatannya menyeretnya kembali pada tahun-tahun akhir abad ke-15, ketika wangsa agung Majapahit yang megah mulai retak dari dalam, terkoyak oleh perang saudara Paregreg, dan perlahan runtuh menjadi puing-puing sejarah yang terkubur tanah merah Jawa Dwipa. Ia teringat hari ketika para resi dan leluhur spiritual Ranupane mengikrarkan sumpah sakral di kaki Mahameru, menyucikan dirinya sebagai wadah penahan amukan kawah Jonggring Saloko.


Sejak hari penyerahan diri itu, ia terperangkap dalam jubah keabadian. Ia menyaksikan pergeseran zaman layaknya deretan awan mendung yang berarak cepat di ufuk timur. Ia melihat berdirinya Kesultanan Demak dan kejayaan Mataram Islam, menyaksikan prahara perpecahan keraton Kasunanan dan Kasultanan, hingga kedatangan kapal-kapal kompeni VOC dan serdadu Belanda yang merambah lereng Semeru dengan bedil dan rantai besi untuk mengeksploitasi kayu damar dan belerang kawah.


Ia melihat generasi demi generasi manusia lahir, memekikkan tangis pertama, tertawa dalam masa muda, menangis dalam kepedihan cinta, lalu membusuk menjadi humus di bawah rindangnya pohon edelweis dan cemara gunung. Semua raja, ksatria, dan penguasa perkasa yang pernah menginjakkan kaki di lereng ini kini hanyalah nama-nama pudar di prasasti yang lapuk dimakan lumut.


Semua manusia fana itu datang dan pergi layaknya lalat buah yang hidup hanya dalam hitungan hari. Namun di balik keabadian yang diagung-agungkan para raja dan didambakan para tabib sakti, yang dirasakan Baiza selama lima ratus tahun hanyalah kesendirian yang membekukan jiwa. Tidak ada yang pernah melihatnya kecuali sebagai bayangan kabut putih, dewi penunggu telaga, atau kuntilanak gunung yang ditakuti dalam dongeng para porter.


Tak seorang pun pernah menyapa hatinya sebagai seorang jiwa yang merindukan arti keberadaan—hingga pemuda ini tiba tiga malam lalu.


Ketika badai salju tipis dan halimun tebal bersuhu minus empat derajat Celsius menyergap punggungan Ayek-Ayek, Arganata tidak memanggil mantra gaib, tidak menabur bunga tujuh rupa, dan tidak membakar kemenyan pemanggil jin gunung. Pemuda itu justru membentangkan selembar sajadah lusuh bercorak hijau pudar di atas tanah berbatu, menghadap lurus ke arah kiblat, membasuh wajahnya dengan air mata air suci, dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara serak yang bergetar namun sarat ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta.


Suara tilawah dari Surah Ar-Rahman dan Surah An-Nur itu bergema di dinding-dinding basalt gua, menembus lapisan dimensi gaib yang selama lima abad mengisolasi Baiza dari sentuhan ilahi. Saat mendengarkan getaran ayat demi ayat yang mengalir dari bibir pemuda itu, dinding es di dalam jiwa Baiza mencair. Mengingat kesendiriannya menyaksikan berlalunya dinasti-dinasti kerajaan, penjajahan Belanda, hingga zaman modern; tidak ada satu pun kemegahan itu yang sebanding dengan kedamaian satu ayat Al-Qur'an yang dilantunkan Arganata di keheningan malam Ayek-Ayek.


---


Bagian IV: Pergolakan Jiwa & Sumpah yang Mulai Meretak


Di sudut hatinya yang terdalam, keputusan besar telah matang layaknya buah cempaka matang yang siap luruh ke pangkuan bumi fana: ia rela melepaskan keabadian lima ratus tahun demi menjadi wanita fana di sisi Arganata.


Namun keputusan itu bukan tanpa konsekuensi yang mengerikan bagi jagat raya di sekeliling mereka. Sumpah kuno Ayek-Ayek yang terukir di alam astral menyatakan bahwa jika sang penjaga dimensi melepaskan hakikat kekalnya, segel keseimbangan antara perut magma Jonggring Saloko dan dunia manusia akan koyak tanpa pelindung. Bumi Mahameru akan menuntut tebusan keseimbangan, dan tubuh gaib Baiza akan ditarik paksa ke dalam hukum biologi manusia: merasakan dingin yang membekukan darah, merasakan lapar yang menyiksa lambung, merasakan penyakit yang merapuhkan daging, dan pada akhirnya, menghadapi kepastian maut di liang kubur.


Baiza menundukkan wajahnya. Kedua telapak tangannya yang sehalus sutra kelopak teratai bergetar halus. Jemarinya saling meremas di atas kain selendang lurik hijau lumut yang melingkari tubuhnya yang kini perlahan mulai memadat.


Baiza berbisik dalam kalbu: 'Keabadian tanpa imam yang membimbing adalah kesepian yang tak bertepi. Jika menjadi manusia fana berarti aku bisa sujud berdampingan dengannya di atas sajadah, aku ridho menua dan membusuk di dalam tanah fana.'


Bisikan kalbu itu bukan sekadar lamunan asmara sesaat, melainkan ikrar pembangkangan terhadap takdir gaib yang telah memenjarakannya selama setengah milenium. Begitu kalimat itu terucap di ruang batinnya yang terdalam, sumpah gaib yang membelenggu jiwanya berderak laksana kaca kristal yang retak di kedalaman samudra. Di alam tak kasat mata, rantai emas astral yang menambatkannya pada mata air Ayek-Ayek terputus satu per satu dengan denting pilu yang menggetarkan fondasi gua.


---


Bagian V: Dialog Tajam di Ambang Dua Dimensi


Arganata selesai mengikat ujung kain perbannya. Nafasnya mulai sedikit lebih tenang, kendati warna bibirnya menyiratkan pucat dingin yang mencemaskan. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah wanita di seberang kolam air hangat. Di mata pemuda Ranupane itu, Baiza bukan sekadar keindahan mistis yang melayang di atas air, melainkan sebuah jiwa suci yang terluka oleh keabadiannya sendiri.


Langkah kaki Baiza kini terdengar berbunyi—sebuah tanda nyata bahwa berat tubuhnya mulai dihisap oleh gravitasi bumi. Ia mendekat perlahan, melangkahi bebatuan basah yang licin, lalu berhenti tepat dua jengkal di hadapan Arganata. Manik matanya yang bening bagai telaga kaca memantulkan bayangan pemuda itu dengan ketajaman yang menghunjam sanubari.


"Arganata..." suara Baiza mengalun bagai desau angin di antara celah pohon pinus, lembut namun sarat beban yang meremukkan. "Apakah engkau sanggup menerima seorang wanita yang tidak memiliki akta lahir di duniamu, yang dunianya adalah hembusan angin dan bisikan pinus?"


Pertanyaan itu meluncur tanpa keraguan, menelanjangi jurang pemisah yang maha luas antara dua dunia: dunia manusia fana yang dipenuhi catatan birokrasi sipil, kewajiban nafkah, gubuk reyot di kaki bukit, melawan keabadian sunyi di hutan cemara yang tak mengenal lapar dan dahaga.


Mendengar pertanyaan itu, Arganata tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun. Kendati rasa perih menyayat di rusuknya semakin liar menjalar ke rongga dada, pemuda itu menegakkan punggungnya. Sepasang matanya memancarkan keteduhan iman yang telah teruji oleh dinginnya badai Mahameru.


"Baiza, yang kucari bukanlah status di hadapan manusia, melainkan kesucian jiwa di hadapan Allah. Jika engkau memilih jalan fana ini, rumahku di desa adalah surgamu, dan zikirku adalah maharmu."


Kalimat itu meluncur dari bibir Arganata laksana janji suci di hadapan malaikat pencatat amal. Baiza menatap bibir pemuda itu, lalu menatap sorot matanya yang tak sedikit pun memuat dusta. Lima ratus tahun ia menanti seseorang yang memandangnya bukan sebagai objek keajaiban, melainkan sebagai hamba Allah yang berhak mencintai dan dicintai dalam naungan keimanan.


---


Bagian VI: Kuncup Emas Cempaka & Embun Penawar Jiwa


Mendengar ketulusan ikrar pemuda itu, sebuah tanggul emosi yang terbendung selama lima abad di dalam dada Baiza akhirnya runtuh seketika. Air mata pertama seorang wanita fana menyeruak dari pelupuk matanya yang jernih, mengalir melewati pipinya yang halus, lalu menetes jatuh ke bawah.


Air mata Baiza menetes di atas kuncup cempaka kuning yang digenggamnya. Kuncup itu merekah perlahan, mengeluarkan bulir-bulir embun emas yang berkilau di kegelapan gua. 'Ini embun penawar untuk ibumu, Arga,' bisiknya lirih. Namun di luar, gemuruh Mahameru mengabarkan bahwa takdir penyerahan diri mereka harus ditebus di tengah kobaran abu vulkanik... yang siap mengubur sisa-sisa napas mereka dalam kesunyian abadi.


Tetesan air mata itu bukan sekadar cairan biasa; itu adalah pengorbanan tertinggi, pelepasan sari pati keabadian yang selama lima ratus tahun ia pelihara. Begitu air mata itu membasahi mahkota kuncup cempaka kuning, bunga pusaka itu bergetar halus. Kelopak demi kelopaknya yang tebal membuka dalam simfoni cahaya kuning tembaga yang menghangatkan seisi ceruk batu.


Dari dasar putik bunganya, tiga bulir embun berwarna emas murni berkumpul, memancarkan aroma wangi yang seketika melenyapkan bau mesiu dan amis darah di dalam gua. Embun itu bersinar laksana bintang fajar yang jatuh ke telapak tangan.


Dengan tangan yang gemetar karena rasa dingin manusiawi mulai merambati jemarinya, Baiza mengalirkan bulir-bulir embun emas itu ke dalam botol kaca kecil berbalut sulaman tembaga yang disodorkan Arganata. "Minumkan embun ini pada Ibumu setibanya engkau di Ranupane, Arga. Ini adalah getah kehidupan Mahameru yang akan menyucikan racun gaib di tubuhnya."


Ketika jemari Arganata menyentuh tangan Baiza untuk menerima botol itu, keduanya merasakan kejutan listrik tak kasat mata. Kulit Baiza terasa hangat oleh darah yang mulai berdenyut di nadinya. Detak jantung pertamanya berdentang di rongga dadanya—cepat, gugup, dan rapuh. Namun di saat yang sama, rasa pening dan kelelahan fisik langsung menindih pundaknya. Itulah harga mutlak dari kefanaan.


---


Bagian VII: Amukan Mahameru: Guncangan 5,2 Skala Richter


Belum sempat Arganata mengencangkan sumbat gabus botol kaca itu, dasar Gua Ayek-Ayek mendadak diguncang oleh sentakan tektonik yang luar biasa dahsyat.


BRAAANGGG! DUMMMM!


Getaran gempa bumi berkekuatan 5,2 skala richter menghentak dinding gua, menuntun mereka pada ujian puncak pengorbanan di lereng Mahameru. Dinding batu basalt yang kokoh berderak retak seolah dihantam martil dewa dari perut bumi. Stalaktit-stalaktit raksasa yang menggantung selama ratusan tahun di langit-langit gua patah, berjatuhan menghantam kolam air hangat dan memercikkan gelombang uap mendidih.


Batu-batu lepas berjatuhan di sekitar mereka. Debu belerang bercampur abu vulkanik abu-abu menyembur masuk melalui celah-celah dinding gua yang merekah, menelan wangi cempaka dalam sekejap dengan bau belerang yang mencekik tenggorokan.


Di langit di atas puncak Mahameru, gumpalan asap hitam tebal berbentuk payung raksasa mulai membubung tinggi, menandakan erupsi besar sedang bersiap meletus.


Awan piroklastik—sang 'wedhus gembel' yang ditakuti seluruh penghuni lereng Semeru—telah meledak dari kawah Jonggring Saloko. Gulungan awan abu panas bersuhu lebih dari enam ratus derajat Celsius itu bergulung-gulung menuruni lembah Besuk Kobokan dengan kecepatan lebih dari seratus kilometer per jam. Punggungan Ayek-Ayek, yang kini kehilangan perisai gaib Baiza, berada tepat di jalur hembusan gelombang kejut letusan tersebut.


"Segelnya telah hancur!" Baiza berseru, tubuhnya limbung saat lantai gua kembali terangkat oleh gempa susulan. "Keputusanku menjadi manusia telah melepaskan pasak gaib Jonggring Saloko! Mahameru menuntut keseimbangannya kembali!"


"Gua ini akan runtuh dalam hitungan menit, Baiza! Kita harus keluar sekarang!" Arganata menyambar pergelangan tangan Baiza, menariknya menjauh dari stalaktit yang menghujam tepat di tempat wanita itu berdiri sedetik sebelumnya.


---


Bagian VIII: Pelarian Menembus Awan Kelabu & Hujan Pasir


Mereka menerobos keluar dari rongga gua, menyibak tirai akar cantigi yang terbakar oleh hawa panas letusan. Begitu kaki mereka menginjak punggungan terbuka di ketinggian 2.800 mdpl, pemandangan neraka vulkanik terhampar di depan mata.

Lihat selengkapnya