BAB 23: ARCOPODO: DUA ARCA YANG MENJADI SAKSI
Babak IV: Badai Semeru & Penebusan Sumpah 500 Tahun
## I. Ambang Batas Vegetasi & Runtuhnya Pasir Hitam
Kematian Cemara Terakhir di Kaki Pasir Tegak Mahameru (2.890 mdpl)
Di sini, di ketinggian dua ribu delapan ratus sembilan puluh meter dari permukaan laut, kehidupan menyerah tanpa syarat. Pohon-pohon cemara gunung—Casuarina junghuhniana—yang berjejer compang-camping di punggungan bawah, mendadak terputus tepat di tubir tebing sempit ini, bagai barisan serdadu kuno yang tumpas sebelum sempat mencabut keris dari sarungnya. Batang-batangnya yang terpuntir ganas oleh pusaran angin ratusan tahun kini tak lebih dari siluet arang kering yang meranggas, cabang-cabangnya patah terpanggang uap belerang. Di atas batas vegetasi ini, lumut kerak pun enggan menempel pada bebatuan andesit yang legam membara. Yang tersisa hanyalah kebisuan angkuh pasir tegak Mahameru: hamparan jelaga, batu apung, dan kerikil obsidian hitam pekat dengan kemiringan nyaris enam puluh derajat, menjulang pongah bagai dinding neraka menuju bibir kawah Jonggring Saloka yang terus mendidih tanpa jeda.
Angin badai tidak lagi berhembus seperti udara dingin pegunungan tropis biasa; ia menyalak buas layaknya ribuan bilah tembaga membara yang ditempa serempak di bengkel pandai besi kahyangan. Setiap kepakan angin membawa serpihan pasir lapilli dan debu silika tajam berukuran mikroskopis yang menyayat permukaan kulit pelindung, mengikis serat jaket tahan badai Arganata hingga benang-benangnya terkelupas helai demi helai. Namun, yang paling mematikan bagi kesadaran bukanlah tajamnya kerikil yang beterbangan, melainkan bau hidrogen sulfida pekat—belerang tengik dan memabukkan yang mengendap kental di dinding rongga tenggorokan. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan segenggam serbuk pecahan kaca yang baru saja diangkat dari perapian. Paru-paru Arganata menjerit, rusuknya serasa dihimpit lempengan timah, dan keringat dingin di balik pakaian gunungnya telah membeku menjadi lapisan kerak garam tajam yang menusuk pori-pori.
Lalu, tepat di bibir punggungan yang sempit dan genting itu, berdirilah dua saksi bisu peradaban Nusantara yang tersisih. Arcopodo. Dua arca prajurit era Majapahit yang dipahat dari batu kali andesit berabad-abad lampau. Keduanya duduk bersila dengan sikap anjali mudra yang terkoyak oleh erosi zaman, tanpa kepala, setengah badannya terkubur dalam desau pasir vulkanik yang terus mengalir deras menuruni jurang bagaikan air terjun hitam yang tak pernah berkesudahan. Legenda para sesepuh dukun Tengger dan pendaki tua Lumajang mengatakan bahwa sepasang arca ini hanya dapat disaksikan oleh mereka yang memiliki mata batin sebersih embun fajar, atau oleh jiwa-jiwa malang yang langkah takdirnya telah digariskan untuk gugur di pelataran puncak Mahameru.
Gemuruh dari perut bumi kian menggelegar, merambat liar melalui batuan dasar hingga mengguncang sendi-sendi tulang belulang Arganata. Getaran infrasonik itu meremas isi perutnya, membangkitkan rasa ngeri eksistensial yang purba—ketakutan hewani manusia di hadapan kekuatan tak terbendung dari perut bumi. Langit senja yang semestinya basah oleh semburat lembayung telah terbunuh oleh jelaga tebal yang membubung belasan kilometer ke stratosfer, memayungi Jawa Timur dengan tudung perkabungan abu-abu. Semeru tidak sedang sekadar batuk; gunung suci para dewa ini sedang memuntahkan seluruh amarah, dendam, dan kepedihan yang telah dipendam selama lima ratus tahun semenjak runtuhnya tatanan Wilwatikta. Di sela-sela dentuman itu, Arganata terpelanting ke samping. Bahunya menghantam pinggul batu andesit arca sebelah barat tatkala sebuah lontaran bom vulkanik sebesar tempurung kerbau mendesing melintasi udara tepat beberapa jengkal di atas kepalanya. Batu pijar itu jatuh meledak di tubir lereng timur dengan kepulan api merah saga, menyemburkan desis uap beracun yang seketika meluluhkan bebatuan di sekitarnya.
---
## II. Metamorfosis Menjadi Fana: Darah yang Menghangat
Runtuhnya Keabadian Bangsa Halimun Demi Nyawa yang Dicintai (2.900 mdpl)
Namun, Arganata tidak terhempas ke dasar jurang sendirian. Di punggungnya, ada perisai yang kasat mata hanya bagi nuraninya yang terdalam. Baiza Sabilah merapatkan dadanya yang bergetar ke punggung pemuda itu. Rambut panjang Baiza yang biasanya berkilau halus laksana serat perak di bawah sinar purnama, kini ternoda oleh jelaga hitam dan debu piroklastik, terurai liar diterpa pusaran siklon yang berputar di sekeliling Arcopodo. Telapak tangan gadis dari dimensi halus itu bertumpu teguh pada pundak Arganata. Bibirnya yang pucat terus merapalkan mantra purba dalam bahasa Kawi yang bergaung liris di udara, membentuk kubah pendar kebiruan yang membelokkan hujan kerikil panas yang menghujam dari angkasa.
Akan tetapi, hukum alam semesta menolak untuk dilanggar tanpa tebusan. Setiap kali benturan bongkahan batu andesit berpijar menghantam perisai gaib itu, tubuh Baiza bergetar hebat bagai kaca tipis yang diguncang guntur. Retakan-retakan halus yang memancarkan pendar keemasan mulai menjalar di sepanjang pergelangan tangannya yang semula sehalus pualam awan. Gadis penunggu ranu dan kabut suci Semeru itu terbatuk parau. Dan saat tangannya yang gemetar menangkup mulutnya sendiri, apa yang menetes di sela jemarinya bukanlah embun dingin atau percikan air raksa sebagaimana kodrat bangsa dedemit Mahameru.
Yang mengalir turun membasahi jaket oranye Arganata adalah cairan kental berwarna merah marun, hangat, lengket, dan menebarkan aroma anyir zat besi yang menusuk hidung.
Darah manusia. Darah makhluk yang fana. Darah dari sebuah tubuh biologis yang detak hidupnya dapat dipadamkan oleh sebutir kerikil atau sebilah belati.
Baiza terpaku menatap jemarinya sendiri. Manik matanya yang sewarna kedalaman telaga Ranu Kumbolo di waktu fajar membelalak dalam keterkejutan yang berbaur dengan kepiluan tak terperi. 'Tubuhku... mengapa terasa begitu berat?' gumam Baiza dalam dialog batin yang berdengung bagai senar kecapi patah di lubuk kesadaran Arganata. 'Kaki-kakiku tidak lagi melayang bebas di atas butir pasir; telapak kakiku kini menekan kerikil tajam dan kurasakan sakitnya menusuk hingga ke urat nadi. Oksigen beracun ini membakar paru-paruku, debu silika ini merobek kerongkonganku. Darahku... darahku mulai mengalir hangat seperti darah anak Adam. Inikah rasa fana? Rasa sakit yang begitu nyata, begitu mengerikan merenggut sendi-sendi keabadian yang kupelihara selama beratus-ratus tahun... namun mengapa di saat bersamaan ia terasa begitu agung dan indah? Karena untuk pertama kalinya, rasa sakit fana ini tidak kurasakan sendirian dalam keabadian yang dingin dan sepi, melainkan di samping kekasih halal yang kupilih dengan segenap sumpah jiwaku?'
Arganata menoleh ke belakang dengan sisa kekuatannya, dan pemandangan di hadapannya meremukkan seluruh keangkuhan maskulinnya lebih parah daripada hantaman batu gunung. Pendar tembus pandang yang selama ini menyelimuti siluet Baiza kian memudar drastis. Tubuh gadis itu tidak lagi luruh menjadi halimun ketika diterpa hempasan angin kencang; ia telah memadat menjadi daging manusia yang pucat pasi, rentan, dan menggigil kedinginan di tengah terpaan badai bersuhu minus lima derajat Celsius. Keabadian yang disandangnya selama lima abad perlahan-lahan runtuh, luluh lantak oleh keputusannya sendiri yang menolak kembali ke gerbang suci kahyangan Semeru demi tetap menjadi payung bagi Arganata di lereng pasir maut ini.
'Baiza, demi Tuhan, hentikan!' jerit Arganata. Suaranya parau, tercekat oleh air mata yang bercampur abu vulkanik. Pemuda itu membalikkan tubuhnya dengan panik, merengkuh bahu Baiza yang kini terasa rapuh laksana ranting cemara kering. 'Kembalilah ke balik kabut! Tarik kembali sukmamu ke dimensi bangsamu sebelum gerbang puncak tertutup selamanya! Tubuhmu sedang runtuh, Baiza! Jika engkau tetap bertahan di alam kasar ini saat Semeru menumpahkan lahar puncaknya, engkau akan mati sebagai manusia biasa! Engkau tidak akan pernah bisa kembali lagi ke keabadianmu! Engkau akan musnah berkalang debu fana!'
---