BAB 22: GEMPA KALIMATI DAN LANGIT YANG TERBELAH
Babak IV: Badai Semeru & Penebusan Sumpah 500 Tahun
Lokasi: Kalimati menuju Arcopodo (2.700 mdpl)
==================================================
## I. Siang yang Dirampok Malam: Kalimati 2.700 mdpl
(Pukul 13.15 WIB — Sabana Kalimati (2.700 mdpl))
Tidak ada fajar kedua yang pernah sepucat siang itu di punggungan Semeru. Pukul satu lewat lima belas menit, matahari yang seharusnya bertakhta di ubun-ubun langit mendadak tercekik oleh dinding jelaga kelabu setinggi delapan ribu meter. Udara tidak sekadar dingin; ia mengering dan menghanguskan pangkal lidah dalam sekejap. Dari kawah Jonggring Saloko yang berjarak kurang dari tiga kilometer di atas kepala mereka, suara raungan purba bergulir seperti seribu lokomotif baja yang anjlok ke jurang jurang tanpa dasar.
Langit siang yang tadinya biru jernih seketika mati kutu, berganti menjadi kanvas kelam gulita laksana malam jahanam. Gumpalan awan abu vulkanik pekat—pyroclastic cloud yang oleh orang-orang Tengger disebut wedhus gembel—bergulung-gulung dalam kerapatan yang mengerikan. Awan itu bukan kabut biasa; ia adalah raksasa gas bersuhu ratusan derajat Celsius yang menelan cahaya, memuntahkan hawa belerang yang menusuk lambung, dan membawa petaka kehancuran.
Hujan pasir kasar mulai mendesing-desing menghantam kanvas tenda-tenda yang telah rubuh di sabana Kalimati. Setiap butirnya seperti peluru ketapel yang ditembakkan dari kegelapan. Kerikil panas seukuran kepalan tangan balita berjatuhan di hamparan rumput edelweis yang layu terpanggang dalam hitungan detik. Bau busuk belerang pekat bercampur ozon terik menjejalkan rasa mual ke dalam kerongkongan setiap insan yang masih bernapas di lembah sunyi itu.
Di tengah kegelapan pekat yang hanya diiris oleh lidah-lidah api dari puncak, kilatan petir vulkanik berwarna ungu keperakan menyambar-nyambar liar di dalam perut awan abu. Cahayanya yang dingin dan mengerikan memantul pada mata empat belas pendaki yang bergelung di balik ceruk bebatuan. Tubuh mereka gemetar hebat bukan hanya karena hawa beku 2.700 meter di atas permukaan laut yang mendadak terkoyak oleh gelombang panas abnormal, tetapi karena mereka sadar: pintu pulang ke dunia bawah sedang ditutup selapis demi selapis oleh penguasa gunung.
## II. Bayang-Bayang Kobokan 2021 dan Sumpah Fardhan Nazhiran
(Pukul 13.28 WIB — Batas Shelter Darurat Kalimati)
Fardhan Nazhiran mengusap kasar masker respirator yang telah tersumbat serbuk pasir abu-abu. Wajah pria bertubuh tegap itu telah belepotan lumpur abu dan keringat yang mengental seperti aspal. Namun, di balik kacamata pelindungnya yang tergores kerikil, sorot matanya tidak menunjukkan secuil pun kepanikan. Ada ketenangan yang mengerikan pada diri Fardhan—ketenangan seorang prajurit yang telah berulang kali mencium aroma maut di lereng-lereng paling angker di Nusantara.
“Tutup rapat rongga leher jaket kalian! Jangan lepaskan kacamata apa pun yang terjadi! Jika kerikil mengenai kulit, jangan digosok—kalian hanya akan mengelupas daging sendiri!” teriak Fardhan melalui megafon portabel yang suaranya timbul tenggelam di antara gelegar magma.
Namun jauh di dasar rongga dadanya, jantung Fardhan berdegup dengan ritme yang menyakitkan. Sebuah kenangan hitam dari empat tahun silam mendadak menyeruak tanpa ampun ke pelupuk matanya. Tanggal 4 Desember 2021. Hari ketika langit Curah Kobokan runtuh dan Jembatan Gladak Perak terputus seperti biskuit kering yang dipatahkan tangan raksasa.
Fardhan mengingat dengan kejernihan yang menyayat hati: bagaimana ia menggali timbunan pasir setinggi atap rumah dengan tangan telanjang, mencari suara rintihan rekan sesama relawan yang akhirnya terbujur kaku dengan paru-paru penuh abu semen vulkanik. Ia mengingat tatapan kosong seorang ibu di Pronojiwo yang kehilangan ketiga anaknya dalam selang waktu sepuluh menit akibat lahar dingin yang meluap tanpa peringatan. Bau daging terbakar dan jeritan pilu ternak di Supiturang belum pernah benar-benar pergi dari mimpi buruknya.
‘Demi Allah,’ bisik Fardhan di balik giginya yang bergemeletuk menahan getaran tanah, ‘kali ini tidak boleh ada yang tertinggal. Tidak satu nyawa pun boleh menjadi tumbal di atas batas dua ribu tujuh ratus meter ini. Jika harus ada yang dikubur abu Mahameru, biarlah aku yang terakhir berdiri di gerbangnya.’
Kenyataan pahit itu segera diuji ketika radio komunikasi dua arah di pundak Fardhan memekik liar di sela-sela desis statis gelombang elektromagnetik vulkanik: *“Krosok... Pos Ranu Pani memanggil Kalimati! Mas Fardhan! Laporan dari tim bawah... lereng Tanjakan Cinta longsor hebat akibat gempa vulkanik berkekuatan enam koma dua magnitudo! Tebing barat runtuh menimbun jalur pos tiga sampai ke tepi Ranu Kumbolo! Jalur evakuasi utama terputus total! Kalian tidak bisa turun lewat jalur biasa! Ulangi, kalian terjepit!”*
## III. Selawat Thibil Qulub dan Pergolakan Batin Arganata
(Pukul 13.37 WIB — Lereng Pasir Menuju Arcopodo)
Arganata mendengar transmisi radio itu, dan untuk sesaat, ruang hampa yang dingin merayap ke seluruh aliran darahnya. Jalur turun tertutup. Di hadapan mereka terbentang sabana Kalimati yang sedang dihujani kerikil panas berjarak pandang kurang dari tiga meter, sementara di punggung mereka, puncak Semeru sedang memuntahkan jutaan ton material piroklastik yang siap menghempas lembah.
Ketakutan manusiawi mencengkeram Arganata dengan kuku-kuku yang tajam. Ia teringat ibunya di Malang yang sedang menyalakan lampu minyak di serambi rumah, teringat senyum adiknya yang memintanya membawakan batu kerikil puncak Mahameru sebagai oleh-oleh kelulusan. Apakah langkah kakinya akan berhenti di sini, terkubur di bawah lapisan tefrit purba tanpa ada nisan yang menandai kuburnya?
Namun, kepanikan adalah pintu gerbang kematian di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Arganata memejamkan mata sejenak di tengah badai pasir yang mendera wajahnya. Ia menarik napas sedalam-dalamnya—meski udara terasa membakar trakea—dan menenggelamkan kesadarannya ke dalam ruang terdalam jiwanya. Ia menolak untuk menyerah pada teror kosmik ini.
Bibirnya yang pecah-pecah mulai bergerak perlahan, melafalkan untaian kalimat yang telah mendarah daging dalam silsilah keluarganya selama berabad-abad:
“Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wa dawaa-iha, wa ‘aafiyatil abdaani wa syifaa-iha, wa nuuril abshaari wa dhiyaa-iha, wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wa sallim...”
Arganata melantunkannya bukan sekadar sebagai doa hafalan, melainkan sebagai benteng eksistensial. Di dalam benaknya, ia mengadu kepada Sang Khaliq yang menggenggam semesta:
‘Ya Allah, Rabb yang menitahkan api menjadi dingin bagi kekasih-Mu Ibrahim, selamatkanlah hamba-hamba-Mu yang lemah dan hina ini. Jangan biarkan ketakutan membutakan akal kami. Jadikanlah abu panas ini dingin dan penyelamat bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari jalan pulang. Jika dosa-dosa kami yang mengundang amarah bumi ini, timpakanlah hisabnya kepadaku, namun luaskanlah rahmat-Mu bagi mereka yang tak berdaya di belakangku.’
Ajaibnya, seiring selawat itu bergaung dari bibirnya, frekuensi ketakutan yang menggedor dadanya mereda, berganti dengan keheningan batin yang luar biasa jernih. Tangannya yang semula gemetar kini kokoh mencengkeram tali karmantel pengaman. Ia menoleh ke arah Fardhan yang sedang menatap peta topografi yang basah oleh abu.
“Mas Fardhan!” suara Arganata memotong desing angin dengan ketegasan yang tak biasa. “Jalur Ranupani memang tertutup, tapi ada ceruk gua kapur tua di dinding tebing barat Arcopodo! Ketinggiannya berada di atas alur luncuran awan panas Besuk Kobokan. Jika kita bisa membawa para pendaki berlindung di sana sebelum kubah lava runtuh seutuhnya, kita punya peluang bertahan sampai tim SAR udara menemukan kita!”
## IV. Sumpah 500 Tahun dan Sentuhan Gaib Baiza
(Pukul 13.46 WIB — Ambang Vegetasi Cemara Kering (2.650 mdpl))